Thursday, October 29, 2009
Beberapa hari yang lalu, sempat ada berita yang cukup mengagetkan bagi beberapa orang. Padahal kalo menurut saya biasa saja (^_^), hanya temen-temen aja yang terlalu mendramatisir. Ceritanya ada beberapa ikhwan yang mendapat sms dari temen akhwat satu amanah yang tenyata juga satu angkatan. Isinya kurang lebih adalah pemberitahuan tentang kabar gembira bahwa beberepa hari lagi si fulanah tersebut akan menikah dengan seorang ikhwan yang katanya namanya belum pernah dikenal. Berita itu bahkan sempat jadi bahan bercandaan. Ada yang menyindir pakai puisi bahasa inggris segala padahal gak tau bener pa gak tuch redaksinya:
Today is Wednesday..
Today is her married day..
Today, I want to die… :D
Walaupun semua itu hanya sekedar bercanda, tapi saya merasa perlu untuk kembali menyampaikan tulisan saya yang dulu pernah saya posting. Semoga saja bisa semakin menambah keyakinan kita bahwa sesungguhnya jodoh itu hanya di tangan Allah SWT dan semenjak pertama kali kita diberikan ruh kehidupan, sejak itu juga kita sudah ditetapkan 3 hal tentang kita. Selain usia dan rizqi, salah satunya adalah siapakah JODOH kita didunia ini.
Semoga tulisan pendek yang kurang tertata ini juga bisa menjadi sedikit penangkal VMJ dikalangan aktivis. Ngomong-omong soal VMJ, kemarin ketemu dengan temen aktivis UGM, dia mantan ketua Jama’ah Sholahudin tidak mau mengartikan VMJ itu "Virus Merah Jambu". Menurut beliau terlalu enak kalau diartikan seperti itu, makanya kenapa banyak aktivis yang sengaja mencoba. Beliau lebih senang menyebut VMJ itu sebagai VIRUS MENUJU JAHANAM..... silahkan coba kalo mau!!!!
=======================================================
“Assalamu’alaykum, mau tanya ustadz. Kalo saya lihat seorang ikhwan yang cerdas kok saya jadi simpati ya? Apa itu sekedar simpati biasa atau semacam perasaan cinta, karena sebenarnya nanti kalo dah agak lama biasanya perasaan itu hilang. Tapi kadang tiba2 kok muncul lagi ya?”
Begitu kurang lebih pertanyaan salah seorang peserta akhwat kajian rabu pagi hari itu. Motivasi akhwat bertanya itu bisa jadi sekedar mencairkan suasana biar peserta pada gak ngantuk terutama ikhwan2 TANGGUH itu (-tenang kalo lagi lungguh-, maksudnya tidur), mungkin juga biar ikhwan termotivasi untuk jadi ikhwan2 cerdas ^_^ , atau mungkin itu memang perasaan sebenarnya yang dia alami. Tapi apapun motivasi dari pertanyaan itu, jawaban dari ustadz Fachrudin bisa memberikan pelajaran bagi kita semua terutama bagi yang masih sering muncul perasaan2 kaya’ gitu...
Kalo jawaban runtut dan jelas seperti yang disampaikan ustadz saya juga agak lupa sih (tapi gak tidur lho ya..), pada intinya jaga perasaan jangan mudah untuk jatuh cinta pada seseorang. Terus gimana donk caranya??
Kalo ustadz Fachrudin nyarankan (pake bahasa saya lho ya): jangan percaya pada kesan pertama, kalo kita lihat seorang yang cerdas maka berfikirlah bahwa masih ada orang yang jauh lebih cerdas selain dia, atau mungkin kalo kita lihat seorang yang cakep (lha ini bagi yang belum bisa menahan pandangan) maka berfikirlah bahwa ada orang yang jauh lebih cakep dari dia. Berdo’a saja semoga jodoh kita jauh lebih baik dari yang kita lihat saat itu. Kuncinya adalah jadikan diri kita orang baik sebaik jodoh yan kita inginkan, karena Allah sudah menyampaikan bahwa yang baik itu untuk yang baik.
Tambahannya sebaiknya kita semakin perkuat lagi iman kita pada Allah SWT, maksudnya??
Maksudnya, kita harus 100% yakin bahwa Allah sudah menetapkan jodoh kita sejak pertama kali kita ditakdirkan hidup didunia. Jadi gak usah khawatir lah kalo ternyata orang yang selama ini kita idam-idamkan akan diambil orang (kaya’ mangga saja). Yakin saja kalau memang jodoh kita pasti gak akan mungkin didahului orang. Eh, tapi kita juga gak perlu pakai “nge-cim” (bahasa indonesianya apa gak tau, ngidam kali ya)?? Kenapa? Daripada ujung2nya nanti dia sudah ditakdirkan berjodoh dengan orang lain, malah jadi mubazdir perasaan kita bahkan bisa jadi makan hati ^_^.
Gitu simplenya apa yang pagi itu saya tangkap dari apa yang disampaikan ustadz Fachrudin di KRP. Maaf kalau mungkin bahasanya saya tambah-tambahi sendiri, tapi yang penting kan : “Inspirasi apa yang antum/na dapatkan setelah membaca artikel ini??? Heh....heh...heh....” (tawa khas seorang ustadz)
Thursday, August 27, 2009
“Assalamu’alaykum, mau tanya ustadz. Kalo saya lihat seorang ikhwan yang cerdas kok saya jadi simpati ya? Apa itu sekedar simpati biasa atau semacam perasaan cinta, karena sebenarnya nanti kalo dah agak lama biasanya perasaan itu hilang. Tapi kadang tiba2 kok muncul lagi ya?”
Begitu kurang lebih pertanyaan salah seorang peserta akhwat kajian rabu pagi hari ini. Motivasi akhwat bertanya itu bisa jadi sekedar mencairkan suasana biar peserta pada gak ngantuk terutama ikhwan2 TANGGUH itu (-tenang kalo lagi lungguh-, maksudnya tidur), mungkin juga biar ikhwan termotivasi untuk jadi ikhwan2 cerdas ^_^ , atau mungkin itu memang perasaan sebenarnya yang dia alami. Tapi apapun motivasi dari pertanyaan itu, jawaban dari ustadz Fachrudin bisa memberikan pelajaran bagi kita semua terutama bagi yang masih sering muncul perasaan2 kaya’ gitu...
Kalo jawaban runtut dan jelas seperti yang disampaikan ustadz saya juga agak lupa sih (tapi gak tidur lho ya..), pada intinya jaga perasaan jangan mudah untuk jatuh cinta pada seseorang. Terus gimana donk caranya??
Kalo ustadz Fachrudin nyarankan (pake bahasa saya lho ya): jangan percaya pada kesan pertama, kalo kita lihat seorang yang cerdas maka berfikirlah bahwa masih ada orang yang jauh lebih cerdas selain dia, atau mungkin kalo kita lihat seorang yang cakep (lha ini bagi yang belum bisa menahan pandangan) maka berfikirlah bahwa ada orang yang jauh lebih cakep dari dia. Berdo’a saja semoga jodoh kita jauh lebih baik dari yang kita lihat saat itu.
Tambahannya sebaiknya kita semakin perkuat lagi iman kita pada Allah SWT, maksudnya??
Maksudnya, kita harus 100% yakin bahwa Allah sudah menetapkan jodoh kita sejak pertama kali kita ditakdirkan hidup didunia. Jadi gak usah khawatir lah kalo ternyata orang yang selama ini kita idam-idamkan akan diambil orang (kaya’ mangga saja). Yakin saja kalau memang jodoh kita pasti gak akan mungkin didahului orang. Eh, tapi kita juga gak perlu pakai “nge-cim” (bahasa indonesianya apa gak tau) lho ya?? Kenapa? Daripada ujung2nya nanti dia sudah ditakdirkan berjodoh dengan orang lain, malah jadi mubazdir perasaan kita bahkan bisa jadi makan hati ^_!
Gitu simplenya apa yang tadi pagi saya tangkap dari apa yang disampaikan ustadz Fachrudin di KRP. Maaf kalau mungkin bahasanya saya tambah-tambahi sendiri, tapi yang penting kan : “Inspirasi apa yang antum/na dapatkan setelah membaca artikel ini??? He....he...he....”
Kalau beberapa waktu yang lalu ada yang menulis “NO : AFWAN” tapi hari ini saya harus mengatakan “afwan” kepada temen-temen semua yang mengenal atau pernah berinteraksi dengan saya.
Saya secara tulus ingin memohon maaf kepada temen-temen semua yang merasa pernah terdzolimi oleh saya terutama merasa tersakiti dengan kata-kata & sikap saya.
Pada beberapa kesempatan ketika ada session saling memberi saran dan kritik, ada dua karakter saya yang selalu disampaikan oleh temen-temen yang tak pernah ketinggalan:
1. Atos - red bhs jawa-. (kata temen2 angkatan kamarin gitu), maksudnya keras kepala & pengen menang sendiri
2. kalau bicara atau menyindir sering menyinggung perasaan.
selain itu masih ada sih beberapa misal: nggaya, sok pendiam padahal sebenernya..., dll. Kok jelek semua ya .......... Ada sich yang koment baik tapi tak kira gak perlu disebutkan aja lah.....
Saya akui semua itu memang tidak salah walaupun tidak sepenuhnya benar (termasuk kalau ada yang koment baik ). Dalam beberapa forum secara sadar maupun tidak sadar saya selalu ingin mempertahankan pendapat saya dengan berbagai argumen yang kadang logis dan mungkin juga nggak (tapi kayaknya saya selalu mencari argumen yang logis menurut saya). Tidak hanya dalam forum-forum rapat atau musyawarah, bahkan dalam kuliah dikelas pun sering sampai ngotot dengan para dosen.
Kemudian yang kedua saya sering memberikan peringatan atau sindiran yang kadang bisa menyakiti perasaan seseorang. Yang sering merasakan ini biasanya temen-temen satu amanah yang sering satu forum dengan saya. Tapi yang perlu untuk diketahui saya melakukan seperti itu bukan tanpa alasan sama sekali. Biasanya saya sering memberikan sindiran atau peringatan secara langsung apabila ada temen yang terkadang melupakan kode etik berjam’ah (misalkan: tidak hadir atau telat tanpa konfirmasi yang jelas ke mas’ul/pimpinan).
Barangkali dengan sikap saya seperti itu ada temen yang merasa saya terlalu berlebihan , melupakan nilai-nilai ukhuwah dan tidak mengutamakan husnudzon ke yang lain..... Tapi sebenaranya tidak semua orang saya perlakukan sama. Biasanya saya melakukan itu kepada temen-temen yang memang sudah memiliki pemahaman yang sangat matang tentang bagaimana sikap2 yang harus dia lakukan dalam berjama’ah. Dan kadang saya memang sulit untuk menerima alasan-alasan yang tidak jelas.
Seandainya UKHUWAH memang lebih tinggi daripada DA’WAH, saya akan berusaha untuk mengabaikan semua kesalahan dan kelalaian temen-temen, dan akan mengutamakan untuk selalu memberikan pemakluman serta menjaga hubungan serta perasaan diantara kita.
Seandainya DA’WAH itu tidak mempedulikan UKHUWAH, saya mungkin tidak akan pernah sama sekali untuk memberikan pemakluman kepada temen-temen bila melakukan kesalahan baik disengaja maupun tidak sengaja. Dan mungkin akan selalu bersikap keras dan tidak mau peduli kepada yang lain yang penting tujuan ”harus” tercapai.
Tapi sebenarnya UKHUWAH adalah bagian dari DA’WAH, dan DA’WAH tidak akan nikmat tanpa UKHUWAH. Oleh sebab itu maka saya akan selalu berusaha untuk menjaga nilai-nilai UKHUWAH, tapi mohon kepada temen-temen juga berusaha untuk bisa menjaga nilai-nilai dan etika berjama’ah demi kemuntijahan da’wah. Saya pun juga akan berusaha untuk melakukannya.
Dan sebenarnya ketika dalam pergaulan sehari-hari tidak benar juga kalo saya itu selalu kaku, tanya aja temen-temen kos, kelas, atau yang dekat dengan saya. Sering sekali dan bahkan hampir tidak pernah suatu moment terlewati tanpa canda dan tawa, saya pun juga seneng bercanda kok....
Saya ingin tabayun (memberi penjelasan) atas semua yang temen-temen rasakan tentang saya. Sikap saya yang seperti itu karena memang karakter dan didikan sejak kecil terkondisikan untuk jadi orang yang ”harus bisa & harus mau” dalam melaksanakan perintah2 orang tua, kayak militer ajah.... padahal gak ada keturunan militer sama sekali. Apabila menolak perintah orang tua atau melakukan kesalahan tidak jarang ”tindakan-tindakan militer” yang harus saya terima.
Tapi saya yakin yang diinginkan orang tua saya adalah semata-mata demi kebaikan saya. (Saya sangat cinta dan hormat kepada mereka, I love you Mom... I love you Dad....).
Jadi memang susah untuk sepenuhnya merubah total karakter saya yang seperti itu, jadi saya mohon temen-temen bisa faham dengan sikap saya yang seperti itu.
Terakhir walupun tulisan ini masih kental dengan gaya keras kepala dan egoisme saya, sekali lagi saya menyampaikan kepada temen-temen : ”AFWAN.....”
Wednesday, August 05, 2009
*di ambil dari buku “Prinsip-prinsip gerakan Islam” –ust Fathi Yakan
Diantara permasalahan serius yang dihadapi oleh gerakan Islam Kontemporer adalah melemahnya pemahaman terhadap tandhim dari yang semestinya diharuskan oleh syariat dan menjadi tuntutan zaman.Yang lebih berbahaya lagi, tidak sedikit dari mereka yang mengalami permasalahan ini mencari-cari alasan untuk membolehkan kondisi mereka.
Melamahnya pemahaman terhadap tandhim adalah kurangnya penguasaan terhadao dasar dan kaidah tandhim. Melemahnya pemahaman terhadap tandhim adalah ketidakpahaman terahadap skala prioritas, baik yang sudah dilakukan maupun yang seharusnya dilakukan, sehingga terjadi praktik-praktik operasional yang bersebrangan dengan konsep Abjadiyah yang paling sederhana sekali.
Melemahnya pemahaman terhadap tandhim adalah ketidakmampuan mengkondisikan dan mengklasifikasikan secara baik antara permasalahan yang konseptual dengan permasalahan yang faktual, baik pada tingkatan persepsi dan pemikiran atau pada tingkatan perencanaan dan pelaksanaan, sehingga terjadi ketidakjelasan dan kesimpangsiuran.
Melemahnya pemahaman terhadap tandhim adalah ketidakmampuan untuk mendefisnikan kualitas dan kuantitas serta mencari titik temu antara keduanya, baik yang berkaitan dengan perbuatan atau yang berkaitan dengan ucapan, sehingga menimbulkan bahayan yang serius. Lebih dari itu, yang dimaksud dengan melemahnya pamahaman terhadap tandhim adalah kurangnya penghargaan terhadap waktu, sehingga banyak waktu yang terbuang sia-sia tanpa ada dampak positif terhadap kepentingan Islam. Sementara disisi lain para musuh Islam tidak pernah berhenti sedikitpun melakukan penyiapan dan pengembangan diri untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin.
Semua itu mengemukakan bahwa lemahnya pemahaman terhadap tandhim berarti lemahnya gerakan Islam, yang mengakibatkan lemahnya harokah Islam. Karena gerakan Islam tidak mungkin mencapai tingkatan yang semestinya dan meraih tujuan yang dicanangkan selama belum berjalan diatas sendi-sendi tandhim pada segala aspeknya, seperti: tarbiyah, harokah, politik, dan jihad. Juga selama belum mampu menyikapi setiap permasalahan dengan sikap yang semestinya.
Siapa saja yang menelaah Sirah Nabawiyah, memperhatikan setiap kejadian penting yang dilalui oleh Rasulullah saw., niscaya akan melihat dengan jelas rambu-rambu tandhim. Sebagai contoh adalah kisah hijrah Rasulullah saw. Bersama Abu Bakar ra, ke Madinah. Ada pelajaran banyak yang bisa diambil dari peristiwa tersebut, diantaranya.
1. Permintaan Rasulullah saw. Kepada Ali bin Abi Thalib ra, untuk tidur dipembaringannya untuk mengelabuhi orang-orang musyrik setelah beliau meninggalkan Makkah hingga tiba di Gua Tsur.
2. pilihan untuk singgah di Gua Tsur yang terletak pada arah yang berlawanan dengan arah Madinah untuk semakin mengecoh orang-orang Musyrikin, karena Rasulullah saw, pasti berhijrah ke Madinah.
3. Penugasan Abdullah bin Abu Bakar ra, untuk membawa berita perkembangan yan terjadi di kota Mekkah.
4. Penugasan Asma’ binti Abu Bakar ra, untuk menyuplai makanan.
5. Penugasan Amir bin Fuhairah ra, utnuk menggembalakan kambing-kambingnya pada waktu siang hari lalu malam harinya digiring ke Gua Tsur untuk mensuplai kebutuhan air susu, sekaligus untuk menghapus jejak-jejak kaki yang hilir mudik ke Gua Tsur.
6. Mengambil seorang laki-laki musyrik untuk menjadi penunjuk jalan menuju Madinah.
Rasulullah saw, yang notabene sebagai orang yang mendapat wahyu dan bimbingan dari Allah swt secara langsung masih melakukan langkah-langkah tandhim. Mengapa para aktivis gerakan Islam saat ini tidak mengikuti Siroh Rasulullah saw, padahal mereka tidak mendapatkan wahyu dari Allah swt., sementara permasalahan yang dihadapi semakin menumpuk dan tipu daya musuh juga semakin gencar. Mengapa mereka tidak mengikuti jejak Rasulullah saw agar mereka benar-benar bisa memanfaatkan mata dan telinga yang diberikan oleh Allah swt. Mengapa mereka tidak belajar dari musuh-musuh mereka. Bagaimana melakukan tandhim secara baik, jeli, dan cakap.
Islam menghendaki agar kita menjadi yang terbaik di segala bidang, baik yang berkaitan dengan urusan duniawi maupun yang berkaitan dengan urusan ukhrawi. Islam tidak pernah mengajarkan bahwa kita boleh tidak mengerti tentang urusan duniawi, karena dunia adalah jembatan menuju akhirat, jika kita tidak ingin menggunakannya untuk kepentingan Islam maka para musuh Allah yang akan menggunakannya untuk memerangi dan menghancurkan Islam, sebagaimana yang terjadi saat ini. Islam mengharuskan pemeluknya untuk berusaha mendapatkan kekuatan dan tandhim adalah usaha terpenting yang harus dilakukan menuju terciptanya sebuah kekuatan, Allah swt berfirman,
”Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka yang kamu mampu...” (al-Anfal:60)
Dan Rasulullah saw bersabda,
”Sesungguhnya Allah swt, suka jika seorang diantara kamu bekerja, ia bekerja dengan baik.”
Kerja yang baik tidak terwujud manakala tidak ada tandhim yang baik, sebesar apapun tenaga dan fasilitas yang dimiliki, karena yang menjadi ukuran adalah kualitas bukan kuantitas dan tandhim adalah unsur terpenting kualitas.
Sudah menjadi kewajiban baggi para aktivis gerakan Islam untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam bertandhim sebagaimana mereka juga harus mempertebal kualitas keimanan dan pemikiran mereka. Para aktivis juga dituntut untuk mengikuti dan mempelajari perkembangan sekitar tandhim sebagai implementasi dari sabda Rasulullah saw,
”Hikmah adalah kebutuhan seorang mukmin, dimanapunia mendapatinya maka ia lebih berhak untuk memilikinya.”
dan sabdanya,
”ambillah hikmah dari manapun ia bersumber.”
Tuesday, July 07, 2009

"...kalau kemarin posting tulisan ust.hatta yang profokatif sekarang posting tulisan yang bisa jadi antisipatif, semoga bermanfaat ..."
MENGENDALIKAN RASA CINTA
Sobat muda muslim, nggak salah kalo cinta bisa mendera siapa aja. Termasuk para aktivis dakwah. Tapi tetep kita kudu waspada ama VMJ ini. Soalnya orang bisa berubah karena kasmaran. Yang pasti nggak berubah jadi Ksatria Baja Hitam. Tapi perubahan yang lambat laun nampak dalam diri kita. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin menuliskan komentar sejumlah orang tentang pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang.
Di antaranya sebagai berikut: “Cinta itu bisa menyucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, mendorong untuk berpakaian rapi, makan yang baik-baik, memelihara akhlak yang mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi yang ahli ibadah”.
Nah, lho? Ternyata cinta bukan cuma Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki seperti kata Sheila On Tujuh. Tapi juga merupakan ujian sekaligus cobaan buat orang shaleh, ahli ibadah, termasuk aktivis dakwah. Kok bisa? Iya, karena cinta nggak cuma bisa mengubah pe-nampilan aja. Dia juga bisa membelokkan niat yang udah lurus. Komitmen dakwah bisa berubah. Aktivitas dakwah yang awalnya diniatkan untuk mendapat ridho Allah bisa terkontaminasi saat VMJ meradang. Ini yang kudu diwaspadai.
Tentu kita nggak pengen dong, aktivitas dakwah kita yang mulia jadi kacau-beliau gara-gara kita terpana pesona cinta. Makanya kita kudu pandai mengendalikan rasa itu. Seperti kata dokter, mencegah lebih baik daripada mengobati. Untuk urusan cinta juga sama. Lebih baik kita mencegah aktivitas yang bikin VMJ meradang. Ada dua hal yang bisa kita jalanin sebagai langkah pencegahan (kayak 3M DBD aja neh!).
Pertama, dari dalam diri kita. Di sini kita kuatkan benteng pertahanan dari serangan rasa cinta yang membabi buta. Caranya, rajin puasa sunat. Rasulullah menganjurkan pemuda-pemudi untuk berpuasa sebagai satu perisai takwa. Perbanyak membaca al-Qur’an, shalat tahajjud, dan berdzikir kepada Allah saat godaan itu datang. Perbanyak juga doa kita kepada Allah. Minta kepada-Nya biar kita dijauhin dari perbuatan yang haram, minta juga kepada-Nya biar kita dikasih jodoh yang qualified dunia-akhirat. Mau dong?
Kedua, dari luar diri kita. Ini juga nggak kalah pentingnya. Faktor ling-kungan gampang banget meluluhlantakkan pertahanan yang kita bangun. Itu sebabnya, kita kudu bisa menata lingkungan sekitar kita. Misalnya, memini-malisasi pertemuan dan komunikasi dengan lawan jenis. Walau itu untuk konsolidasi dakwah. Sorry, bukannya mo ngerecokin, cuma kita khawatir, jiwa muda kita tak kuasa meredam gejolak rasa cinta itu. Kita juga bisa gaul ama temen-teman yang bisanya nggak cuma manas-manasin doang. Tapi mampu membantu kita menjaga izzah alias harga diri. Sehingga kita bisa belajar menundukkan pandangan. Baik terhadap para ‘macan’ (makhluk cantik) mau pun terhadap media ‘syerem’ yang bisa memacu adrenalin kita.
Kita kudu nyadar kalo seorang aktivis dakwah sering jadi panutan dan teladan bagi orang lain. Nggak cuma Allah yang mengawasi tiap omongan ama tingkah lakunya, tapi juga umat. Gimana jadinya kalo pas ngisi pengajian begitu bersemangat bilang pacaran itu haram. Tapi, pas doi lagi kasmaran, perilakunya nggak beda ama aktivis pacaran. Apalagi pake ngeles dengan istilah ‘pacaran islami’. Idiih…malu ama umat tuh! Firman Allah Swt: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS ash-Shaf [61]: 3)
MENENTUKAN PRIORITAS
Sobat muda muslim, kalo kamu udah bisa atau minimal lagi belajar mengendalikan rasa cinta, sekarang kamu udah pantes buat belajar menentukan prioritas. Karena untuk urusan ekspresi cinta, Islam cuma mengatur dua tahap. Khitbah dan nikah. Nggak ada lagi. Masalahnya, kadang para aktivis dakwah yang mayori-tas pelajar terbentur dengan banyak hal sampe kerepotan memilih satu di antara dua pilihan itu. Kalo pun ada yang berani, lebih didominasi faktor emosi. Bisa jadi was-was sang target ‘disamber’ duluan ama yang laen (Emangnya bis kota maen serobot?)
Kalo mau khitbah dulu, kecil kemungkinan bisa bertahan sampe kamu lulus sekolah atau kuliah terus dapet kerja. Bawaannya pasti pengen segera ijab qabul. Padahal, segala kebutuhan keuangan masih disubsidi penuh ama ortu. Bakal berabe ke depannya. Perhatian kamu bakal terpecah. Antara beresin kuliah atau matengin rencana nikah. Bisa-bisa nggak optimal dua-duanya. Padahal kehidupan rumah tangga bakal menuntut suami untuk mencari nafkah materi. Nggak cuma bermodalkan cinta. Sementara ijazah pendidikan pun adakalanya punya peranan bagi sang suami demi mem-peroleh nafkah.
Nah, kalo udah gini bagusnya kita pusatkan perhatian pada aktivitas tholabul ‘ilmi yang lagi digeluti. Biar masa depan juga terbingkai dengan rapi. Tapi, bukan berarti kita ngelarang kamu mikirin soal nikah lho. Nggak. Silakan aja kalo kamu mau mulai mempelajari soal pernikahan lebih dalam. Karena terpancing ama senior yang bilang nikah itu nikmat, indah dan ibadah, misalnya. Tapi kamu kudu siap hadapi risiko yang bakal menyedot perhatian kamu. Berani ambil risiko? Pikirkan dengan mateng!
Oke deh sobat. Kita percaya kamu-kamu bisa mengambil pilihan dengan bijak. Jangan sampe CBSA bikin aktivitas dakwah kamu kendor. Catet, sekali lagi kita ngingetin, dakwah itu untuk mendapat ridho Ilahi. Bukan karena orang yang dikasihi. Dan jangan takut keduluan, karena jodoh masing-masing nggak akan kelayapan. Oke? Tetap semangat!
Friday, July 03, 2009
TAKAMUL DALAM GERAKAN ISLAM
Imam Syahid Hasan Al banna telah menegaskan tentang keharusan takamul dalam gerakan Islam. Beliau mengatakan:
“Diantara hasil pemahaman terhadap Islam yang bersifat umum dan menyeluruh menurut kami ialah bahwa fikroh kami ini meliputi seluruh aspek ishlah ‘perbaikan’ di tenah umat. Oleh sebab itu, tanpa rasa ragu kami dapat mengatakan bahwa dakwah kami adalah:
- 1.) Dakwah Salafiyah, sebab dakwah kami mengajak kembali menuju Islam melalui sumbernya yang jernih, yaitu: Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya.
- 2.) Thariqah Sunniyah, sebab dakwah kami membawa para pengikutnya untuk mengamalkan sunah yang suci di segala bidang aqidah, ibadah, dan semua bidang yan mereka mampu melakukannya.
- 3.) Hakikat Shufiyah, sebab pengikut dakwah ini menerti bahwa dasar dari kebaikan adalah kesucian jiwa, kebersihan hati, beramal tanpa henti, menjauhkan diri dari kebanyakan manusia, cinta karena Allah, dan menjalin hubungan atas dasar kebaikan.
- 4.) Hai’ah Siyasiyah ‘Organisasi Politik’, sebab para pengikut dakwah ini menuntut perbaikan undang-undang didalam negeri, melihat kembali hubungan dengna bangsa-bangsa lain di luar negeri serta pembinaan rakyat mengenai kejayaan dan kemuliaan.
- 5.) Jama’ah Riyadhiyah ‘Perhimpunan Olah raga’, sebab para pengikut dakwah ini memperhatikan tubuh mereka, memahami bahwa mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin yang lemah sesuai dengan sabda Nabi saw. Tugas-tugas dalam Islam tidak mungkin dapat dilaksanakan secara lengkap dan benar kecuali dengna fisik yang kuat.
- 6.) Rabithah ‘Ilmiyah Tsaqofiyah, sebab menuntut ilmu dalam Islam adalah kewajiban setiap muslim dan muslimah. Disamping itu, semua departemen dalam jama’ah ini pada dasarnya merupakan lembaga ta’lim dan tatsqif ‘pengajaran dan pembekalan wawasan’ serta merupakan institusi untuk tarbiyah jasadiyah ‘fisik’, aqliyah ‘akal’, dan ruhiyah ‘mental’.
- 7.) Syirkoh Iqtishadiyah ‘Perserikatan Ekonomi’, sebab Islam memberi perhatian pada pengurusan harta dan mengusahakannya melalui cara yang benar.
- 8.) Fikrah Ijtimaiyah ‘Gagasan Sosial’, sebab para pengikut dakwah ini memberi perhatian kepada berbagai penyakit masyarakat Islam, berusaha untuk menemukan jalan mengobatinya dan menyembuhkan umat darinya.
Demikianlah, kami melihat bahwa makna Islam yang komprehensif telah menjadikan pemikiran kami bersifat menyeluruh terhadap semua aspek perbaikan dan membimbing aktivitas kami pada semua aspek tersebut. Pada saat orang lain memikirkan salah satu aspek saja, kami justru memikirkan semua aspek. Kami memahami bahwa Islam memang meminta kita memperhatikan semuanya.”
Wednesday, July 01, 2009
bismillahirrohmaanirrohiim....Ya Allah, jarang hamba mensyukuri nikmat usia ini...
betapa banyak waktu yang Engkau beri masih hamba sia-siakan
Ya Allah, jarang hamba meminta untuk Engkau bangunkan di pagi hari...
betapa sering juga hamba lupa bersyukur ketika memulai hari
Ya Allah, hari ini engkau masih berkenan menggenapkan usiaku
Berikanlah bimbingan dan petunjuk kepada hamba untuk memperbaiki diri
Berikanlah hamba kekuatan untuk senantiasa istiqomah di jalanMu
Anugerahi hamba dengan ilmu dan rizki untuk senantiasa memberi kemaanfaatan kepad umat..
Berikanlah kekuatan untuk sabar menghadapi ujian dan cobaan dari Mu
Ya Allah...
dekatkanlah hamba dengan Al Qur'an..
mudahkanlah mata hamba untuk menangis bersimpuh kepada Mu..
eratkan ukhuwah hamba dengan para jundi-jundi dan mujahid Mu..
Ya Allah... berikan petunjuk jalan kepada hamba untuk sampai pada Ridlo dan Maghfirohmu...
Amiin....
Saturday, June 27, 2009
Mohon maaf, sekali lagi memprovokasi dan entah berapa kali lagi saya harus memprovokasi. Semoga cerpen yg saya tulis lima tahun yang lampau di Sudan ini bisa sedikit menggoyahkan pendirian para ikhwan. Agar setengah dien itu cepat terpenuhi, agar segala gundah dalam hari segera sirna. Agar kuat dakwah ini, jika ditopang dengan kader2 yang tangguh luar dalam ... selamat terprovokasi, dan selamat tinggal keraguan.
SELAMAT TINGGAL KERAGUAN
Rini Cahyani, nama yang telah menggetarkan seluruh persendianku. Delapan bulan yang lalu. Tepatnya setelah dua bulan dari kelulusanku dari jurusan Teknik Industri kampus UI Depok.
Nama itu muncul di bagian paling atas dua lembar kertas yang disodorkan Ustad Madani padaku. Sebuah nama yang masih asing bagiku. Namun justru itulah yang membuat jantung ini berdebar lebih cepat. Wajahkupun tak malu mengeluarkan rona merah-birunya. Aku penasaran ? Jelas !
Tetapi untunglah ustad dapat menangkap gelombang penasaran dalam raut mukaku. Setelah sempat terdengar batuk-batuk ringan, beliau mulai mengeluarkan suara khasnya.
" Gimana akhi, sudah antum baca semua biodatanya khan ..?"
Aku tak langsung menjawab. Semua butuh kehati-hatian. Setiap kalimat yang meluncur dari lisanku saat ini, dapat mengubah jalan hidupku di masa mendatang. Tetapi ustad Madani masih terus menebak-nebak alur pikiranku,
"Apakah beliau tidak memenuhi kriteria yang antum tuliskan ? "
" Bukan begitu ustad, tapi… ",. Sekali lagi aku harus berpikir keras.
" Toyyib, antum baca deh terlebih dahulu. Tapi jangan lupa teh dan gorengannya jangan dicuekin ya .. "
" Kalau yang itu… nggak usah ditawarin. Insya Allah kita habiskan Ustad…."
Ustad tersenyum renyah meninggalkan aku dalam bingung. Bukan sekedar bingung. Ada getaran aneh tapi agung dalam kebingunganku. Sementara dua lembar kertas di tanganku malah semakin angkuh. Mencoba menari-nari dalam hatiku.
Masalah tidak memenuhi kriteriaku ? Ah, sebenarnya itupun bukan sesuatu yang kaku bagiku. Namun bagaimanapun aku harus lebih teliti. Kubaca dengan cermat deretan kalimat-kalimat dibawah nama tersebut.
Nama… Rini Cahyani bin Soewandi …..
Soewandi ..? orang Jawa ? atau bahkan keturunan keraton Surakarta ?. Gimana kalo jadi nikah nanti, apa harus pakai adat jawa ? Ditonton ratusan orang di bangsal kencana ?. Memakai blangkon dan keris yang tersembunyi ? Wah ! Apa kata Dunia Islam nantinya ? Seribu satu pertanyaan yang kurang esensial mulai bersliweran mengganggu pikiranku. Aku beristighfar tiga kali. Nampaknya syaitan masih bersemangat untuk menunda-nunda azamku untuk menikah. Bisikannya yang bertabur keraguan itu harus segera kuenyahkan.
Bismillah. Mulai kubaca lagi deretan selanjutnya dengan lebih teliti. Tiap huruf, kata bahkan koma dan titik sangat menentukan !!.Semoga ustad lebih sabar menunggu.
Tempat Tanggal Lahir… Magelang, 23 Juni 1978..
Magelang ? Pasti suku Jawa. Aah.. bukan masalah besar. Toh aku tak pernah mencantumkan jenis suku pada daftar kriteria yang aku serahkan pada ustad. Apalagi orangtuaku paduan dinamis dari suku Melayu dan Bugis. Dan tak pernah kulihat ada pertikaian yang menyangkut SARA di rumahku.
Tapi bagaimana kalau ortunya Kejawen ? Hiii…bagaimana kalau diharuskan mandi kembang tiap malam jumat nanti. Brrr…dingin. Belum lagi nyuci keris dan seperangkat jimat tiap malam purnama ?. Wah, aqidah islamiyah dan dakwah bisa terancam nih. Apa kata Dunia Islam nanti ? Duh, pikiranku mulai ngelantur lagi.
Tapi tahun kelahiran ? 1978 ? Dua tahun lebih muda dariku. Ini berarti ada kesalahan. Apa mungkin ustad salah baca dengan permintaan tertulisku sepekan yang lalu ? atau beliau punya penafsiran lain ?. Kalau tidak salah, yang aku tuliskan dan inginkan adalah minimal seusia dengan ku, atau jika memungkinkan lebih tua sekian tahun dariku.
Ini bukan sok pahlawan sebagaimana sering dituduhkan beberapa ikhwah kepadaku. Ini masalah muyul akhi, begitu aku menjawab tuduhan tersebut. Selama ini aku cenderung mudah berinteraksi dengan orang-orang yang lebih dewasa dariku.
Tapi ini ? dua tahun lebih muda ? Bagaimana kalau masih kekanak-kanakan ? Bagaimana kalau ngajinya belum lurus ? Mengapa ustad memberi pilihan yang ini sih ?. Kembali si syaiton asyik membenamkan pikiranku di lumpur keraguan. Kenapa aku harus terpedaya lagi ? Tsiqoh pada ustad adalah pilihan terbaikku saat ini. Bisa jadi umurnya masih muda, tapi dewasa dalam memaknai hidup. Yah, semoga.
Kulanjutkan mencermati barisan kalimat selanjutnya di secarik kertas HVS tersebut,
Alamat …. Perumahan Perwira TNI AL Blok C 3 – Cilandak, Jakarta Selatan..
TNI AL dan Soewandi ? Putri seorang perwira militer ? Calon mertuaku seorang militer ? Apakah ia juga mendidik putrinya dengan gaya militeristik ?. Bagaimana kalau sang putri ternyata lebih militer dari orangtuanya ? Bagaimana kalau aku harus di uji dulu lewat adu fisik dengan salah seorang anak buahnya ? atau bahkan kakaknya barangkali ? Sebagaimana kisah-kisah pendekar yang pernah aku baca di komik-komik waktu kecil dulu.
Ah, tak perlu ragu. Ini Cuma bisikan setan. Sekarang bukan jaman purba yang mengandalkan otot dan kekerasan. Lagi pula, kalau memang diperlukan, minimal aku masih bisa bertahan dengan sisa-sisa kejayaan latihan thifan-ku di kampus dulu.
Ku menoleh sebentar ke arah ustad Madani yang duduk di depanku. Nampaknya ia cukup paham dengan apa yang ada dipikiranku. Ia hanya tersenyum kecil, mengangguk, sedikit berdehem dan kembali larut dalam konsep khotbah Jum'at yang harus dibawakannya di Masjid UNJ besok siang.
Aku pun kembali asyik menelaah deretan kalimat di secarik kertas, yang menurutku masih menyimpan berjuta misteri.
Pendidikan .. Lulus S 1 Fakultas Sejarah Universitas Gajah Mada tahun 2001..
Nah ! Ini sesuai dengan kriteria, non eksakta. Aku lulusan eksak, teknik Industri dan ia anak sosial, non eksakta, insya Allah matching dan cukup mewakili konsep tawazun, Amiin.
Organisasi …Humas BEM, Keputian LDK, Remas, Pengajar TPA dan bla…bla..bla...
Aktifis kelas berat ? Siapa takut. Bukankah masa lima tahun kuliah telah kuhabiskan di berbagai kegiatan-kegiatan kampus. Baik ekstra maupun intra kampus. Cara kerja, kuliah, belanja, dakwah dan pergaulan ala aktifis semua sudah 'mendarah daging' bagiku. So, kalau ketemu dengan aktifis yang satu ini, insya Allah tidak perlu susah beradaptasi. Semoga saja ya. Teriakku dalam hati.
Pekerjaan .. Guru Tetap di SLTP Islam Terpadu Nurul Fikri Mata Pelajaran Sejarah
Ya Allah .! Aku merasakan detak jantungku berjalan lebih cepat. Keringat dingin nampaknya akan menetes di dahiku. Wajahku tak ketinggalan ikut bereaksi. Tegang. Menambah keterkejutan yang melahirkan kegelisahan baruku.
Tepat pada waktunya ! Ustad Madani menoleh sejenak ke arahku. Dengan mudahnya ia bisa menangkap kegelisahan yang tersirat dari wajahku. Masih dengan tenang. sejuk dan senyuman khasnya, ia menegurku.
" Ada yang mengganjal akhi ?"
" Eeeng… ada.. Ustad, Anu… eee.. benarkah ukhti ini salah seorang pengajar di SLTP IT Nurul Fikri, Depok ? "
Ustad Madani membenarkan letak kacamatanya. Tanda rasa penasarannya mulai tergugah.
" Ya, betul. Ukhti Rini baru dua minggu yang lalu diangkat sebagai pengajar tetap di sana. Sebelumnya, sudah tiga bulan ia mengajar sebagai guru honorer."
" Tapi, ustad …. ", aku terhenti sejenak untuk mencoba lebih tenang.
" Ada yang antum risaukan dengan status gurunya itu ?. Bukankah itu pekerjaan yang sangat mulia akhi Fajar ? ".
Sebuah pertanyaan yang wajar dan benar. Tidak ada yang salah dengan status ukhti Rini sebagai pengajar. Tapi, pengajar di SLTPIT Nurul Fikri ? Mungkinkah ia dan keluarganya akan menerima pinanganku nantinya.
Ustad Madani mulai menyelidiki lebih dalam,
" Atau Akh Fajar masih ragu untuk menikah ? Ingat akhi, usia antum lebih dari cukup lho..!"
" Eh..bukan begitu Ustad. Masalah nikah kan sudah ana azamkan setahun yang lalu. Tapi masalahnya ukhti ini…. "
Ustad Madani tampak tersenyum dan memotong dengan pelan,
" Ukhti Rini insya Allah jauh lebih siap dari antum akhi. Ana tahu persis tetang dia. So, what's the problem ?"
" Ehm.. baiklah. Permasalahannya seperti ini Ustad, mungkin antum belum tahu. Awal bulan yang lalu perusahaan tempat ana bekerja bangkrut dan memecat semua karyawannya termasuk ana…"
Ustad kembali menebak-nebak apa yang ada di benakku,
" Jadi kembali ke masalah ma'isyah dan rizki nih … "
" Bukan itu ustad, untuk pernikahan ini insya Allah ana masih ada simpanan….tapi masalahnya .."
"Iya, Masalahnya ….."
Aku menarik nafas dalam-dalam. Bicara sama ustad Madani harus jelas. Jangan sampai beliau salah tafsir.
" Masalahnya Ustad…. , sudah satu minggu ini ana diterima bekerja di SLTP Nurul Fikri . Tepatnya,…eeng… sebagai petugas kebersihan sekolah …."
Ah.. akhirnya.. keluar juga kelu dalam lisanku.
Muka ustad Madani agak berubah. Kini beliau tahu permasalahanku sebenarnya. Yaitu….keenggananku sebagai seorang tukang sapu sekolah untuk bersanding dengan salah satu dewan gurunya.
***********
Muka pria setengah baya di depanku masih datar. Hanya sesekali asap rokoknya menambah ketegangan dalam jantungku. Kolonel Soewandi namanya. Yah, akhirnya aku datang juga di rumahnya. Berbekal iman dan takwa, begitu kata ustad Madani setengah jam yang lalu. Sebelum melepasku pergi untuk sebuah mission imposible ini. Baru kali ini aku meminang, putri solo, anak perwira militer lagi ! Ya Rabb !
" Jadi, Nak Fajar lulusan Teknik Industri UI tahun kemarin ya….wah.. hebat. Ya…Terus, sekarang kerja di mana …? Perusahaan Asing atau di BUMN semacam Pertamina, Telkom, PJKA… atau malahan di Bulog ? "
Perusahaan Asing ? BUMN ? .Gubraaaak ! Seolah kepalaku tertimpa dua batu bata yang di lempar dari arah berlawanan. Yang satu tepat mengenai wajahku, sementara sisanya tepat mengenai tengkorang belakangku. Uugh !
" Ah.. tidak juga Pak. Sebelumnya saya sempat kerja di perusahaan Farmasi. Tapi sekarang saya satu kantor dengan Rini, putri Bapak .. "
" Oooo….di mana itu… SLTP Nurul Fikri ya….bagus..bagus… cinta lokasi nih ceritanya ? ".
Pak Soewandi sedikit tersenyum menggoda. Bagiku malah tambah menyeramkan. Cinta lokasi ? Memangnya saya aktor. Dan sejak kapan putrinya main film ?. Nah, Pertanyaan selanjutnya bisa di tebak …..Bismillah. Aku akan menjawabnya..meski kemungkinan terburuk aku mungkin akan di usir. Innallaha ma'ana.
" Di sekolah, nak Fajar ngajar mata pelajaran apa ?. Kalau lihat latar belakang akademis, kalau Bapak nggak salah…pasti Matematika atau Fisika ya ..? "
" Eee… tidak juga Pak. Saya belum mengajar. Saya masih ditempatkan di bagian Umum, dibawah koordinasi bidang Tata Usaha……"
" Wah .. Bapak jadi bingung. Maksud nak Fajar jadi dewan Pengawas gitu…konkritnya gimana……. ? "
" Engg…Tepatnya….saya jadi petugas kebersihan sekolah Pak ! "
" Apaaaa ? Petugas kebersihan sekolah !!!!! "
Beberapa detik berlalu dengan cepat. Diam. Tak ada suara dan gerakan sedikitpun keluar dari sosok berwibawa di hadapanku. Hanya bola matanya yang terus menatap tajam ke arahku. Mungkin ada yang janggal di wajahku.
Diam dan bisu. Seolah kami telah bersepakat sebelumnya.
Terlambat, sudah kepalang basah. Sudah terlanjur aku melangkah. Tak mungkin aku melarikan diri saat ini. Bisa-bisa, satpam rumah akan membekukku dengan bangga. Atau kemungkinan lain, bisa jadi Kolonel Soewandi sudah siap dengan pistol Bareta-nya, dan dengan mudah ia akan melumpuhkan kedua kakiku, sebagaimana sering kulihat saat liputan kriminal penangkapan bandar narkoba di televisi.
Ngawur ! Kenapa aku masih suka ngelamun di saat-saat menentukan seperti ini ? Allahu akbar. Aku berseru dalam hati memohon kekuatan.. Apapun yang terjadi setelah ini, aku siap menerima kenyataan.
***************
“ Kaaak Fajaaaaar, hayoooo ngalamun dedee ya ? Kapan kita berangkat ke sekolah nih ? “
Astagfirullah ! Suara manja Rini, istriku, membangunanku dari lamunan yang menegangkan. Sementara tangan kananku masih setia dengan dua lembar kertas sumber lamunanku, beberapa menit yang lalu. Ah, terlambat ! Ketahuan ! Dua mata indah istriku menangkap cepat ke arah dua carik kertas di tangan ku.
“ Eh, lagi baca apaan Kak ? hayooo….biodata dedee pas taaruf yaa ? Ngakuuu ? Pasti tadi lagi ngalamun aku too. .Nggak papa kok, Istrimu ini pantes kok buat bahan ngalamun…”.
“ Adaaaaaw !!! “.
Kali ini aku kalah sigap. Cubitan mesranya tepat menghujam pipi kananku. Istriku terus menggodaku manja, sementara rona merah biru kembali melanda raut mukaku. Enam bulan paska walimah, suasana bulan madu tetap abadi di rumah ini.
“ Dee… kakak mau tanya serius nih, boleh ? “
“ Serius ??? ada apa kak ? boleh nooo… aku kan istrimu… mitsaqon gholidzo…inget lo kak .. “
“ Dee.. kalo boleh tahu, Bapak pernah cerita nggak sama dedee sebab beliau nerima kakak sebagai menantunya yang petugas kebersihan sekolah ? “
“ Ooo… itu too yang dilamunin tadi…? “
“ Dan tahu nggak ? Pas kakak bilang pekerjaan kakak tukang sapu… Bapak tuh sempat diam lamaa gitu… menatap tajam wajah kakak, sebelum akhirnya menyuruh kakak datang seminggu lagi… “
“ Lha iya jelas Kak, lha wong salah satu pertimbangan Bapak nerima kakak kan wajah kakak ? “
Bola mataku melebar. Ingin rasanya saat ini menyambar sebingkai cermin di ruang tengah, sekedar untuk meyakinkan hatiku tentang kebenaran ucapan istriku barusan.
“ Lho Kok ? Maksud dedee pasti Bapak yakin yaa kalo wajah kakak bisa memperbaiki keturunan keluarga Raden Soewandi ? “
“ Yeee…. GR banget nih Kakak ! Bukan itu maksudnya….Sebelum walimah, Bapak dulu pernah cerita ke dedee… Katanya, beliau nerima kakak tuh karena pas merhatiin wajah kakak kok kayaknya persis Letnan Mahmud, komandan peleton Bapak pas operasi integrasi Timor-Timur tahun 1975… Nah ceritanya.. Letnan Mahmud tuh yang nyelamatin Bapak dari berondongan peluru saat terjadi kontak peluru dengan milisi Freetilin yang brutal ! “
Kembali dua bola mataku melebar.
“ Wah…heroik banget ya, jadi ceritanya Bapak mengira saya anak Letnan Mahmud , trus mau balas jasa gitu yaa ? “
“ Bukan, Letnan Mahmud justru meninggal tertembak peluru musuh sesaat setelah menyelamatkan Bapak…. Mungkin Bapak agak tersentuh melihat wajah kakak yang persis Letnan Mahmud, dan ingin terus mengenangnya dengan menjadikan kakak sebagai menantunya .gitchuuu…..”
“ Oooooo… alah alaaaaaah…..Trus sekarang gimana ? “
“ He..he…Sekarang ? Bapak pernah bingung lho, dan bilang sama dedee…sekarang kok suamimu jadi nggak mirip sama Letnan Mahmud yaa ? “
Hem.. Aku tersenyum dalam ketenangan. Tidak salah dan tidak ragu lagi. Ini semua pertolongan Allah. Bahkan bukan saja saat diterimanya pinanganku oleh Kolonel Soewandi. Satu bulan setelah pernikahan, pihak sekolah mengangkatku jadi tenaga pengajar. Dan Alhamdulillah, sepekan yang lalu, aku resmi jadi guru tetap bidang Fisika di SLTPIT Nurul Fikri !.
Subhanallah, Walhamdulillah wa laa ila ha illa Allah !! Aku merenung lebih jauh atas segala yang kulalui saat proses menuju gerbang pernikahan. Jika seseorang telah berazam, dan meninggalkan segala keraguan, Allah pasti akan memudahkan !
Betapa tidak ? Bagaimana mungkin aku yang berambut lurus, berhidung standar pribumi, bisa serupa dengan Letnan Mahmud yang berambut cepak, dan keturunan Pakistan ? Subhanallah !
“ Kaaaak ! berangkat sekarang yuuk, udah jam setengah tujuh loo …”
"Iyyyaaaaa…!!!"
Sejurus kemudian, Istriku sudah sigap menodongkan kunci sepeda motor tepat ke arah keningku
. Dor !
Tiba-tiba wajahku memerah kembali. Ada yang mendarat telak di pipi kananku. Kali ini bukan cubitan.
( selesai)

