Followers

Saturday, July 02, 2011

Ketika Da'wah Tiada lagi Cinta

[ Dar Az-Zikra, Rabi'ul Akhir 1432H ]


Ketika da’wah tiada lagi cinta

Banyak yang mengaku da’wah tapi tak punya ilmunya

Banyak buku bertumpuk sebatas hiasan dinding, tak lagi di kaji tak juga dibaca

Majlis-majlis ta’lim sepi, sedikit sekali yang istiqomah menghadirinya

Lantas apa makna al Fahmu?

Dari mana didapatkannya ilmu?

Ataukah sudah tiada lagi cinta dan rindu terhadap surga?

Padahal para malaikat-Nya senantiasa menaungi majlis-majlis ilmu dan mencatat nama-nama hadirin di daftar penghuni surga..


Ketika da’wah tiada lagi cinta

Banyak yang mengaku berda’wah, tapi hanya sekedar mengejar kepentingan pribadi semata

Tak lagi mampu menahan diri dari godaan-godaan kesenangan dunia

Lalu dimana letak al Ikhlas?

Apakah da’wah hanya sekedar mencari harta, jabatan dan popularitas?

Bukankah hanya dengan ikhlas, kita meraih ridlo-Nya?

Ya Allah, limpahkanlah rahmat-Mu kepada generasi terbaik yang mengajari kami makna ikhlas...

Engkau berikan dunia dalam genggaman tangan mereka, tapi tak sedikitpun dari dunia mengisi hati mereka

Karena hanya satu tujuan mereka, memandang wajah-Mu di surga


Ketika da’wah tiada lagi cinta

Deretan nama-nama tertulis rapi dalam daftar organisasi, tapi tak terlihat lagi indahnya amal jama’i

Segelintir orang menanggung beban da’wah

Sebagian besar yang lain, tak tau lagi entah kemana

“afwan, saya ada agenda penting.... Afwan saya ada kerjaan dikantor....

Afwan ada agenda keluarga..., afwan tugas kuliah menumpuk..”

Dan banyak lagi afwan-afwan lainnya

Dimanakah lagi al ‘Amal?

Bukankah tiap-tiap jiwa dihisab atas amalnya sendiri-sendiri,

Tiada berguna nasab, kelompok, atau organisasi...


Ketika da’wah tiada lagi cinta

Tak pernah terasa lagi kehangatan kebersamaan dengan saudara

Banyak lisan dikotori aib saudaranya

Banyak hati dikotori prasangka

Tak ada lagi hormat dan taat pada qiyadah dan orang tua

Tak terasa lagi kasih sayang dan teladan kepada yang muda

Ukhuwah, takaful, ta’awun, itsar, hanyakah sekedar teori semata?


Ketika da’wah tiada lagi cinta

Di sepertiga malam tak lagi banyak mata-mata terjaga

Tak terdegar lagi riuhnya para aktivis membaca ayat-ayat suci-Nya

Al ma’tsurat sudah banyak yang lupa, bahkan sedikit sekali yang mencoba menghafalnya

Lantas bagaimana hati bisa peka?

Bagaimana maknawiyah tetap terjaga?

Bagaimana ghiroh tetap menyala?


Ketika da'wah tiada lagi cinta pada-Nya

Maka yang tumbuh kemudian "cinta" manusia

Banyak hati tak lagi terjaga

Lisan, hati, pikiran mengikuti syahwat semata


Ketika da’wah tiada lagi cinta

Maka tumbuhkanlah cinta...

Hadirkanlah cinta...

Cinta pada Allah, cinta pada Rasulullah, cinta pada da’wah

Yang dengan harta dan jiwa, para pendahulu kita telah membayarnya

Dan mereka mendapat balasan surga dari Allah ta’ala

Ya Allah, Yang Maha Membolak-balikkan hati

Teguhkanlah hati kami di atas agamamu

Teguhkanlah hati kami dalam ketaatan kepadamu

Teguhkanlah hati kami dalam berda’wah kepadamu

Friday, February 25, 2011

LOWONGAN TERBARU (MARET 2011)

Yayasan Solo Peduli membutuhkan:

  1. Kepala Sekolah SDIT SOLO PEDULI (Klaten)
  2. Staff Administrasi
  3. Staff Fundraising

Syarat Umum:

  1. Muslim/Muslimah (1,2,3)
  2. Pendidikan S1 Pendidikan (1)
  3. Pendidikan SMK Akuntansi / D3 Akuntansi (2)
  4. Pendidikan SMK sederajat (3)
  5. Aktif I organisasi Islam maupun masjid (1,2,3)
  6. Usia Maksimal 30 tahun (1), 25 tahun (2,3)
  7. Tidak merokok

Kelengkapan persyaratan

  1. surat lamaran
  2. Fotocopy ijazah teraikhir
  3. CV
  4. Pas photo 4 x 6 berwarna 2 lmbar
  5. Piagam / sertifikat

Lamaran dikirim ke :

HRD Solo Peduli, GRiya SOLOPOS Lt.3

paling lambat 4 MARET 2011

Sunday, January 30, 2011

KHITBAH…

Alhamdulillah hari ini diberikan lagi kesempatan & kekuatan oleh Allah untuk bisa kembali menuliskan pengalaman hidup. Setelah hampir satu bulan tidak sempat menulis karena sibuk persiapan ujian. Saya menulis kisah ini hanya sekedar membagi pengalaman, kalau ada yang bermanfaat semoga bisa menjadi pelajaran bagi teman-teman yang lain. Kalau ada yang kurang baik semoga juga menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tidak mengulangi, dan saya mohon tadzkirohnya.

================

Beberapa waktu yang lalu saya sudah berazzam untuk menggenapkan separuh agama. Maka dari itu saya segera melengkapi biodata diri yang sebenarnya sudah lama sekali saya persiapkan sehingga tidak perlu waktu lama pun sudah jadi. Setelah itu waktunya mengumpulkan keberanian untuk menyampaikannya kepada guru ngaji.


“Ada apa Akhi, kok tumben tiba-tiba silaturahmi?”, pertanyaan telak dari sang guru sesaat setelah saya sampai rumah beliau. Maklum kalau tidak ngaji tidak pernah silaturahmi.


“Langsung saja ustadz, eemm…anu… e… begini ustadz. Saya sudah berazzam untuk melanjutkan tahapan amal yang kedua : membina keluarga yang islami.”, jawaban yang sedikit bergaya untuk meyakinkan sang guru meskipun dengan lidah agak kelu.


“Maksudnya antum sudah mau menikah?”


”kira-kira begitu ustadz.”


”Antum sudah siap akh?”, sepertinya beliau kurang begitu yakin, wajar saja ini pernikahan yang pertama kali.


”Kalau menurut ustadz bagaimana?”


”Lhoh kok malah tanya saya. Kalau sekilas yang saya tau dari antum, secara dzohir sih insyaAllah antum siap. Tapi terkait persiapan mental dan ruhiyah antum sendiri yang tau.”


”InsyaAllah siap ustadz, mohon bimbingannya saja.”


”Kriteria calon istri seperti apa yang antum inginkan akh?”


”Saya tsiqoh saja ustadz yang penting sholihah dan menjaga diri.”


Setelah perbincangan malam itu, tak lama kemudian sang guru memberikan biodata si Fulana (siapa dia? Tunggu tanggal mainnya ya..). Dari informasi yang pernah saya dapat, bagi ikhwan yang mengajukan proses nikah katanya memang tidak perlu menunggu lama. Salah seorang ustadz pernah meyampaikan, biodata akhwat itu mengalir seperti kran air tapi biodata ikhwan seperti air menetes dari pipa yang bocor setitik-demi setitik.

Setelah beberapa kali istikharah, akhirnya saya menyampaikan kepada ustadz untuk melanjutkan ke proses ta’aruf. Tidak perlu membentuk tim investigasi khusus untuk mencari informasi, cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui memberikan kemantapan di hati.


Proses ta’aruf pun berjalan lancar dan tidak berbelit-belit. Jangan salah faham ya, bukan karena kami sudah ta’aruf swadaya sebelumnya tapi sejak awal saya memang sudah memantapkan hati yang penting sholihah. Si Fulana pun untungnya juga tidak pasang target tinggi.


Setelah proses ta’aruf dan musyawarah kedua belah pihak selesai, tibalah waktu saya bersama sang guru untuk datang ke rumah akhwat menyampaikan khitbah kepada orang tua si Fulana. Sore itu saya bersama sang guru dan beberapa temen ngaji bersiap untuk berangkat ke rumah Fulana dengan menyewa sebuah mobil. Kalau yang ini bukan untuk bergaya, masalahnya waktu tempuh ke rumah Fulana sekitar dua sampai tiga jam perjalanan jadi tidak mungkin naik motor rame-rame. Itu sewa mobil pun yang paling murah.


Rombongan kami tiba di rumah Fulana sekitar ba’da Isya’. Keluarga Fulana pun menyambut kedatangan kami dengan baik. Sesampai disana kami dijamu makan malam terlebih dahulu. Makanannya yang bermacam-macam seperti ini nampaknya sudah benar-benar disiapkan sejak tadi. Alhamdulillah, sepertinya bakal dapat calon mertua yang baik.


Selesai makan dan berbincang-bincang ringan, akhirnya tibalah waktu untuk menyampaikan maksud kedatangan kami kerumah Fulana. Sang guru yang akan mewakili menyampaikan khitbah kepada orang tua Fulana.



Baru saja sang guru mau menyampaikan hal tersebut, tiba-tiba di depan rumah ada seseorang yang teriak-teriak, ”BANGUN-BANGUN, QIYAMUL LAIL”....

Saya pun heran, jam segitu kok ada orang teriak-teriak Qiyamul lail. Semakin lama suaranya terdegar semakin keras, ”BANGUN-BANGUN, QIYAMUL LAIL AKHI..”


Pandangan saya kemudian menjadi buyar, sesaat mencoba mengumulkan kesadaran ternyata sedang terbaring diatas tempat tidur. Subhanallah, ternyata semua tadi hanya mimpi. Beberapa saat termenung diatas tempat tidur, menengadahkan tangan meminta kepada Yang Maha Memberi Mimpi,

”Ya Rabbi, semoga mimpi tadi menjadi pertanda kebaikan bagi hamba-Mu ini. Semoga Engkau memberikan kepada hamba seseorang yang baik dari keluarga yang baik dan melalui proses yang baik dan berkah. Aamiin...”


Saturday, December 11, 2010

LOWONGAN GURU DESEMBER 2010

SMP-SMA INSAN CENDEKIA AL-MUJTABA SUKOHARJO, membutuhkan guru:

1. Matematika
2. Fisika
3. Kimia
4. Biologi
5. Bahasa Indonesia
6. Bahasa Inggris
7. Kewarganegaraan
8. Ekonomi
9. Geografi
10. Sejarah
11. Sosiologi
12. Teknologi Informatika dan Komputer
13. Bimbingan konseling
14. LABORAN



Syarat:
- Muslim / Muslimah
- Usia minimal 26 tahun per Januari 2010
- Lulusan S1 untuk guru dan D3 untuk laboran
- IPK min 2,75
- Berpengalaman diutamakan
- Bersedia mengikuti ujian dan ditempatkan di Surakarta



Berkas Lamaran dikirim paling lambat 17 Desember 2010 ke:

SMP-SMA INSAN CENDEKIA AL-MUJTABA SUKOHARJO
Jl . Ovensari, Ds. Kadilungu, Baki, SKH
Telp (0271)6727302, kodepos 575556

Saturday, November 20, 2010

IBU PENJELAJAH 16 NEGARA

Tidak rugi ternyata lembur hari Rabu kemarin. Meski jari-jari seakan sudah bosan melekat ditempatnya, yang mungkin saja itu wujud protes mereka sejak pagi sampai jam 10 malam diberi amanah menggenggam golok mencincang daging sapi qurban. Tapi alhamdulillah banyak pelajaran didapat hari itu.

1. Pelajaran pertama : Bawalah golok atau pisau yang tajam kalau mau bantu proses pemotongan daging qurban.

Penting buat kita untuk mempersiapakan alat-alat qurban sehari sebelumnya kalau tidak mau malu di hari-H. Seperti yang saya alami kemarin, barangkali alokasi waktu buat mengasah golok sama lamanya dengan alokasi waktu mencincang daging. Untung saja pisau punya murid-murid yang lain sama tumpulnya, jadinya gak terlalu kelihatan sibuk sendiri mengasah golok. Bayangkan kalau disaat yang lain sibuk mencincang daging kita malah sendiri sebentar-sebentar mengasah pisau…

2. Pelajaran kedua : Jangan jadi ketua panitia qurban menjelang nikah.

Ceritanya yang jadi ketua panitia qurban kemarin adalah salah satu guru di sekolah. Hebatnya empat hari setelah idul Adha ternyata beliau mau walimatul ursy. Karena waktu itu mungkin saja beliau kurang fokus, banyak teman-teman panitia lain yang sedikit mengeluh karena semua kebijakan dan permasalahan akhirnya kembali ke bapak kepala sekolah. Bukan saya ngajari untuk menolak amanah dari masyarakat atau dari instansi tempat kita bekerja, tapi coba kita mengukur kemampuan diri sendiri. Tapi saya tetap acungi empat jempol kepada bapak ketua panitia. Disela-sela ruwetnya aktivitas hari itu, beliau masih sempat ngeprint dan bagi undangan walimah ke guru-guru dan karyawan termasuk ke saya.

3. Pelajaran ketiga : jangan duduk terlalu dekat dengan ibu-ibu.

Yang satu ini mungkin khusus buat konsumsi teman-teman ikhwan. Bayangkan saja dijadikan bahan bercandaan habis-habisan. Ada yang bilang mau dijadikan mantu … “sayang anak-anake ibu-ibu niki sampun mentas sedoyo mas, sampun kagungan putu sedoyo mas”. Ada ibu yang manggil “lhe…lhe…”, saya dikira salah satu murid SMA. Alhamdulillah ternyata terbukti kalau saya memang kelihatan masih muda. Yang bikin heboh lagi ada salah satu bapak CS yang nyelethuk “untung saja ibu’e dah tua pak, kalau masih muda bisa jatuh cinta….”. Serentak seperti paduan suara, bbrrrrrrrrrrrrr….

Sebenarnya kemarin tidak sengaja ambil posisi dekat gerombolan ibu-ibu. Niat saya hanya ingin sami’na wa atho’na kepada kakek saya saja, pasalnya beliau memberi wejangan ke saya sebelum berangkat : “goloke mbahe ojo kanggo nyacah balung yo lhe, kanggo ngiris daging wae mengko mundak gerimpil”. Kebetulan saja bagian nyincang daging adalah ibu-ibu dan murid-murid di sekolah. Akhirnya demi melaksanakan amanah sang kakek, terjebaklah saya di rombongan ibu-ibu tua yang ceria penuh tawa.

4. Pelajaran keempat : Jangan mau kalah dengan ibu penjelajah 16 negara.

Meski malu tiada tara dijadikan bahan bercanda, tapi ada sebuah pelajaran yang sangat berharga ketika satu lokasi dengan ibu-ibu perkasa itu. Salah satu ibu tua yang duduk di depan saya bercerita bahwa beliau sudah pernah tinggal di 16 negara. LUAR BIASA!!! Tidak hanya mampir atau wisata, tapi benar-benar tinggal dan menetap minimal tiga sampai empat bulan di tiap-tiap negara. Awalnya saya juga agak ragu dengan cerita beliau tapi seorang ibu yang duduk di sebelahnya kemudian menepis keraguan saya ketika beliau memberikan kesaksiannya. Sambil mencincang dan menimbang daging qurban, ibu tadi asyik bercerita, “saya pernah tinggal di Amerika, Arab, Irak, Spanyol, Korea …”. Sudah tiga benua beliau singgahi, saya jadi penasaran kemudian bertanya, “ ke Mesir pernah Bu?”. Dengan nada datar tanpa kesombongan beliau menjawab, “ Pernah mas, saya dulu tinggal di Kairo , itu lho sungai apa namanya…”, setelah kelihatan berdikir sebentar beliau melanjutkan, “iya sungai Nil, saya dulu tinggal di dekat pinggiran sungai Nil itu”. Mantab sekali, empat benua sudah dijelajahinya kawan. Beliau tambahkan lagi, “Yang belum pernah saya tinggali cuma Australia”.

Siapa mau mengikuti jejak beliau? Jangan mengira beliau miliarder, dosen, pengusaha, ilmuwan, apalagi pejabat. Beliau hanya bekerja di luar negeri sana. Pekerjaannya pun cukup unik, kadang jadi karyawan, kadang jadi koki, kadang juga nemeni dansa orang-orang bule. Kita yang sudah sekolah sampai sarjana jangan mau kalah dengan beliau. Tapi saya sarankan jangan mau diajak bule berdansa.

5. Pelajaran kelima : banggalah jadi orang Indonesia

Saya sampaikan pelajaran kelima ini sebagai rasa hormat saya atas semangat bapak-bapak, ibu-ibu, murid-murid, dan teman-teman kantor dalam prosesi qurban kemarin. Merekalah mungkin orang-orang yang masih memiliki semangat dan darah orang Indonesia asli. Mungkin saja mereka belum pernah makan makanan aneh-aneh dari barat. Kelihatan sekali rasa kekeluargaan, keakraban, semangat dan pantang menyerah.

Berbeda sekali dengan orang-orang Turki yang juga rekan-rekan dan pimpinan dikantor. Dari yang pimpinan sampai karyawan, dari yang tua sampai yang paling muda, dari yang paling tinggi sampai yang paling pendek seperti kita-kita, tak terlihat satu pun yang bantu proses qurban. Ada seorang bapak-bapak dengan rambut dan jenggot putih cuma mondar-mandir bawa kamera. Anak-anaknya apalagi, kesana-kemari gak jelas kerjaannya. Para guru saya lihat malahan pada duduk-duduk didepan komputer di ruang male teacher. Giliran malam hari tiba, saat teman-teman sebangsa dan setanah air masih pada sibuk mencincang daging, mereka malah pesta bakar sate sambil menyaksikan pertunjukan musik dari para murid. Benar-benar kesenjangan yang tidak sedap dipandang mata…

Banggalah teman-teman menjadi bangsa Indonesia dan jagalah kemurnian darah Indonesia yang mengalir dalam tubuh kita.

6. Pelajaran keenam : Pendidikan kalah dengan ketekunan.

Satu lagi pelajaran berharga yang saya dapat saat qurban kemarin adalah tentang ketekunan bekerja. Salah seorang ibu yang duduk tepat di sebelah kanan saya juga tidak mau ketinggalan menceritakan pengalaman hidupnya. Saat ini beliau sudah punya dua kendaraan roda enam dan dua kendaraan roda empat. Beliau sekarang adalah seorang juragan beras yang setiap pekan sering keliling keluar kota untuk berdagang beras. Kalau belum mendengar ceritanya, teman-teman pasti mengira beliau seorang Sarjana Ekonomi Manajemen atau seorang anak juragan kaya yang mewarisi usaha orang tuanya. Salah besar kalau teman-teman mengira demikian karena SD pun beliau tidak tamat. Dengan modal tekun, sabar, dan kerja keras, beliau bisa menjadi seorang juragan seperi sekarang.

Saya tidak kemudian menyarankan supaya teman-teman meninggalkan sekolah atau kuliah kemudian hanya bekerja mengejar harta saja, tapi ilmu tentang tekun dan kerja keras yang bisa kita ambil dari sini. Setinggi apapun kita sekolah kalau tidak kita iringi dengan kerja keras, tekad, dan semangat yang kuat, bisa jadi gelar dan ilmu yang kita miliki tidak akan ada manfaatnya untuk kita sendiri maupun untuk umat manusia.

Sedikit pelajaran di atas semoga bermanfaat buat kita semua. Sebenarnya masih ada beberapa pelajaran yang ingin saya sampaikan seperti : Jangan mengirim SMS bergambar sapi ketika malam Idul Adha dengan beberapa alasan, tapi saya khawatir ada sapi yang tersinggung. Karena kalau tidak salah, salah satu kode etik menulis adalah tidak boleh saling menyinggung sesama ciptaanNya.

Selamat berjuang kawan-kawan, HIDUP SEKALI HIDUPLAH YANG BERARTI!!!

[ Solo - Sragen, 19 Nopember 2010 ]

Monday, November 08, 2010

KEPADA YANG KECEWA TERHADAP PARTAI DAKWAH

Sebelumnya mohon maaf karena pembicaraan ini dibatasi bagi teman-teman yang memahami bahwa dakwah politik adalah sebuah keniscayaan dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam Islam yang syamil mutakamil. Kalau masih ada yang mempermasalahkan boleh atau tidak, bid’ah atau sunnah, halal atau haram, saya mohon untuk cukup berhenti membaca sampai disini. Saya harap mereka mau mengkaji lebih dalam lagi tentang arti dan makna politik dalam kamus besar bahasa Indonesia.

Khilafah Utsmaniyah runtuh karena makar politik, Palestina terjajah sampai sekarang karena makar politik, Amerika dan sekutunya menjamah negeri-negeri Islam dengan makar politik, sebagian besar rakyat Indonesia belum merasakan keadilan dan kesejahteraan sampai sekarang juga karena ketidaklurusan orientasi politik. Itu akibat apabila politik diperankan oleh orang-orang yang salah dalam orientasi berpolitik dan tidak memiliki ideologi yang bersih.

Sebaliknya apabila politik diperankan oleh orang-orang yang memiliki orientasi yang jelas dan bersih maka yang terjadi adalah keadilan, kesejahteraan dan kemenangan umat. Kalau tidak percaya coba saja kaji kembali tentang sejarah Fathu Makkah yang diawali dari perjanjian hudaibiyah dengan kompetensi politik Rasulullah yang luar biasa, tentang sejarah kejayaan Islam yang menaungi dua pertiga dunia dengan kemuliaan, dan sejarah-sejarah gemilang yang lain.

Sangat disayangkan kalau umat Islam saat ini tidak segera bersatu padu dan berupaya untuk meluruskan cara dan orientasi berpolitik serta memanfaatkannya dalam rangka memberikan kesejahteraan kepada umat tetapi justru masih terkurung dengan debat kusir boleh dan tidaknya berpolitik.

Masuk ke pokok pembicaraan, barangkali saat ini kita sering menemui saudara, keluarga, sahabat, binaan, atau bahkan kita sendiri yang mulai merasakan kekecewaan terhadap partai dakwah. Entah kekecewaan itu diungkapkan secara verbal ataupun dari sikap yang terlihat.

Sebelum mengajak diskusi dan memberikan pemahaman sebaiknya ditelusuri terlebih dahulu hal apa yang menyebabkan seseorang kecewa terhadap partai dakwah. Kekecewaan bisa muncul karena ketidakpuasan terhadap capaian partai dakwah dalam berkontribusi menyelesaikan permasalahan bangsa. Hal itu biasa terjadi di kalangan orang-orang eksternal. Kekecewaan bisa juga muncul karena tidak sefaham dengan kebijakan yang ditetapkan oleh para qiyadah atau bisa juga karena kesalahan yang dilakukan oleh oknum-oknum dalam internal partai dakwah. Yang kedua ini biasa terjadi di internal para kader dakwah.

Pada diskusi kali ini, kita akan lebih banyak membahas pada kasus yang kedua. Apabila kekecewaan itu muncul karena tidak sefaham dengan kebijakan yang ditetapkan oleh para qiyadah barangkali kita perlu untuk mengajaknya mengkaji kembali tentang shirah-shirah Islam. Sebagai contoh adalah potongan kisah detik-detik Perjanjian Hudaibiyah sebagai berikut:

Di kalangan kaum Muslimin timbul keheranan terhadap cara dan sikap yang ditempuh Rasulullah. Terhadap lawannya, beliau bersikap sedemikian lunak hingga dianggap oleh kaum Muslimin sebagai tindakan yang terlalu jauh, padahal semestinya -menurut mereka- beliau bersikap keras. Terhadap para sahabatnya, beliau tidak sebagaimana biasanya. Beliau tidak mengajak mereka bermusyawarah sebelum menyetujui syarat-syarat yang diusulkan oleh Quraisy.

Padahal setiap kali beliau menghadapi masalah perang dan damai, beliau selalu meminta pendapat para sahabat, sekalipun adakalanya beliau tidak menerima pendapat yang mereka ajukan. Namun, ketika mengatasi masalah Hudaibiyah itu beliau mengambil prakarsa sendiri dan menetapkan sesuatu yang tidak disukai oleh para sahabat.

Az-Zuhri meriwayatkan sebagai berikut, “Setelah persoalan semakin rumit, dan jalan satu-satunya adalah diadakan perjanjian damai, Umar melompat mendekati Abu Bakar lantas berkata, ‘wahai Abu Bakar, bukankah beliau seorang utusan Allah?’
Abu Bakar menjawab, “Ya jelas!”. Umar berkata lagi, “Dan bukankah kita ini orang-orang muslim?”
“Ya benar”, jawab Abu Bakar.
Umar masih berkata lagi, “Dan bukanlah mereka itu adalah orang-orang musyrik?”
Abu Bakar menjawab, “Ya benar!”
Umar berkata lagi, “Lalu kenapa kita rela agama kita ini direndahkan?”
Abu Bakar menjwab, “Wahai Umar, patuhilah perintah beliau, karena aku bersaksi bahwa beliau adalah utusan Allah.”
Umar berkata, “Aku pun bersaksi bahwa beliau adalah utusan Allah.”
Selanjutanya Umar menghadap Rasulullah saw dan mengatakan, “Bukankah engkau adalah utusan Allah?”
Beliau menjawab, “Ya, benar!”
“Dan bukankah kita ini orang-orang Muslim?” tanya Umar selanjutnya.
Beliau menjawab,”Ya, benar!”
Umar bertanya lagi, “Bukankah mereka adalah orang-orang musyrik?”
“Ya, benar!” jawab Nabi.
Umar berkata, “Lalu kenapa kita rela agama kita ini direndahkan?”
Nabi menjawab, “Aku adalah seorang hamba dan utusanNya, dan aku tidak akan berani menyelisihi perintah-Nya. Allah swt tidak akan pernah menyia-nyiakanku.”
Rasulullah saw kemudian memanggil Ali bin Abi Thalib. Kepadanya beliau berkata, “Tulislah bismillah ar-rahman ar-rahim!”
Suhail sang utusan kaum Quraisy berkata, “Aku tidak mengenal kalimat ini. Tulislah bismillah allahuma!”
Rasulullah saw kemudian bersabda lagi kepada Ali, “Tulislah bismillah allahuma!”. Ali pun menuliskannya.
Selanjutnya beliau bersabda kepada Ali, Tulislah: Ini adalah piagam perjanjian damai yang telah disepakati oleh Muhammad Rasulullah dan Suhail bin ‘Amru.”
Suhail menyahut, “Kalau saja saya mengakui bahwa engkau adalah Rasulullah, tentu saya tidak akan memerangimu. Tetapi tulislah atas namamu dan orang tuamu.”
Rasulullah kemudian memerintahkan Ali, “Tulislah: Ini adalah piagam perjanjian damai yang telah disepakati oleh Muhammad bin Abdullah dan Suhail bin ‘Amru. Keduanya menyetujui gencatan senjata selama sepuluh tahun. Selama masa itu, kedua belah pihak tidak akan saling serang, semua orang terjamin keamanannya. Apabila ada orang dari pihak Quraisy menyeberang kepihak Muhammad tanpa seijin walinya, maka ia harus dikembalikan kepada Quraisy. Sebaliknya, bila ada pengikut Muhammad yang menyeberang ke pihak Quraisy, maka ia tidak akan dikembalikan kepada Muhammad.
Di antara kita (kedua belah pihak) tidak akan menyembunyikan niat jahat. Selama perjanjian ini berlaku, tidak boleh terjadi pencurian dan pengkhianatan kantara satu dengan yang lain. Jika ada pihak yang ingin bersekutu dengan pihak Muhammad, atau yang ingin bersekutu dengan pihak Quraisy, dipersilakan.
Dalam tahun ini, Muhammad dan para sahabatnya harus pulang meninggalkan kota Mekkah dengan ketentuan bahwa tahun berikutnya mereka diperkenankan kembali memasuki kota Makkah dan boleh tinggal selama tiga hari. Namun ini dengan syarat bahwa mereka tidak boleh membawa senjata selain pedang yang disarungkan (tidak dihunuskan).”

Kita perhatikan potongan kisah diatas. Orang sekualitas Umar pun saat itu masih muncul rasa kurang yakin dengan keputusan yang diambil oleh Rasulullah. Saat itu para sahabat merasa sangat dirugikan dengan perjanjian yang telah dibuat tetapi pada akhirnya mereka dan kita semua tau bahwa Perjanjian itu adalah awal dari sebuah kemenangan besar pembebasan Makkah.

Kemudian bagaimana dengan kita yang masih mudah terpengaruh oleh bahasa-bahasa provokatif di media massa. Sangat rawan timbul kesalahfahaman yang berujung pada kekecewaan apabila tidak segera minta penjelasan kepada yang lebih faham. Padahal kita tahu bahwa setiap kebijakan yang dikeluarkan telah dimusyawarahkan oleh para qiyadah yang kompeten di bidang syariat dan juga bidang keilmuan yang lain.

Selain yang telah dibahas diatas, ada juga yang kecewa terhadap partai dakwah karena mendapati kesalahan atau penyimpangan yang dilakukan oleh oknum yang berada didalam partai dakwah. Dalam hal ini sebaiknya kita memahami bahwa partai dakwah bukanlah jama’ah Malaikat yang tidak pernah salah. Kalau saja kader dakwah adalah Malaikat tentu saja tidak akan pernah terjadi peristiwa menyedihkan di bukit Uhud, tidak akan pernah ada fitnah besar perang Saudara pada masa Imam Ali ra, tidak akan pernah ada juga pengkhianatan di benteng kota Aka pada masa Perang Salib, yang semuanya menyebabkan sekian banyak kaum muslimin terbunuh. Kesalahan itu terjadi karena memang aktivis dakwah adalah manusia biasa yang tak luput dari khilah dan salah. Tetapi bukan berarti karena kesalahan-kesalahan itu tadi dakwah kemudian tenggelam dan lenyap, buktinya sampai saat ini Islam tetap eksis dan terus berkembang. Hal itu terjadi karena meskipun kesalahan sering dilakukan oleh oknum-oknum aktivis dakwah, masih banyak orang-orang baik didalam jamaah dakwah yang selalu mengingatkan dan terus berjuang dalam dakwah dengan orientasi yang benar dan lurus.

Begitu juga dengan kita saat ini apabila mendapati kesalahan ataupun penyimpangan yang dilakukan oleh satu dua orang kader sebaiknya segera meluruskan dan mengingatkan bukan malah kecewa dan keluar dari jama’ah dakwah.
Sebagai penutup barangkali bisa ditawarkan tiga pilihan kepada orang yang kecewa terhadap partai dakwah:

1. Tetap teguh dan bersabar berjuang bersama partai dakwah. Karena meskipun mendapati kesalahan dan penyimpangan dilakukan oleh beberapa kader dakwah, tentunya yang baik dan yang masih berpegang teguh pada asholah dakwah lebih banyak dan mendominasi.

2. Apabila kekecewaan itu memang sudah tidak dapat diobati, maka sebaiknya bergabung dengan partai Islam yang lain yang menurutnya masih sesuai dengan apa yang dia yakini. Inilah mungkin jawaban dari pertanyaan salah seorang teman yang memepertanyakan mengapa partai-partai Islam terpecah kalau sebenarnya memiliki tujuan yang sama. Karena memang cara pandang terhadap orientasi dakwah politiknya tidak bisa disamakan. Kalau yang dilihat adalah tujuan yang diverbalkan melalui visi dan misi, jangankan partai-partai Islam, semua partai yang ada di Indonesia punya tujuan yang sama.

3. Apabila semua partai Islam tidak sesuai dengan yang dia yakini, pilihan ketiga adalah buat saja partai Islam sendiri kalau memang mampu. Tentu saja itu akan menambah jumlah dan daftar partai Islam yang katanya punya tujuan yang sebenarnya sama.

Kalau dari tiga alternatif di atas tidak ada yang dipilih, berarti hanya ada satu pilihan buat kita : tinggalkan saja dan lupakan semua omongannya. Karena orang semacam itu ibarat “tong kosong berbunyi nyaring” yang tidak mau atau bahkan tidak mampu untuk melakukan apapun. Hanya satu yang bisa dilakukan dan memang semua orang bisa melakukan : KOMENTAR.
Wallahua’lam.

[ jogja-solo, 20-22 Oktober 2010 ]

Sunday, October 17, 2010

DISKUSI : ERA BARU DAKWAH KAMPUS

Kawan, mari kita berfikir besar. Karena aktivis dakwah teralu besar untuk berfikir hal-hal yang kecil, remeh temeh. Di sekeliling kita sering terdengar berbagai masalah. Yang paling menjamur adalah masalah klasik tetapi dengan modus, taktik, dan intrik yang semakin menarik. Kita semua pasti faham, “koneksi dua medan megnet yang berlawanan”, hubungan antara akhwat dengan ikhwan yang sering diperindah dengan hiasan-hiasan setan. Mari kita lupakan semua itu, biarlah yang ingin mencoba tergilas oleh zaman. Sekarang zaman orang-orang besar, para aktivis dakwah, berfikir hal-hal yang besar. Ide-ide dakwah yang besar untuk negara kita yang besar.

Kita berharap dari diskusi-diskusi akan mengasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk dakwah, terutama dakwah kampus. Dan kita yakin perkembangan dakwah kampus akan berimplikasi positif terhadap perbaikan dan pembangunan bangsa Indonesia tercinta.

Tema-tema tentang pembaharuan dakwah kampus pasti sudah banyak diantara kita yang sudah membaca. Arya Sandiyudha, mantan pentolan dakwah di UI, sudah mengulas panjang lebar dalam bukunya “Renovasi Dakwah Kampus”. Seorang mantan penggedhe di UGM, saya lupa namanya, juga telah membahas hal yang sama di bukunya “Paradigma Baru Dakwah Kampus”. Satu dari serial 100 Buku Pengokohan Tarbiyah berjudul “Menuju Kemenangan Dakwah Kampus” juga sangat kontributif guna merefresh kita tentang pengelolaan dakwah kampus.

Tetapi meskipun tema-tema ini sudah banyak dibahas di buku-buku, ada kekhwatiran wacana-wacana pembaharuan dakwah kampus hanya akan menjadi wacana langitan dan hanya akan tersimpan rapat di dalam benak para pembaca. Kita merasa perlu untuk menjadikan semua tadi bahasan “diskusi-diskusi rakyat di warung kopi” supaya lebih membumi.

Kita berharap siapapun yang membaca tulisan ini berkenan untuk memberikan komentar, menyampaikan ide, menumpahkan keresahan, juga meluapkan wacana-wacana ide untuk perubahan dan perbaikan dakwah kampus. Siapapun, baik kita yang masih bergelut dengan aktivitas dakwah kampus maupun veteran dakwah kampus, yang aktiv di Lambaga Dakwah Kampus maupun yang aktiv di lembaga dakwah akademis, pengamat dakwah kampus, bahkan intelegen dakwah kampus sekalipun. Siapapun yang memiliki harapan besar untuk memperbaiki kondisi bangsa dimulai dengan pembangunan moral dan intelektual para generasi muda.

Wacana pertama yang akan coba kita diskusikan adalah ”Mengkapitalisasi (red-memanfaatkan) Iklim Akademis yang kuat untuk optimalisasi proses kaderisasi serta Mengkapitalisasi Kompetensi mahasiswa untuk memberi kontribusi terhadap Mihwar Dauli”.

Bagi kita yang selalu mengikuti perkembangan dakwah, tentunya faham sudah sampai di mana tahapan dakwah saat ini. Terjawablah salah satu dari tujuan dakwah kampus yang seringkali kita pelajari. Saat dimana iron stock hasil dari produksi dakwah kampus, yaitu orang-orang intelektual yang tercerahkan secara moral dan memiliki pandangan hidup yang lurus, memberikan kontribusi besar dalam rangka pembangunan bangsa dan perbaikan pengelolaan negara untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Satu hal yang ironis adalah saat dimana kepercayaan masyarakat sudah sedemikian besarnya kepada para aktivis dakwah untuk mengelola negara, tetapi hal itu tidak diimbangi dengan kuantitas dan kualitas yang memadai dari para aktivis dakwah untuk pengelolaan negara secara menyeluruh. Karena apabila perbaikan hanya dilakukan secara parsial maka tidak akan berdampak signifikan terhadap perbaikan pengelolaan negara. Yang terjadi kemudian adalah kekecewaan masyarakat. Dan apabila itu sudah terjadi maka cukup sulit untuk mendapatkan kepercayaan kembali karena masyarakat saat ini sepertinya telah berfikir praktis dan pragmatis, “sama saja, kami tidak merasakan perubahan”.

Lantas apa yang perlu dilakukan para aktivis dakwah kampus? Itulah pertanyaan yang seharusnya kita jawab bersama-sama. Mempersiapkan sebanyak-banyaknya aktivis dakwah berprestasi yang kompeten di bidangnya serta memiliki integritas moral dan dasar pemahaman tentang cara pandang terhadap jalan hidup yang benar.

Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah bagaimana itu akan terwujud apabila realita di lapangan justru berkebalikan. Banyak mahasiswa berprestasi yang tidak begitu tertarik untuk terlibat dalam aktivitas dakwah kampus, tetapi sebaliknya banyak aktivis dakwah kampus (afwan) yang tidak begitu berprestasi di bidang akademik bahkan untuk segera lulus saja terkendala sekian banyak masalah yang kadang-kadang justru dakwah dijadikan kambing hitam.

Setelah berdiskusi dan mencari informasi dengan teman-teman yang masih aktif di kampus. Ternyata perekrutan tahun ini tidak terlalu ada peningkatan yang signifikan di bandingkan tahun-tahun sebelumnya, bahkan cenderung stagnan. Barangkali itu terjadi karena memang tidak ada inovasi yang berarti dalam proses perekrutan. Lantas bagaimana? Mari kembali pada wacana yang telah disampaikan diatas, “mengkapitalisasi iklim akademis yang kuat untuk optimalisasi proses kaderisasi”.

Kalau kita perhatikan, saat ini hanya beberapa Lembaga Dakwah Kampus saja yang mungkin sudah bisa mengkapitalisasi iklim akademia tersebut. Seringkali kita justru ketinggalan dan kalah branding dengan lembaga yang lain. Dengan diskusi ini kita berharap bisa saling bertukar pikiran dan pengalaman tentang teknis pelaksanaan hal ini. Saat ini LDK belum banyak atau bahkan mungkin belum ada yang memasukkan materi semisal “kiat-kiat berprestasi di kampus” serta mendesian agenda kaderisasi dengan kegiatan training menjadi mahasiswa berprestasi. Bukan berarti LDK meninggalkan materi-materi pembetukan kepribadian muslim yang baik tetapi bagaimana LDK mampu memadukan dua hal tersebut. Materi pembentukan kepribadian dipadukan dengan materi training menjadi mahasiswa berprestasi. Bukankan berprestasi juga merupakan ciri kepribadian muslim yang baik.

Akan muncul pertanyaan dan pernyaatan yang baru lagi. Bukankah hal seperti itu sudah dikelola melalui lembaga dakwah akademis? Itulah justru permasalahan yang terjadi. Dengan pengelolaan yang seperti itu justru menimbulkan pemahaman yang kadang keliru di antara para aktivis dakwah, apalagi yang belum memahami substansi dakwah kampus yang sebenarnya. Masih banyak yang mendikotomikan antara aktivitas dakwah dengan akademis. Seringkali muncul statement: ”Saya tidak pantas di lembaga dakwah akademis karena prestasi akademis saya tidak terlalu bagus”. Di kalangan mahasiswa baru pun akan mucul pemahaman yang keliru : ”Saya aktif di lembaga akademis saja, tidak perlu ikut LDK, karena saya ingin menjadi mahasiswa berprestasi.” Seolah-olah tidak semua aktivis dakwah memiliki hak untuk berpretasi di bidang akademis. Dan seolah-olah LDK bukan tempat para mahasiswa berprestasi dan bukan wadah bagi para mahasiswa yang ingin berprestasi.

Bukankah akan lebih efektif dan efisien ketika kerja dua ranah tersebut diwadahi dalam satu lambaga, yaitu Lembaga Dakwah Kampus. LDK yang memperhatikan pembentukan kepribadian muslim yang baik serta memperhatikan penunjangan prestasi akademis para anggotanya dan mahasiswa pada umumnya. Dalam hal pemberdayaan SDM, hal tersebut akan lebih efisien. Dengan itu tidak akan terlalu banyak lembaga yang membutuhkan aktivis dakwah untuk mengelola, karena sampai saat ini permasalahan klasik tarik ulur kader masih menjadi perdebatan yang hangat. Selain itu, perpaduan ini juga diharapkan memberikan citra positif bagi lembaga dakwah kampus dan ativis dakwah kampus. Dan tidak sekedar citra saja tapi juga realita bahwa para aktivis dakwah kampus adalah mahasiswa berprestasi yang kompeten di bidangnya serta memiliki integritas moral dan dasar pemahaman tentang cara pandang terhadap jalan hidup yang benar.

Sementara itu dulu ulasan tentang satu wacana perbaikan dakwah kampus. Di antara kita pasti masih banyak yang memiliki ide, konsep dan pendapat yang lain yang lebih hebat dari yang sudah diutarakan diatas. MARI BERDISKUSI...

[ markas, 17 Oktober 2010 ]

Tuesday, October 05, 2010

SALAH FAHAM ATAU TAK MAU FAHAM?

Merasakan atau tidak kawan, hubungan kita dengan orang-orang terdekat kita terkadang aneh. Aneh atau lucu, silakan pilih sendiri kata yang tepatt. Hubungan kita dengan sahabat kita, teman kos, temen ngaji, partner, keluarga, suami, istri, dan lain sebagainya. Kadang kala pagi hari baik-baik saja, tapi sorenya sudah tidak saling sapa. Hari ini ingin selalu berdekatan dengannya tapi esok hari rasanya tak sudi untuk berjumpa.

Banyak faktor yang menyebabkannya. Menurut analisa sederhana saja:

1. Boleh jadi karena salah satunya punya dua muka.

Ketika bersama suka memuji memuja tapi ketika jauh membuka aib saudara. Kalau ketahuan bisa jadi bencana kawan. Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya pasti segera perang dingin bahkan perang terbuka.

2. Boleh jadi karena kondisi kantong kita.

Yang kedua ini pasti ada yang kurang percaya. Coba rasakan sendiri saja. Kata beberapa orang suasana kantong mempengaruhi suasana hati. Kecuali yang kantongnya selalu penuh berisi.

3. Boleh jadi karena cara pandang yang berbeda.

Setiap orang yang tak join kepala, dan memang tak mungkin satu kepala buat bersama kecuali kembar siam, pasti memiliki cara pandang yang berbeda-beda. Meski dua orang kembar sekalipun, saya yakin tidak selalu punya pendapat dan cara berfikir yang sama.

Ada sebuah kisah unik kawan:

Joko dan Budi sama-sama pasien rumah sakit jiwa. Suatu hari ketika mereka sedang jalan bersama di pinggir kolam renang, tiba-tiba Budi melompat ke bagian kolam yang dalam dan tenggelam ke dasar kolam. Tanpa memikirkan keselamatan dirinya, Joko segera menyusul terjun dan menarik Budi ke permukaan. Dia menyelamatkan Budi ke pinggir kolam.

Besoknya adalah hari penilaian tahunan untuk Joko. Dia dibawa ke hadapan dewan pengurus rumah sakit dan sang pimpinan berkata kepadanya,

”Saudara Joko, kami punya berita baik dan berita buruk buatmu. Berita baiknya bahwa mengingat tindakan heroikmu kemarin, kami menganggap kau waras dan kau bisa keluar dari rumah sakit ini untuk kembali ke masyarakat. Berita buruknya adalah, kasihan sekali si Budi, pasien yang kau selamatkan, tidak lama kemudian gantung diri di kamar mandi dengan ikat pinggangnya. Maafkan kami, dia meninggal.”

”Dia tidak gantung diri”, tukas Joko, ”Saya yang menggantungnya disana supaya kering.”

Cukup tersenyum saja kawan, lanjutkan membacanya.

Sulit memang untuk menerima apa yang dilakukan Joko. Tapi akankah anda menyalahkannya? Joko punya cara berfikir sendiri dan anda punya cara berfikir sendiri. Sulit untuk meminta Joko berfikir seperti kita.

4. Boleh jadi karena salah tanda baca.

Yang keempat ini cukup unik kawan. Kemajuan teknologi-lah yang ikut andil didalamnya. Anda yang sedang baca pasti tak ada yang tak punya HP, benar kan? Dan saya yakin 100% pernah kirim sms semua. Teknologi canggih 3 huruf inilah biang keladinya. SMS. Permasalahan muncul ketika sang pengirim kurang seksama menulis karena tergesa-gesa. Atau menulis pakai tangan kiri, karena tangan kanan masih memegang kendali sepeda motornya. Kadang juga menulis sms menggunakan mata hati, pandangan fokus kedepan kelas seolah-olah memperhatikan dosen bicara tapi jari-jari menari membuat kata-kata di bawah meja. Tambah masalah lagi kalau yang menerima kurang jeli membacanya.

Menarik sebenarnya untuk diskusi masalah ini tapi rasanya kran kata sudah tidak mau mengalir lagi. Cukuplah saya sampaikan sebuah kisah, setelah hari ini semoga kita lebih berhati-hati. Berhati-hati menulis sms untuk saudara kita dan berhati-hati membaca sms yang kita terima. Tulislah dengan tanda baca yang tepat dan bacalah dengan intonasi yang tepat.

Seorang dosen bahasa inggris menulis kata-kata berikut di papan tulis:

Woman without her man is nothing.

Kemudan dia meminta para mahasiswa untuk memberikan tanda baca yang tepat.

Para mahasiswa menulis, “Woman, without her man, is nothing.” [Wanita, tanpa pria (pendamping)-nya, tak berarti.]

Para mahasiswi menuilis, “Woman! without her, man is nothing.” [Wanita! tanpa dia, pria tak berarti.]

Apapun sebabnya, kesalahfahaman sering terjadi diantara kita. Pertanyaannya apakah kita mau faham atau tidak dengan kesalahfahaman yang terjadi?