Followers

Monday, August 23, 2010

Ikhwan Mencari Cinta (part 3) - cerpen

“Sudah siap Mad?”, tanya ibu sambil memperhatikanku yang sedang sibuk merapikan baju dan menyisir rambut di depan cermin.

“InsyaAllah…, ibu yakin sudah siap menerima Laila menjadi menantu ibu?”, aku balik tanya ke ibu.

“Kalau Laila benar seperti yang kamu ceritakan, ibu akan sangat senang punya menantu seperti dia. Perangainya baik dan halus, faham agama, kulitnya juga putih bersih, meskipun kalau ibu lihat di fotonya tidak secantik Dina putrinya bu Joko yang pernah ibu ceritakan padamu dulu.”

“Kecantikan wajah tidak akan bertahan lama ibu, yang penting kan cantik hatinya. Dina memang cantik, tapi saya sering melihat dia diboncengkan dengan temennya laki-laki. Apa ibu rela kalau punya menantu yang sering di boncengkan sama laki-laki yang bukan mahramnya?” Aku mencoba meyakinkan ibu.

“Kamu kok sepertinya yakin sekali dengan Laila, padahal kamu juga baru saja kenal. Katanya kamu masih khawatir ditolak lagi seperti kemarin waktu kamu dikenalkan dengan Rita”, ibu sempat menyinggung peristiwa sebulan yang lalu. Memang saat itu aku belum sampai melamar Rita. Biodata dan cerita tentangku saja yang sampai ke orangtuanya. Tapi aku sempat minder dan berfikir untuk tidak merencanakan menikah kecuali kalau aku sudah lulus. Untungnya beberapa hari setelah itu, ustadz Sholihin secara rutin memberikan tausyah kepadaku. Kemudian dua pekan setelah kejadian itu, aku diberikan biodata akhwat yang lain oleh ustadz Sholihin. Laila inilah orangnya, yang sebentar lagi aku akan pergi bersama ustadz Sholihin untuk menyampaikan lamaran pada orang tuanya.

“Ahmad kan sudah proses ta’aruf tiga kali bu, selama proses itu kami saling bertanya dan mengenal satu sama lain. Di luar itu Ahmad juga sudah minta mencarikan informasi lewat ustadz Sholihin. Kata ustadz Sholihin, setiap orang yang mengenal Laila mengatakan bahwa dia itu muslimah yang baik. Kalau masalah diterima tidaknya lamaranku, aku sudah berkali-kali diberikan pencerahan oleh ustadz Sholihin. Kita serahkan saja semuanya kepada Allah Yang Maha Kuasa”

“Baiklah kalau begitu, sekarang ini sudah jam setengah empat. Katanya kamu janjian sama ustadz Sholihin jam empat mau berangkat dari rumah beliau.”

“Iya bu, Ahmad pamit dulu ya. Mohon do’anya, semoga orang tua Laila berkenan menerima lamaran Ahmad. Assalamu’alaykum…” aku pamit sambil mencium tangan ibu.

“Wa’alaykumsalam.. hati-hati di jalan ya…”

Ikhwan Mencari Cinta (part 2) - cerpen

Tepat dua pekan sejak aku menerima biodata Rita dari ustadz Sholihin. Sudah berkali-kali aku melakukan sholat istihkoroh untuk minta petunjuk kepada Allah tapi mengapa seperti belum ada kemantapan dalam hatiku untuk melanjutkan proses ta’aruf dengan Rita. Sebenarnya kalau dilihat dari biodata yang aku terima, tidak ada satupun alasan untuk aku tidak menerima Rita. Awalnya ketika ustadz Sholihin memberikan biodata Rita padaku di rumah beliau dulu, aku sempat mengira barangkali ada yang kurang dari Rita sehingga Ustadz Sholihin memberikan nasihat panjang lebar kepadaku supaya aku lebih mempertimbangkan sisi agamanya. Tetapi ternyata setelah aku sampai rumah dan membuka biodata itu, subhanallah, seperti aku katakan tadi tidak ada alasan bagi siapapun laki-laki untuk tidak menerima Rita. Justru bisa jadi sebaliknya, dia yang mungkin tidak akan bersedia menerimaku. Wajahnya cantik, pakaian dan jilbabnya rapi, dia juga sudah bekerja sebagai guru di sekolah ternama di kota ini. Usianya satu tahun lebih muda dariku tapi dia lulus kuliah lebih cepat. Dia lulus tiga setengah tahun dan setelah itu langsung di terima mengajar di SMA almamaternya dulu karena kecerdasannya.
Meskipun belum sepenuhnya mantap, aku paksakan untuk meminta kepada ustadz Sholihin supaya beliau mempertemukanku dengan Rita. Aku merasa sudah terlalu lama tidak segera memberikan kepastian kepada ustadz Sholihin.

*****

Tiga pekan setelah proses ta'aruf, aku di minta untuk kerumah ustadz Sholihin. Beberapa kali bertemu dalam proses ta’aruf, Aku dan Rita merasa sudah bisa saling menerima satu dengan yang lain. Mungkin ada berita terbaru yang akan disampaikan ustadz Sholihin kepadaku

“Sebelumnya maaf Mad, aku harus menyampaikan pesan dari Rita. Bapaknya mensyaratkan supaya laki-laki yang akan menikahi anaknya haruslah seorang yang sudah punya pekerjaan yang mapan.” Ternyata malam ini ustadz Sholihin meminta aku ke rumah beliau karena ingin menyampaikan pesan dari Rita ini.

“Berarti bapaknya Rita tidak menerima lamaranku ya ustadz?” aku ingin coba memastikan apa yang aku dengar.

“Tenang saja, kamu harusnya bersyukur karena belum jadi melamar ke rumahnya. Rita baru menceritakan kepada bapaknya bahwa ada seorang laki-laki yang mau melamarnya. Setelah Rita menceritakan panjang lebar tentangmu, ternyata bapaknya belum bisa menerima karena kamu belum lulus dan belum mempunyai pekerjaan yang benar-benar mapan.” Ustadz Sholihin berhenti sejenak dan memintaku minum teh yang baru saja dihidangkan oleh istri beliau. Meskipun selera makan dan minumku hilang setelah mendengar cerita beliau tadi, tapi aku paksakan minum sedikit teh yang sudah dihadangkan untuk menghormati beliau. Beberapa saat setelah istri ustadz Sholihin masuk, beliau kemudian melanjutkan ceritanya.

“Rita bilang kepadaku kalau dia sudah berusaha untuk meyakinkan bapaknya bahwa sebentar lagi skripsimu akan selesai, dia juga sudah bilang kalau meskipun belum mapan tapi penghasilanmu saat ini sudah cukup untuk sekedar hidup berdua dengannya. Ibunya Rita sebenarnya juga tidak terlalu keberatan kalau kamu menikahi putrinya, tapi bapaknya tetap besikukuh supaya Rita menikah dengan seorang yang sudah mapan. Bapaknya akan lebih senang lagi kalau menantunya adalah seorang pegawai negeri. Wajar sajalah karena bapaknya Rita kan seorang pejabat di kantor pemda.”

“Terus bagaimana ustadz?” aku bingung mau bilang apa, hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulutku.

Ustadz Sholihin tersenyum kecil kemudian berkata lagi kepadaku,
“Ahmad…., Allah Lebih Tahu siapa yang pantas untuk menjadi istrimu dan siapa yang pantas untuk menjadi suami bagi Rita. Mungkin saja Rita memang belum jodohmu, kamu kan sudah sholat istikhoroh minta petunjuk yang terbaik kepada Allah. InsyaAllah ada wanita yang lebih baik yang telah disediakan Allah untukmu.”

“Apa saya menunggu setelah wisuda saja ya ustadz? Saya khawatir akan ditolak untuk kedua kalinya kalau mau melamar akhwat yang lain sebelum lulus.”

“Kamu ini kok malah jadi putus asa begitu. Allah tidak menyukai hamba-hambaNya yang berputus asa dari rahmatNya. Kamu kan bilang kalau kamu sudah siap lahir dan batin, kedua orangtuamu juga sudah mendukungmu. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah tetap ikhtiar dan berdoa kepada Allah supaya Allah mendekatkan jodohmu. Anggaplah semua kejadian yang telah kita alami ini pelajaran hidup yang berharga yang diberikan Allah untuk kita.”, ustadz Sholihin mencoba meyakinkanku.

“Baiklah ustadz, terima kasih atas semua nasihat ustadz. Saya mohon bimbingan terus dari ustadz.”

“InsyaAllah… Kamu sabar ya, semoga tidak lama lagi aku bisa memberikan biodata akhwat yang lain kepadamu.”

Friday, August 20, 2010

Ikhwan Mencari Cinta (part 1) - cerpen

Malam ini adalah saat yang sudah aku tunggu-tunggu. Aku segera pergi ke rumah Ustadz Sholihin setelah sholat isya’. Ustadz Sholihin berjanji akan memberikan biodata akhwat yang akan diperkenalkan denganku setelah dua pekan yang lalu aku menyerahkan biodataku kepada beliau untuk dicarikan akhwat yang menurut beliau cocok untuk menjadi pendamping hidupku. Sesampai rumah ustadz Sholihin, beliau sendiri yang menjawab salamku kemudian membukakan pintu.

“Oh Ahmad tho, malam ini kelihatan tampan sekali kamu. Mari silahkan duduk, aku sudah menunggumu sejak ba’da isya’ tadi.” Setelah mempersilahkan duduk, beliau ijin masuk kedalam sebentar.

Aku tidak tahu apakah pujian yang disampaikan beliau barusan adalah yang sejujurnya ataukah hanya untuk menyenangkan hatiku. Mungkin saja beliau ingin mendapat pahala dengan menyenangkan hati orang lain. Tapi bagiku itu tidak penting, yang terpenting adalah aku segera mendapat biodata akhwat yang sudah beliau janjikan untukku. Siapa kiranya gerangan akhwat yang telah dijodohkan oleh Allah untuk menjadi pendamping hidupku. Apakah dia akhwat yang sesuai dengan kriteria yang aku harapkan ataukah tidak. Pertanyaan-pertanyaan itu yang melayang dalam benak fikiranku.

Tidak lama kemudian ustadz Sholihin keluar membawa sebuah amplop agak besar. Aku sangat yakin amplop yang dibawa beliau itu berisi biodata akhwat yang telah beliau janjikan. Sepertinya ustadz Sholihin tahu kecemasan dalam fikiranku.
”Ini Mad, biodata akhwat yang telah aku janjikan padamu.”

Beliau menyerahkan amplop itu kepadaku sambil duduk di kursi sebelahku. Beliau memegang pundakku, kemudian berpesan,
“Kamu baca saja biodatanya nanti dirumah. Silakan kamu sholat istikhoroh, minta petunjuk kepada Allah. Seandainya akhwat ini yang telah dipilihkan Allah untuk kebaikan dunia dan akhiratmu, semoga Allah memberikan kemantapan dalam hatimu. Pesanku, janganlah kamu mendahulukan pertimbangan-pertimbangan duniawi karena semua yang ada di dunia ini akan rusak. Wajah yang cantik rupawan, suatu saat juga akan keriput termakan usia. Harta dan pekerjaan, sangat mudah bagi Allah untuk mengambilnya setiap saat. Tidak jarang harta dan pekerjaan justru melalaikan manusia dari beribadah kepada Allah. Adapun nasab keluarga, setiap orang tidak mempunyai kekuasaan untuk memilih lahir dari rahim wanita yang dia kehendaki. Yang terpenting adalah apa yang telah dia perbuat setelah kelahirannya untuk mempersiapkan akhir hidupnya. Rasulullah memang pernah menyampaikan seorang wanita dipilih karena beberapa hal tersebut. Tapi terakhir beliau menyampaikan, pilihlah olehmu seorang wanita karena agamanya. Karena agama yang baik dari seorang istri akan menyelamatkanmu di dunia dan di akhirat.”

“Terima kasih ustadz, insyaAllah akan saya laksanakan nasehat ustadz. Kalau begitu saya mohon pamit dulu ustadz.”

“Baiklah, hati-hati dijalan ya. Titip salam buat ibu dan bapak di rumah.”

“InsyaAllah ustadz, Assalamu’alaykum…”

“Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarokatuh..”

Tuesday, July 06, 2010

KAMI TUNGGU ANDA MENOLONG ISLAM

Sekarang, kami tunggu aktivis Islam, terutama generasi muda, menolong Islam dan umatnya. Kami tungu peran mereka seperti peran Abu Bakar saat memerangi orang-orang murtad, peran Khalid bin Walid di perang Yarmuk, peran Sa’ad bin Abu Waqash di perang Al qadisiyah, peran Shalahuddin Al Ayyubi di perng Hiththin, pern Qataz di perang Ain Jalut, peran Muhammad Al Fatih di Konstantinopel, dan peran Sulaiman Al-Halbi saat menyerang Cliber.

Kami ingin bahagia, kendati sejenak sebelum meninggal dunia, melihat Khilafah Islamiyah dan menyaksikan benderanya berkibar di timur dan barat. Juga memandang naungannya yang rimbun menyebarkan keadilan, kebenaran, sinar, dan petunjuk, ke dunia. Kami tunggu hari itu, dimana khalifah kaum Muslimin memandang awan, lalu berkata kepadanya, ”Wahai awan, pergilah ke timur dan barat, niscaya pajaknya akan sampai ke tangan saya.” Khalifah berkata benar dan dulu wilayah Islam memang membentang ke timur dan barat, hingga mencapai wilayah paling barat dan timur, serta kekuasaan khalifah mencakupsemua wilayah, lalu daerah-daerah tersebut mendapatkan kebaikan, petunjuk, dan sinar.

Kita amat rindu datangnya hari Allah Ta’ala menaklukkan Roma, sentral kristen di dunia, yang dulu diprediksikan Rasulullah SAW akan ditaklukkan setelah Konstantinopel(diriwayatkan Ahmad). Konstatinopl ”Istambul” sudah ditaklukkan Allah Ta’ala, melalui sultan agung Muhammad Al-Fatih, yang dipuji hadits,
”Konstantinopel akan ditaklukkan. Komandan perang paling baik adalah komandan perang konstantinopel dan pasukan terbaik ialah pasukannya.” (diriwayatkan Ahmad)

Ketika itu Muhammad Al-Fatih sudah mempersiapkan diri untuk menaklukkan Romawi, setelah sukses menaklukkan Konstantinopel. Hal iitu membuat pasukan Romawi cemas dan ketakutan. Muhammad Al-Fatih tidak puas sebelum merealisasikan preoyek besar ini. Bukti ketakutan Eropa dan kecemasan mereka ialah gereja-gereja Eropa secara umum dan roma secara khusus tidak henti-hentinya membunyikan lonceng selama tiga hari berturut-turut, sebagai bentuk ungkapan rsas suka cita mereka atas meninggalnya Muhammad Al-Fatih. Kita tunggu hari seperti itu, kendati lebih panas dari bara api. Kemenangan Islam itu puncak harapan seseorang di dunia. Sekarang, kita merasakan kebaian dunia yang disebutkan di ayat,
”Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat."
(Al-Baqarah:201).

Itu bukan istri shalihah, namun menolong Islam, seperti dikatakan sebagian ulama. Sungguh mulia kebaikan itu! Kebaikan seperti itu menghilangkan kegalauan dan kesedihan, kendati seseorang harus kehilangan keluarga, anak, harta, dan jabatan, demi merealisasikannya. Kita lebih rindu hari Allah Ta’ala menolong agama-Nya, lalu Dia memuliakan wali-wali-Nya, daripada kerinduan kita kepada istri, anak, ayah, dan ibu, yang kita tinggalkan bertahun-tahun.

Kita merindukan hari seperti hari Uqbah bin Nafi’ mencebur ke Samudera Atlantik, dengn kaki kudanya, lalu berkata, ”Demi Allah, andai aku tahu di seberang sana ada negeri, aku pasti menyerbunya di jalan Allah.”
Uqbah bin Nafi’ berkata saat memandang langit, ”Tuhanku, kalaulah tidak terhalang lautan ini, aku pasti berjalan di banyak negeri, guna berjihad di jalan-Mu.”
Kita tunggu hari-hari seperti di atas dari Anda, wahai aktivis Islam. Apakah Anda siap merespon harapan ini? Apakah Anda menjawab serun ini? Penyair berkata,

Dukaku dan duka setiap orang merdeka
Ialah pertanyaan zaman,’Dimana gerangan kaum Muslimin berada?’
Akankah masa lalu itu kembali lagi?
Sungguh, aku merindukan masa lalu itu
Bebaskan aku dari angan-angan itu tak lebih dari ilusi semata
Berikan iman sebagai cahaya bagiku
Dan kuatkn keyakinan pada diriku
Aku sodorkan tanganku dan mencabut gunung
Serta membangun kejayaan, dengan harmonis dan kuat.

Sunday, July 04, 2010

AKTIVITAS ISLAM, BUKAN AKTIVITAS TEMPORER!!!

Akhi, aktivis Islam, aktivitas Islam itu bukan aktivitas yang bisa Anda kerjakan di sebagian waktu, lalu boleh Anda tinggalkan pada waktu lain. Sama sekali tidak. Aktivitas islam dan masuknya Anda ke dalam Islam ini lebih dari itu. Islam bukan sembarang aktivitas, seperti misalnya aktivitas budaya, atau aktivitas olahraga, atau kepanduan, yang biasa Anda geluti saat kuliah, lalu Anda tinggalkan setelah lulus. Atau aktivitas yang anda jalani ketika Anda membujang, lalu Anda tinggalkan setelah menikah. Atau aktivitas yang Anda beri waktu sebelum Anda menduduki jabatan tertentu, lalu Anda beri waktu sebelum Anda menduduki jabatan tertentu, lalu Anda tinggalkan jika Anda punya jabatan tertentu, atau sukses membuka klinik, atau apotek, atau kantor konsultan, atau sibuk studi S1 atau S2. tidak! Aktivitas Islam sama sekali tidak seperti itu.

Aktivitas Islam dan masuknya Anda ke dalamnya adalah penyembahan Anda kepada Allah Ta’ala. Dan, orang Muslim tidak berhenti dari aktivitas Islam, karena merupakan tuntutan penyembahannya kepada Allah Ta’ala, hingga detik akhir kehidupannya. Akhi, apakah Anda tidak membaca firman Allah Ta’ala,
”Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini.”(Q.S.Al-Hijr:11)

Maksudnya, sembahlah Allah Ta’ala hingga kematian datang kepadamu. Al-Qur’an tidak mengatakan, ”Sembahlah Allah hingga anda lulus dari universitas, atau hingga Anda punya jabatan tertentu, atau hingga Anda menikah, atau hingga Anda sukses membuka bisnis.”

Generasi salafush shalih memahami dengan baik ayat di atas. Kita lihat Ammar bin Yasir ra masih ikut berperang di jalan Allah Ta’ala, saat berusia sembilan puluh tahun. Saya katakan berperang bukan sekedar berdakwah, atau mengajar, atau mengerjakan amar ma’ruf nahi munkar. Disamping mengerjakan aktivitas itu semua, Ammar bin Yasir berperang di jalan Allah Ta’ala, saat ia berada di usia, dimana tulang-tulang sudah lemah, tubuh loyo, rambut beruban, dan kekuatan menurun.

Abu Sufyan bin Harb ra memotivasi tentara untu berperang, padahal ia berusia tujuh puluh tahun. Begitu juga Al Yaman dan Tsabit bin Waqsy, keduanya berperang di perang Uhud, kendati berusia lanjut dan diberi dispensasi oleh Rasulullah SAW. Beliau menempatkan keduanya di barisan belakang bersama kaum wanita. Kenapa kita pergi terlalu jauh? Raulullah SAW malakoni tujuh puluh perang setelah lebih dari lima puluh empat tahun. Bahkan, beliau berumur enam puluh tahun saat hadir di perang Tabuk, yang merupakan perang paling sulit bagi kaum Muslimin, dan memimpin kaum Muslimin di dalamnya.
Kenapa sekarang kita lihat banyak aktivis Islam tidak lagi menjadi aktivis Islam setelah lulus kuliah, atau menikah, atau sibuk bisnis, atau punya jabatan?

Mereka harus tahu bahwa permasalahan agama tidak main-main dan bisa disepelkan seperti itu. Allah Ta’ala berfirma,
”Dan kalian menganggapnya ringan saja. Padahal, dia pada sisi Allah itu besar.” (An-Nuus:15)
Mana baiat (ikrar), yang dulu Anda berikan didepan Allah Ta’ala, bukan hanya didepan manusia? Allah Ta’ala berfirman,
“Dan perjanjian dengan Alah itu diminta pertanggungjawabannya.” (Al Ahzab: 15)
Mana slogan, yang dulu sering Anda gembor-gemborkan,
Kami bangkit di jalan Allah
Kami ingin meninggikan panji
Kami beramal bukan untuk partai
Tapi, kami siap menjadi tumbal bagi agama ini
Silakan kejayaan agama muncul kembali lagi
Atau darah kami tumpah karenanya

Akibat melanggar janji itu amat berat. Terutama, bagi orang yang tadinya tahu kebenaran, lalu berpaling darinya dan orang yang telah merasakan manisnya iman lalu terjerumus dalam kebatilan. Melanggar janji dengan Allah Ta’ala itu dosa paling besar kepadaNya dan kaum mukminin. Allah Ta’ala berfirman,
”Maka barang siapa melanggar janjinya, niscaya akibat ia melanggar janji itu menimpa dirinya sendiri.” (Al-Fath: 10).
Orang yang dirayu jiwanya yang menyuruh kepada keburukan dan digoda setan untuk ingkar janji harus merenungkan firman Allah Ta’ala,
”Dan di antara mereka ada orang yang berikrar kepada Allah, ’Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, kami pasti terasuk orang-orang shalih.’ Maka setelah Allah memberi mereka sebagian karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia iu dan berpaling, dan mereka orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (At-Taubah:75-76)
Ia juga harus merenungkan dengan baik hukuman adil, seperti disebutkan di ayat berikut,
”Maka Allah menimbulkan kemunafikan di hati mereka sampai waktu mereka menemui Allah, karena mereka memungkiri terhada Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.” (Q.S. At Taubah:77).

Aktivitas Islam itu agenda utama. Tragisnya, sebagian orang berhati sakit yang bergabung dengan ikhwah aktivis Islam di aktivitas Islam, di kampus, itu memandang aktivitas Islam seperti proyek bisnis. Karenanya, proyek bisnis tersebut berakhir secara otomatis, bersamaan denga selesainya waktu kuliah. Atau aktivitas Islam dianggap sebatas persahabatan di kampus, lalu bubar dengan berakhirnya masa studi.
Orang-orang seperti itu saya katakan orang-orang berhati sakit. Sebab, biasanya, penyakit muncul dari orang yang imannya lemah, hatinya sakit, tekadnya pas-pasan, dan makna iman tidak menancap kuat di hati. Umumnya, aib itu ada di hati, bukan di akal. Aib terjadi sebab iman tidak beres, bukan karena minimnya ilmu. Juga karena pengaruh syahwat, bukan karena ketidakjelasan. Juga karena cinta dunia, bukan karena minimnya kesadaran. Siapa ingin melakukan terapi, ia harus pergi kepada orang-orang yang berhati bersih, guna menghilangkan kotorannya dan mengobati penyakitnya. Sayangnya, dokter itu tidak banya pada zaman sekarang. Yang saya maksud dengan dokter di sini ialah dokter hati. Sedang dokter tubuh, banyaknya segudang.

Sungguh, orang yang keluar dari kebenaran setelah mengetahuinya itu lebih mementingkan kesenangan sementara dan syahwat terbatas, mencari kesenangan sesaat dengan mengorbankan kesedihan sepanjang tahun, menceburkan diri ke maksiat dan berpaling dari tujuan besar menuju tujuan picisan. Akibatnya, ia hidup di penjara setan, terombang ambing di lembah kebingungan, dan terbelenggu di penjara hawa nafsu. Seorang penyair berkata,
’Ia menjadi burung elang yang bulunya tercerabut
Ia merasa rugi setiap melihat burung lain terbang’.

===================================================
Artikel dari ”TAUSYAH UNTUK AKTIVIS ISLAM” , Dr. Najih Ibrahim.
===================================================

Wednesday, December 02, 2009

4 SEHAT 5 SEMPURNA buat Aktivis Dakwah

Dalam dunia kesehatan dan gizi kita mengenal “ 4 sehat 5 sempurna” yang dikonsumsi untuk tetap menjaga kesehatan dan kebutuhan gizi tubuh. Dalam dunia da’wah pun sebaiknya kita juga selalu “mengkonsumsi 4 sehat 5 sempurna (4S5S)” untuk tetap menjaga kebutuhan maknawiyah dan ruhiyah para aktivis da’wah setiap harinya.

Kalau setiap pagi para aktivis da’wah mau sarapan rutin dengan “4 sehat 5 sempurna” maka insyaAllah pada hari itu akan banyak kemudahan yang didapatkan dalam setiap aktivitasnya, baik aktivitas pribadi maupun aktivitas da’wahnya.

Tapi “4S5S” yang menjadi menu sarapan setiap pagi para da’i ini bukanlah makanan melainkan aktivitas amal yaumi (ibadah harian). Amalan-amalan yaumi tersebut kita harapakan dapat memberikan banyak kemanfaatan kepada para aktivis da’wah. Manfa’at yang bisa kita dapat antara lain:
1. Yang pasti mendapatkan ridlo dari Allah SWT apabila kita mengamalkannya dengan ikhlas.
2. InsyaAllah akan diberikan keberkahan dan kemudahan dalam setiap aktivitas.
3. Melatih kedisiplinan dalam setiap aktivitas apabila kita mengamalkannya secara rutin dan disiplin.
4. Melatih kita untuk menghargai waktu, dengan mengisi waktu untuk aktivitas-aktivitas kebaikan.
5. Yang kelima ini penting: Supaya kita tidak tidur lagi ba’da shubuh ^_^
6. InsyaAllah masih banyak manfaat yang lain yang tidak bisa kita sebutkan satu persatu.

Terus apa saja 4S5S itu?

1. Sholat shubuh tepat waktu dan berjama’ah.
2. Tilawah Alqur’an beberapa lembar
3. Dzikir (ma’tsurot) pagi
4. Sholat dzuha empat raka’at
5. Infaq atau Shodaqoh sebagai penyempurnanya.

Sebelumnya mohon difahami bahwa ini bukan bermaksud untuk membuat bid’ah baru dalam beragama dengan memunculkan istilah “4S5S”. Istilah ini hanya sekedar untuk memudahkan dalam menghafal dan menambah semangat dalam mengamalkan. Amalan-amalan yang disebutkan diatas pun insyaAllah juga berdasarkan dari apa yang dituntunkan oleh Rasulullah saw.

Dan satu hal lagi yang perlu diperhatikan lagi, bahwa ini bukan bermaksud untuk membatasi para aktivis untuk melakukan amalan-amalan yaumi yang lain seperti; silaturahim, tholabul ilmy, tahfizul qur’an, dsb. Seandainya kita mampu untuk melakukan amalan-amalan sebanyak mungkin justru itu akan lebih baik. Lima amalan yang termasuk dalam 4S5S tersebut hanyalah amalan-amalan ringan yang harusnya bisa dilaksanakan oleh para aktivis da’wah setiap hari dalam kondisi apapun, insyaAllah.

Terakhir semoga Allah senantiasa memberikan kita semua kekuatan untuk tetap istiqomah di jalan yang mulia ini, jalan para Nabi dan orang-orang mulia yang mengikuti mereka. Semoga Allah juga selalu memberikan keberkahan dan kemuntijahan dalam setiap aktivitas da’wah yang kita usahakan. Amiin….

Wallahua’lam bishshowab..

Saturday, November 14, 2009

JANGAN BANYAK OMONG “NIKAH”

Belakangan ini beberapa perbincangan di kajian rutin, pertemuan pekanan, tulisan-tulisan di facebook dan bahkan obrolan santai temen-temen kalau saya rasa-rasakan banyak yang mengarah ke satu tema ya, apa itu??? “PERNIKAHAN”.
Barangkali memang cukup menarik membicarakan masalah yang satu ini, terutama bagi para insan yang masih menunggu saat datangnya Allah memberikan anugerah baginya untuk menyempurnakan separuh dari agama.

Tetapi ternyata seringkali pembicaraan tentang tema ini memang kurang begitu berimbang. Sejauh yang saya ikuti memang sebagian besar terkesan profokatif. Saya sempat berfikir ”Apa mungkin hanya saya saja ya, yang merasa terprofokasi dengan tema-tema seperti itu??” Tapi nampaknya tidak, ternyata setelah mengikuti kajian atau materi dengan tema-tema seperti itu banyak juga temen-temen yang kemudian latah obrolannya tentang itu.

Kawan, memang tidak ada salahnya ketika kita senang dengan tema-tema perbincangan seperti itu. Apalagi kalau itu kita niatkan sebagai sarana kita untuk i’dad (persiapan) sebelum kita bener-bener siap untuk menuju kesana. Yang menjadi masalah adalah ketika setiap pembicaraan, bercanda, maupun obrolan selalu mengarah kesana tanpa ada batas-batas dan tujuan yang jelas. Terkadang permasalahan lebih penting yang seharusnya bisa kita bahas dan diskusikan menjadi kurang serius kita bicarakan.

Setelah sedikit merenung, ternyata yang menyebabkan banyak temen-temen jadi seneng ngomongin masalah ini adalah karena penangkapan materi oleh kita yang kurang berimbang. Seringkali ingatan kita lebih senang ketika menyimpan ”file-file” materi yang sifatnya adalah cerita dan hal-hal yang mungkin nampak indah ketika seseorang sudah berkeluarga. Benar pa bener nich?? Hayoo ngaku aja lah...

Mulai dari janji Allah yang akan menjadikan mereka kaya apabila mereka miskin, kemudian semua yang tadinya haram menjadi halal bahkan bernilai ibadah, kemudian janji pahala yang besar dari Allah apabila salah satu membangunkan yang lain di malam hari untuk Qiyamul lail bersama. Apalagi kalo ustadz atau pembicara yang menyampaikan materi menambah ”bumbu-bumbu penyedap” yang lain, seolah-olah memang semua akan menjadi sempurna kenikmatannya ketika seseorang sudah berkeluarga.

Nah itu dia...... Seringkali karena sudah terlena dengan lamunan-lamunan yang indah tadi, ingatan kita jadi tidak bisa menyerap sisi lain dari materi yang disampaikan. Kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab yang harus dipenuhi seseorang ketika sudah berkeluarga menjadi terlupa semua, repot kalau sudah gitu!!!

Coba siapa yang masih inget tentang materi itu???

Tentang bagaimana kewajiban seorang suami yang harus menjaga dan mendidik istri serta anak-anaknya agar selamat di dunia & akherat, bagiamana kewajiban seorang istri yang harus menjaga kehormatan suami dan keluarga serta tanggung jawabnya dalam mendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang sholeh dan sholehah.

Dua hal itu saja kalau mau kita fikirkan baik-baik tidak mudah kawan. Belum lagi kewajiban-kewajiban yang lain. Marilah sekarang kita evaluasi diri kita masing-masing, kira-kira saat ini apakah kita sudah bisa menjaga diri kita dengan baik sebelum kita dibebani untuk menjaga keluarga kita?? Coba kita lihat diri kita, seberapa konsisten diri kita menjalankan amalan-amalan yaumi seperti sholat tepat waktu, tilawah, sholat sunnah, dzikir, dll? Seberapa konsisten kita menjaga setiap anggota badan kita dari bermaksiat kepada Allah? Seberapa pantaskah diri kita menjadi qudwah bagi temen-temen sekitar kita sebelum kita menjadi qudwah dalam keluarga kita?

”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah para malaikat yang garang, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintah.” (At- Tahrim: 6)

Demikian juga bagi para calon ummahat, coba juga sejenak kita evaluasi diri kita. Seberapa konsisten kita menjaga lisan kita dari membicarakan saudara sebelum kita menjaga kehormatan suami dan keluarga? Seberapa konsisten kita menuntut ilmu agama dan mengamalkannya sebelum kita mendidik anak-anak kita supaya mau mengamalkan ajaran agama?

Mohon maaf sebelumnya, bukan bermaksud untuk melemahkan temen-temen yang sudah punya azzam yang kuat untuk segera melanjutkan ke tahapan amal yang kedua, bina usroh muslimah. Seandainya temen-temen memang sudah siap dan merasa bisa untuk melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab dalam berkeluarga, saya malah sangat menyarankan untuk bersegeralah. Tapi yang penting gak usah banyak omong, kasihan donk yang lain yang belum siap. Silakan saja tanpa ada kabar burung atau kabar bebek tiba-tiba temen-temen nyebar undangan, nah itu malah jadi bikin kejutan buat yang lain asalkan dengan proses yang bener.

Tapi kalau memang kita menyadari diri kita belum siap, ya udahlah gak usah banyak omong juga. Hati-hati, jangan sampai keinginan kita semakin memuncak gara-gara ngomongin itu terus sampai akhirnya tergelincir ke jalan yang salah (VMJ : Virus Menuju Jahanam). Atau barangkali dengan kondisi yang belum bener-bener siap, memaksakan untuk menikah yang akhirnya di tengah perjalanan nanti akan banyak permasalahan keluarga yang ditemui.

Yang penting kita lakukan sekarang adalah persiapkan diri dengan baik, minimalisir pembicaraan-pembicaran yang tidak bermanfaat, gunakan waktu seproduktif mungkin, berdo’a supaya Allah menjaga kita dari goda’an-goda’an setan, serta mohonlah supaya Allah memberikan yang terbaik buat diri kita. SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA.....

Ehh, satu lagi : jangan lupa do’akan saya juga ya dan ingatkan kalau saya sedang salah...

Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah dan taufik kepada kita, Amiin...

Thursday, November 12, 2009

Nyowo balen…..

Ketika pertama kali membaca judul di atas, kira-kira apa yang terlintas dalam pikiran temen-temen semua??? Kalau yang orang jawa harusnya faham apa artinya tapi yang belum faham bahasa jawa sepertinya perlu membaca ceritanya dulu biar faham ^-^

Ceritanya waktu kecil dulu aku pernah mengalami suatu kejadian yang cukup menegangkan, katanya sich….. soalnya waktu itu usiaku juga baru sekitar dua setengah tahun. Saat itu kejadiannya sekitar siang menjelang ashar. Seperti halnya anak-anak balita yang lain, biasanya kalau siang menjelang ashar adalah waktunya untuk tidur siang. Waktu bangun tidur, katanya ibu sich aku biasanya sering nangis. Tapi waktu itu tidak seperti biasanya, bangun tidur ternyata kakak sepupuku yang bernama Desthy (Allahuyarham, semoga Allah merahmatinya yang sudah kembali mendahuluiku) sudah menungguiku untuk mengajak bermain. Kakakku waktu itu juga masih kecil, usianya setengah tahun lebih tua dariku.

Setelah bangun tidur itu, dia mengajakku untuk bermain didepan rumah tanpa sepengetahuan ibu. Maen apa aku juga gak inget, barangkali temen-temen bisa membayangkan lah anak-anak seusia itu biasanya maen apa, kalo gak kejar-kejaran paling juga lempar-lempar batu tapi nggak saling lempar lho ya… Pas kita lagi maen didepan rumah itu cerita ada sebuah mobil yang tiba-tiba menabrak rumahku. Posisi rumahku memang sangat rawan terjadi kecelakaan karena terletak di tikungan tajam, jadi kalo ada kendaraan yang rem-nya tidak berfungsi sangat mungkin rumahku yang jadi sasaran.

Saat itu katanya, pengemudi tidak bisa mengendalikan mobilnya karena dari belakang ada sebuah bus yang rem-nya blong sehingga mendorong mobil tersebut sampai menabrak rumahku. Keduanya seperti halnya “tamu tak diundang” seketika langsung menembus dinding depan sampai merangsek masuk bagian dalam rumah.

Semua orang yang berada disekitar berhamburan mendekati rumah, tidak tau bagaimana perasaan orang-orang waktu itu. Begitu juga ibu yang sedang menimang adik yang masih bayi dirumah bagian belakang, mendengar suara yang mengerikan itu pertama kali yang dicari adalah aku yang dalam fikiran beliau masih tertidur dikamar. Ternyata tidak seperti yang beliau kira, aku sudah tidak ada kamar. Aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibu waktu itu, karena setelah semua orang ikut mencari kemana-mana mereka tetap saja tidak menemukan aku dan mbak Desthy.

Tidak tau gimana ceritanya, ternyata ada orang yang melihat ada sesuatu yang bergerak didalam got tepat dibawah bangkai bus yang roda depannya sudah nyantol diatas bangkai mobil. Setelah dilihat ternyata kami berdua yang ada disitu tertutup sepotong kain atau tirai yang menyelamatkan kami dari guyuran panasnya air radiator bus yang tumpah.

Alhamdulillah dengan keajaibanNya Allah masih berkenan menyelamatkan kami. Karena secara logika bagaimana bisa ditengah-tengah kecelakaan yang sangat cepat dan tidak terduga itu kami berdua yang masih kecil secara sadar berlidung ke bawah got. Dan akupun tidak tau bagaimana kain itu bisa menutupi kami, karena tanpa kain itu kalaupun kami selamat dari lidasan kedua mobil, kami pasti sudah terguyur air radiator yang sangat panas.

Sejak kejadian itulah, orang-orang sekitar kemudian menyebut kami berdua dengan “nyowo balen” atau kalo dalam bahasa Indonesia maksudnya kurang lebih “kehidupan yang dikembalikan”. Atau apa lah yang pasti bahasa jawa memang sangat kaya dan tidak semua bisa diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Seiring dengan berjalannya waktu, orang-orang sudah mulai melupakan kejadian itu, tidak banyak orang yang masih ingat sebutan “nyowo balen” itu. Tapi yang pasti kejadian itu tidak akan pernah hilang dari ingatanku.....

Memang kayak sinetron, tapi ini FAKTA..