[[Senin pagi-siang, 27 September 2010 @ ruang perenungan]]
[ Kisah ini hanyalah fiksi tapi terinspirasi dari kisah asli. Kalau ada kesamaan nama tokoh, nama tempat, karakter, warna celana, motif baju, merk motor, model HP, dan lain sebagainya mungkin saja di sengaja mungkin saja tidak sengaja. Harap maklum ]
=========================================
Malam itu tak seperti malam-malam biasanya. Perasaan kedua orang itu gembira setengah mati. Aneh sungguh aneh, padahal malam itu alam sedang tidak bersahabat. Hujan turun seperti air terjun tak terbendung, bertepuk dengan atap rumah mereka yang sebagiannya dari seng terdengar bagai berondongan AK-47 milik densus 88 saat menggerebek orang-orang yang kata penyiar berita adalah gerombolan teroris. Ditambah suara gemuruh halilintar sekali dua kali dan berkali-kali menambah suasana desa yang berada ditengah hutan itu semakin terasa mencekam seperti menonton film perang dunia kedua. Suara jangkrik, burung malam, dan serangga-serangga hutan yang menenteramkan kali ini tak terdengar tapi suasana hati Parjo dan Sri lebih dari sekedar tenteram. Ternyata sepasang suami-istri itu baru pulang dari kota tadi siang, memeriksakan kandungan ke bu Dokter seperti saran bu RT beberapa hari yang lalu.
“Kang, semoga benar ya apa yang dikatakan bu dokter tadi siang”
“Harusnya bener lah Sray”, jawab Parjo kepada istrinya. Sray adalah panggilan sayang Parjo kepada Sri, istirnya. Dia hanya ikut-ikutan orang-orang di TV memanggil kekasihnya dengan Say. Tapi nama istrinya adalah Sri, dia sengaja menambahkan huruf ‘r’ ditengah-tengah supaya lebih beda dan terasa lebih unik baginya.
“Bu dokter kan sudah sekolah bertahun-tahun, apalagi dia punya alat yang di tempel-tempelkan di perutmu tadi. Canggihnya itu alat, bayi kita yang masih didalam perutmu saja sampai Bu dokter bisa tahu”, Parjo semakin meyakinkan istrinya.
“Kalau bener anak kita nanti laki-laki, bapak sama bue pasti seneng banget ya Kang”, Sri tersenyum lebar tampak gembira dengan berita dari bu Dokter tadi siang. Meskipun tulang punggungnya serasa mau copot berjam-jam di bonceng motor suaminya. Pagi-pagi sekali berangkat ke kota dan petang baru sampai lagi di desa mereka tercinta. Lewat jalan panjang tengah hutan, kadang hanya batu dan pasir yang di tata seadanya. Kadang lewat jalan seperti kubangan kerbau yang licin tiada duanya. Kalau malam gelap gulita. Jangankan lampu penerangan jalan, bulan saja tidak setiap malam mau membagi cahayanya. Itulah jalan satu-satunya akses ke desa mereka.
****
Setelah sembilan malam berlalu. Malam ini tak seperti malam sepuruh hari yang lalu. Adzan isya’ baru saja selelesi dikumandangkan, tapi serangga-serangga hutan sudah bersahut-sahutan. Burung-burung malam pun tak mau ketinggalan. Mereka memang tak seperti Beo, Bentet, atau Nuri yang dipelihara di perkotaan. Mereka memang tak bisa menirukan suara kendaraan atau menyebut nama majikan. Suara mereka hanya ‘cuit… cit…cuit…' tapi benar-benar menebarkan kedamaian. Kedamaian mereka, kedamaian alam mereka yang masih tenang, dan kedamaian sahabat-sahabat mereka para penduduk desa di tengah hutan.
“Kamu kenapa Sray?”, tanya Parjo kepada istrinya yang nampak aneh tak seperti biasanya.
“perutku tiba-tiba sakit Kang.”
“Apa anak kita nakal lagi?”
“rasanya tidak seperti biasanya Kang. Kali ini rasanya lebih sakit dan berat sekali.”
Parjo terlihat menghitung-hitung jarinya, kemudian bola matanya berputar ke atas sebentar sambil mulutnya komat-kamit. Sesaat kemudian berkata kepada istrinya,
“kalau sesuai dengan yang di katakan bu Dokter, harusnya kan masih sepuluh hari lagi dari sekarang”. Ternyata Parjo barusan sedang menghitung hari tapi tak seperti Krisdayanti.
Sri meminta suaminya untuk mengantarnya ke kamar. Kemudian Sri minta di bantu berbaring di dipan kayu sederhana yang setiap malam mereka tidur dengan nyaman disana. Dia harap ini hanya sakit biasa karena tendangan bayinya seperti kemarin-kemarin, semakin yakin karena hasil hitungan suaminya tadi. Menurut perkiraan dari bu dokter, kalaupun maju atau mundur paling sekitar seminggu atau tujuh hari. Kang Parjo tadi kan bilang masih sepuluh hari lagi dari perkiraan dokter. Harusnya belum hari ini, terlalu cepat pikirnya.
Setelah beberapa saat berbaring, bukannya semakin nyaman malah rasa sakit si Sri semakin menjadi. Mulutnya mulai merintih-rintih kesakitan. Parjo yang menunggu disampingnya terlihat semakin panik dan gelisah. Dia bingung harus melakukan apa karena itu pengalaman pertamanya akan punya anak. Tiba-tiba dia berlari keluar rumah. Dalam waktu yang tidak lama Parjo sudah tiba lagi di samping istrinya dengan bu RT dan beberapa tetangga.
“Kalau seperti ini berarti sudah saatnya Jo. Kenapa belum juga kau bawa istrimu mondok di PUSKESMAS seperti saranku kemarin. Cepat sana kau telpon Bidan kecamatan untuk datang kesini. Nggak mungkin kalau istrimu yang dibawa ke kecamatan dengan kondisi begini apalagi jalan jelek kesana bisa membahayakan istrimu dan bayinya”, perintah bu RT kepada Parjo dengan perasaan jengkel bercampur kasihan juga gelisah.
“Tapi saya tak punya HP bu”, jawab Parjo semakin bingung dan panik.
“Waduh… ya pinjam Pak RT segera sana. Pak RT juga punya nomer telpon PUSKESMAS.”
Tanpa pikir panjang Parjo segera lari secepat atlit lari nasional. Beberapa menit kemudian dia sudah sampai di rumah lagi.
“Gawat bu RT, setelah saya telpon bu Bidannya tidak mau datang kesini. Katanya mobil dinas PUSKESMAS sedang keluar dan dia tidak sanggup kalau kesini naik motor malam-malam. Dia minta istri saya yang dibawa ke PUSKESMAS”, ucap Parjo kepada bu RT dengan nafas tersengal-sengal. Dia lihat kondisi istrinya semakin menyayat hatinya. Tak tega dia melihat istrinya si Sray tercinta merintih kesakitan.
“Dasar bidan muda, tak seperti para pendahulunya. Kalau ketemu biar saya damprat dia. Kalau begitu segera kau jemput mbah Jinem, dia dukun yang biasa membantu persalinan di desa Wonorejo. Semoga saja dia masih bisa membantu istrimu.”, perintah bu RT ke Parjo dengan nada semakin tinggi karena kesal dengan sikap sang Bidan.
Karena jalan yang tidak bersahabat, Parjo baru sampai di rumah mbah Jinem satu jam kemudian. Dia agak ragu melihat mbah Jinem yang sudah sangat berumur. Bicaranya sudah tidak jelas karena gigi hanya beberapa saja tersisa. Tapi mbah Jinemlah harapannya satu-satunya. Sesegera mungkin dia memboncengkan mbah Jinem menuju rumahnya. Lagi-lagi karena jalan, ditambah memboncengkan seorang yang sudah tua, Parjo sampai dirumahnya sedikit lebih lama. Tepat tiga jam setelah sholat isya’ tadi, tepat tiga jam setelah mulai merasakan sakit diperutnya, si Sri baru tersentuh bantuan dari Mbah Jinem.
Satu jam di pandu oleh mbah Jinem, sang bayi tak juga segera kelihatan. Tak tahu kenapa, apakah karena instruksi mbah Jinem kurang jelas di dengar oleh Sri. Sehingga kalimat yang seharusnya “tarik nafas dalam-dalam”, kedengaran seperti “tai ampas ayam-ayam”. Atau mungkin karena tenaga Sri sudah habis karena bantuan datang terlalu lama. Wajah Sri semakin pucat, sekujur tubuhnya basah dipenuhi keringat. Nafasnya tinggal sisa-sisa, tak seperti sebelumnya. Mbah Jinem pun tak bisa berbuat banyak karena peralatannya hanya seadanya. Suara yang diucapkannya pun juga seadanya. Tak lama kemudian, pukul 23.40, nafas Sri sudah tak tersisa. Suaranya, detak nadinya, detak jantungnya, satu persatu mulai pergi entah kemana. Sri telah tiada. Karena peralatan seadanya, sang bayi pun tak bisa diselamatkan dan menyusul ibunya. Sang bayi juga telah tiada sebelum tiba di dunia.
Parjo tak mampu menahan sesak dalam dadanya, di sudut kamar dia terisak lama. Bahagia beberapa hari yang lalu seketika berubah menjadi derita luar biasa yang tak tahu apa sebab semuanya.
Mungkin salah bu Dokter meramal HPL, tak sehebat sang gurita meramal Spanyol lawan Belanda.
Mungkin salah pemerintah yang tak peduli rakyat jelata. Tak mau memperbaiki jalan desanya, sehingga pergi ke pusat kecamatan yang seharusnya bisa di tempuh setengah jam menjadi lebih dari dua jam perjalanan yang mengerikan.
Mungkin salah pemerintah lagi tak mau membangun PUSKESMAS cabang pembantu di desanya.
Mungkin salah para anggota dewan yang tak bisa memperjuangkan pendidikan gratis, sehingga dia hanya bekerja sebagai buruh tani, penghasilan seadanya dan tak mampu menginapkan istrinya di PUSKESMAS jauh-jauh hari sebelumnya. Anggota dewan hanya pusing memikirkan megaproyek pembangunan gedung DPR di Jakarta sana.
Mungkin salah panitia penerimaan CPNS yang tak pecus menyeleksi bidan dan pegawai pemerintah lainnnya. Atau mungkin salah sang bidan muda yang manja tak mau ke desa menolong persalinan istrinya.
Tapi yang jelas, yang terjadi adalah takdir Tuhan supaya semuanya mau mengambil pelajaran berharga
Followers
Monday, September 27, 2010
Thursday, September 23, 2010
MASIH INGATKAH KAWAN MAINAN TEMPO DOELOE??
[ Rabu, 22 September 2010 @ kamar rumah, diatas ari-ari di tanam.]
(Terinspirasi dari film pendek berjudul “Hong” garapan sineas muda yang aku tak sempat tahu namanya. Film tersebut menjadi salah satu finalis dalam Eagle Award. “Hong” dalam film tersebut adalah permainan rakyat di masyarakat Sunda yang sering lebih dikenal dengan “Petak Umpet”. Film inspiratif ini bercerita tentang upaya masyarakat Sunda dalam melestarikan bermacam-macam permaianan rakyat yang saat ini mungkin sudah mulai dilupakan oleh kebanyakan orang. Padahal dalam berbagai permainan rakyat itu sebenarnya mengandung bermacam nilai-nilai pendidikan.)
Kawan, masih ingatkah kalian tentang permainan “SUDAMANDA”? Ada juga yang menyebut “ENGKLEK”. Jangan-jangan kalian malah baru mendengar kali ini. Kalau itu tak tahu, coba yang ini : “MEMBELA”? kalian pasti tambah mengerutkan kening mendengarnya? Kalau ditempat kalian mungkin lebih dikenal dengan “petak umpet”. Kalau di kampungku, temen-temenku waktu kecil dulu lebih seneng menyebutnya “membela”. Kalau petak umpet saja belum pernah main, mungkin kalian terlalu kebablasan jaman kawan. Atau boleh lah kalau kalian menganggapku yang terlalu kampungan. Ada juga dulu di kampungku permaianan “BENTENGAN”, belum pernah denger juga kan? Kalau lagi main ini, kejar-kejaran bisa sampai kampung tetangga buat nangkap musuh.
Bagi kalian yang masih belum berhasil menemukan kosakata-kosakata tadi dalam memory masa kanak-kanak, mari saya ajak mencari permainan yang lain. Yah ini dia, “CUBLAK-CUBLAK SUENG”. Lucu kan nama permainannya? lagunya mungkin diantara kalian ada yang masih ingat. Ada lagi nih permainan yang lain, kalau ditempatku dulu sering disebut “UDING”. Makanan apa lagi itu??? Itu lho yang pakai tali terus dilompati. Kalau ditempatku dulu temen-temen seneng merangkai karet gelang sampai panjang untuk dipakai mainan UDING. Kampungan sekali bukan?
Baiklah kalau semua itu terlalu kampungan, coba saya cari yang agak sedikit tidak kampungan. Kalian pernah main “GOBAG SODOR” kawan? Nah tu, mulai senyum dikit kan. Harusnya ada diantara kalian yang pernah main. Atau yang satu ini : “ULAR-ULARAN”. Itu lho yang mainnya baris, yang belakang megang bahu depannya terus paling depan jadi kepala ular berusaha menyentuh ekor paling ujung dari musuh. Kalau biasanya yang terakhir ini di outbond masih sering dipakai.
Kalau dari semua tadi kalian tak ada yang kenal satupun, menurut saya ada dua kemungkinan. Pertama, kalian anak kecil yang belum hidup di awal era 90-an. Atau yang kedua, kalian hidup di kota metropolitan, tinggal di perumahan yang sejak lahir hanya melihat gedung dan rumah berjejalan, mungkin saja juga tidak kenal tetangga kiri kanan.
Terakhir saya mau minta tolong nih sama kawan-kawan. Kalau diantara kalian ada yang sempat melihat permainan kayak gitu, tolong donk di rekam. Saya pengen buat semacam dokumenter. Kalau anak-anak sekarang tidak mau lagi mainan kayak gitu, yah paling tidak mereka tau lah kayak gimana permainan anak-anak tempo doeloe. Maturnuwun…
(Terinspirasi dari film pendek berjudul “Hong” garapan sineas muda yang aku tak sempat tahu namanya. Film tersebut menjadi salah satu finalis dalam Eagle Award. “Hong” dalam film tersebut adalah permainan rakyat di masyarakat Sunda yang sering lebih dikenal dengan “Petak Umpet”. Film inspiratif ini bercerita tentang upaya masyarakat Sunda dalam melestarikan bermacam-macam permaianan rakyat yang saat ini mungkin sudah mulai dilupakan oleh kebanyakan orang. Padahal dalam berbagai permainan rakyat itu sebenarnya mengandung bermacam nilai-nilai pendidikan.)
Kawan, masih ingatkah kalian tentang permainan “SUDAMANDA”? Ada juga yang menyebut “ENGKLEK”. Jangan-jangan kalian malah baru mendengar kali ini. Kalau itu tak tahu, coba yang ini : “MEMBELA”? kalian pasti tambah mengerutkan kening mendengarnya? Kalau ditempat kalian mungkin lebih dikenal dengan “petak umpet”. Kalau di kampungku, temen-temenku waktu kecil dulu lebih seneng menyebutnya “membela”. Kalau petak umpet saja belum pernah main, mungkin kalian terlalu kebablasan jaman kawan. Atau boleh lah kalau kalian menganggapku yang terlalu kampungan. Ada juga dulu di kampungku permaianan “BENTENGAN”, belum pernah denger juga kan? Kalau lagi main ini, kejar-kejaran bisa sampai kampung tetangga buat nangkap musuh.
Bagi kalian yang masih belum berhasil menemukan kosakata-kosakata tadi dalam memory masa kanak-kanak, mari saya ajak mencari permainan yang lain. Yah ini dia, “CUBLAK-CUBLAK SUENG”. Lucu kan nama permainannya? lagunya mungkin diantara kalian ada yang masih ingat. Ada lagi nih permainan yang lain, kalau ditempatku dulu sering disebut “UDING”. Makanan apa lagi itu??? Itu lho yang pakai tali terus dilompati. Kalau ditempatku dulu temen-temen seneng merangkai karet gelang sampai panjang untuk dipakai mainan UDING. Kampungan sekali bukan?
Baiklah kalau semua itu terlalu kampungan, coba saya cari yang agak sedikit tidak kampungan. Kalian pernah main “GOBAG SODOR” kawan? Nah tu, mulai senyum dikit kan. Harusnya ada diantara kalian yang pernah main. Atau yang satu ini : “ULAR-ULARAN”. Itu lho yang mainnya baris, yang belakang megang bahu depannya terus paling depan jadi kepala ular berusaha menyentuh ekor paling ujung dari musuh. Kalau biasanya yang terakhir ini di outbond masih sering dipakai.
Kalau dari semua tadi kalian tak ada yang kenal satupun, menurut saya ada dua kemungkinan. Pertama, kalian anak kecil yang belum hidup di awal era 90-an. Atau yang kedua, kalian hidup di kota metropolitan, tinggal di perumahan yang sejak lahir hanya melihat gedung dan rumah berjejalan, mungkin saja juga tidak kenal tetangga kiri kanan.
Terakhir saya mau minta tolong nih sama kawan-kawan. Kalau diantara kalian ada yang sempat melihat permainan kayak gitu, tolong donk di rekam. Saya pengen buat semacam dokumenter. Kalau anak-anak sekarang tidak mau lagi mainan kayak gitu, yah paling tidak mereka tau lah kayak gimana permainan anak-anak tempo doeloe. Maturnuwun…
Thursday, September 02, 2010
SELAMAT WISUDA...
Selamat kapada saudara-saudara semua yang hari ini wisuda
Barangkalai bagi Anda memang hal ini biasa
Sayapun pernah merasa, nyaris tak ada suatu yang istimewa
Tapi, akan menjadi beda bagi orang-orang terdekat Anda
Moment ini menjadi sebentuk kado berisi kebanggaan bagi mereka
Merasa bahagia telah memberi secuil kontribusi mereka
menuju jalan kesuksesan Anda....
SELAMAT KAWAN, SEMOGA MENJADI AWAL KESUKSESAN ANDA
Barangkalai bagi Anda memang hal ini biasa
Sayapun pernah merasa, nyaris tak ada suatu yang istimewa
Tapi, akan menjadi beda bagi orang-orang terdekat Anda
Moment ini menjadi sebentuk kado berisi kebanggaan bagi mereka
Merasa bahagia telah memberi secuil kontribusi mereka
menuju jalan kesuksesan Anda....
SELAMAT KAWAN, SEMOGA MENJADI AWAL KESUKSESAN ANDA
Monday, August 23, 2010
Ikhwan Mencari Cinta (part 3) - cerpen
“Sudah siap Mad?”, tanya ibu sambil memperhatikanku yang sedang sibuk merapikan baju dan menyisir rambut di depan cermin.
“InsyaAllah…, ibu yakin sudah siap menerima Laila menjadi menantu ibu?”, aku balik tanya ke ibu.
“Kalau Laila benar seperti yang kamu ceritakan, ibu akan sangat senang punya menantu seperti dia. Perangainya baik dan halus, faham agama, kulitnya juga putih bersih, meskipun kalau ibu lihat di fotonya tidak secantik Dina putrinya bu Joko yang pernah ibu ceritakan padamu dulu.”
“Kecantikan wajah tidak akan bertahan lama ibu, yang penting kan cantik hatinya. Dina memang cantik, tapi saya sering melihat dia diboncengkan dengan temennya laki-laki. Apa ibu rela kalau punya menantu yang sering di boncengkan sama laki-laki yang bukan mahramnya?” Aku mencoba meyakinkan ibu.
“Kamu kok sepertinya yakin sekali dengan Laila, padahal kamu juga baru saja kenal. Katanya kamu masih khawatir ditolak lagi seperti kemarin waktu kamu dikenalkan dengan Rita”, ibu sempat menyinggung peristiwa sebulan yang lalu. Memang saat itu aku belum sampai melamar Rita. Biodata dan cerita tentangku saja yang sampai ke orangtuanya. Tapi aku sempat minder dan berfikir untuk tidak merencanakan menikah kecuali kalau aku sudah lulus. Untungnya beberapa hari setelah itu, ustadz Sholihin secara rutin memberikan tausyah kepadaku. Kemudian dua pekan setelah kejadian itu, aku diberikan biodata akhwat yang lain oleh ustadz Sholihin. Laila inilah orangnya, yang sebentar lagi aku akan pergi bersama ustadz Sholihin untuk menyampaikan lamaran pada orang tuanya.
“Ahmad kan sudah proses ta’aruf tiga kali bu, selama proses itu kami saling bertanya dan mengenal satu sama lain. Di luar itu Ahmad juga sudah minta mencarikan informasi lewat ustadz Sholihin. Kata ustadz Sholihin, setiap orang yang mengenal Laila mengatakan bahwa dia itu muslimah yang baik. Kalau masalah diterima tidaknya lamaranku, aku sudah berkali-kali diberikan pencerahan oleh ustadz Sholihin. Kita serahkan saja semuanya kepada Allah Yang Maha Kuasa”
“Baiklah kalau begitu, sekarang ini sudah jam setengah empat. Katanya kamu janjian sama ustadz Sholihin jam empat mau berangkat dari rumah beliau.”
“Iya bu, Ahmad pamit dulu ya. Mohon do’anya, semoga orang tua Laila berkenan menerima lamaran Ahmad. Assalamu’alaykum…” aku pamit sambil mencium tangan ibu.
“Wa’alaykumsalam.. hati-hati di jalan ya…”
“InsyaAllah…, ibu yakin sudah siap menerima Laila menjadi menantu ibu?”, aku balik tanya ke ibu.
“Kalau Laila benar seperti yang kamu ceritakan, ibu akan sangat senang punya menantu seperti dia. Perangainya baik dan halus, faham agama, kulitnya juga putih bersih, meskipun kalau ibu lihat di fotonya tidak secantik Dina putrinya bu Joko yang pernah ibu ceritakan padamu dulu.”
“Kecantikan wajah tidak akan bertahan lama ibu, yang penting kan cantik hatinya. Dina memang cantik, tapi saya sering melihat dia diboncengkan dengan temennya laki-laki. Apa ibu rela kalau punya menantu yang sering di boncengkan sama laki-laki yang bukan mahramnya?” Aku mencoba meyakinkan ibu.
“Kamu kok sepertinya yakin sekali dengan Laila, padahal kamu juga baru saja kenal. Katanya kamu masih khawatir ditolak lagi seperti kemarin waktu kamu dikenalkan dengan Rita”, ibu sempat menyinggung peristiwa sebulan yang lalu. Memang saat itu aku belum sampai melamar Rita. Biodata dan cerita tentangku saja yang sampai ke orangtuanya. Tapi aku sempat minder dan berfikir untuk tidak merencanakan menikah kecuali kalau aku sudah lulus. Untungnya beberapa hari setelah itu, ustadz Sholihin secara rutin memberikan tausyah kepadaku. Kemudian dua pekan setelah kejadian itu, aku diberikan biodata akhwat yang lain oleh ustadz Sholihin. Laila inilah orangnya, yang sebentar lagi aku akan pergi bersama ustadz Sholihin untuk menyampaikan lamaran pada orang tuanya.
“Ahmad kan sudah proses ta’aruf tiga kali bu, selama proses itu kami saling bertanya dan mengenal satu sama lain. Di luar itu Ahmad juga sudah minta mencarikan informasi lewat ustadz Sholihin. Kata ustadz Sholihin, setiap orang yang mengenal Laila mengatakan bahwa dia itu muslimah yang baik. Kalau masalah diterima tidaknya lamaranku, aku sudah berkali-kali diberikan pencerahan oleh ustadz Sholihin. Kita serahkan saja semuanya kepada Allah Yang Maha Kuasa”
“Baiklah kalau begitu, sekarang ini sudah jam setengah empat. Katanya kamu janjian sama ustadz Sholihin jam empat mau berangkat dari rumah beliau.”
“Iya bu, Ahmad pamit dulu ya. Mohon do’anya, semoga orang tua Laila berkenan menerima lamaran Ahmad. Assalamu’alaykum…” aku pamit sambil mencium tangan ibu.
“Wa’alaykumsalam.. hati-hati di jalan ya…”
Ikhwan Mencari Cinta (part 2) - cerpen
Tepat dua pekan sejak aku menerima biodata Rita dari ustadz Sholihin. Sudah berkali-kali aku melakukan sholat istihkoroh untuk minta petunjuk kepada Allah tapi mengapa seperti belum ada kemantapan dalam hatiku untuk melanjutkan proses ta’aruf dengan Rita. Sebenarnya kalau dilihat dari biodata yang aku terima, tidak ada satupun alasan untuk aku tidak menerima Rita. Awalnya ketika ustadz Sholihin memberikan biodata Rita padaku di rumah beliau dulu, aku sempat mengira barangkali ada yang kurang dari Rita sehingga Ustadz Sholihin memberikan nasihat panjang lebar kepadaku supaya aku lebih mempertimbangkan sisi agamanya. Tetapi ternyata setelah aku sampai rumah dan membuka biodata itu, subhanallah, seperti aku katakan tadi tidak ada alasan bagi siapapun laki-laki untuk tidak menerima Rita. Justru bisa jadi sebaliknya, dia yang mungkin tidak akan bersedia menerimaku. Wajahnya cantik, pakaian dan jilbabnya rapi, dia juga sudah bekerja sebagai guru di sekolah ternama di kota ini. Usianya satu tahun lebih muda dariku tapi dia lulus kuliah lebih cepat. Dia lulus tiga setengah tahun dan setelah itu langsung di terima mengajar di SMA almamaternya dulu karena kecerdasannya.
Meskipun belum sepenuhnya mantap, aku paksakan untuk meminta kepada ustadz Sholihin supaya beliau mempertemukanku dengan Rita. Aku merasa sudah terlalu lama tidak segera memberikan kepastian kepada ustadz Sholihin.
*****
Tiga pekan setelah proses ta'aruf, aku di minta untuk kerumah ustadz Sholihin. Beberapa kali bertemu dalam proses ta’aruf, Aku dan Rita merasa sudah bisa saling menerima satu dengan yang lain. Mungkin ada berita terbaru yang akan disampaikan ustadz Sholihin kepadaku
“Sebelumnya maaf Mad, aku harus menyampaikan pesan dari Rita. Bapaknya mensyaratkan supaya laki-laki yang akan menikahi anaknya haruslah seorang yang sudah punya pekerjaan yang mapan.” Ternyata malam ini ustadz Sholihin meminta aku ke rumah beliau karena ingin menyampaikan pesan dari Rita ini.
“Berarti bapaknya Rita tidak menerima lamaranku ya ustadz?” aku ingin coba memastikan apa yang aku dengar.
“Tenang saja, kamu harusnya bersyukur karena belum jadi melamar ke rumahnya. Rita baru menceritakan kepada bapaknya bahwa ada seorang laki-laki yang mau melamarnya. Setelah Rita menceritakan panjang lebar tentangmu, ternyata bapaknya belum bisa menerima karena kamu belum lulus dan belum mempunyai pekerjaan yang benar-benar mapan.” Ustadz Sholihin berhenti sejenak dan memintaku minum teh yang baru saja dihidangkan oleh istri beliau. Meskipun selera makan dan minumku hilang setelah mendengar cerita beliau tadi, tapi aku paksakan minum sedikit teh yang sudah dihadangkan untuk menghormati beliau. Beberapa saat setelah istri ustadz Sholihin masuk, beliau kemudian melanjutkan ceritanya.
“Rita bilang kepadaku kalau dia sudah berusaha untuk meyakinkan bapaknya bahwa sebentar lagi skripsimu akan selesai, dia juga sudah bilang kalau meskipun belum mapan tapi penghasilanmu saat ini sudah cukup untuk sekedar hidup berdua dengannya. Ibunya Rita sebenarnya juga tidak terlalu keberatan kalau kamu menikahi putrinya, tapi bapaknya tetap besikukuh supaya Rita menikah dengan seorang yang sudah mapan. Bapaknya akan lebih senang lagi kalau menantunya adalah seorang pegawai negeri. Wajar sajalah karena bapaknya Rita kan seorang pejabat di kantor pemda.”
“Terus bagaimana ustadz?” aku bingung mau bilang apa, hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulutku.
Ustadz Sholihin tersenyum kecil kemudian berkata lagi kepadaku,
“Ahmad…., Allah Lebih Tahu siapa yang pantas untuk menjadi istrimu dan siapa yang pantas untuk menjadi suami bagi Rita. Mungkin saja Rita memang belum jodohmu, kamu kan sudah sholat istikhoroh minta petunjuk yang terbaik kepada Allah. InsyaAllah ada wanita yang lebih baik yang telah disediakan Allah untukmu.”
“Apa saya menunggu setelah wisuda saja ya ustadz? Saya khawatir akan ditolak untuk kedua kalinya kalau mau melamar akhwat yang lain sebelum lulus.”
“Kamu ini kok malah jadi putus asa begitu. Allah tidak menyukai hamba-hambaNya yang berputus asa dari rahmatNya. Kamu kan bilang kalau kamu sudah siap lahir dan batin, kedua orangtuamu juga sudah mendukungmu. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah tetap ikhtiar dan berdoa kepada Allah supaya Allah mendekatkan jodohmu. Anggaplah semua kejadian yang telah kita alami ini pelajaran hidup yang berharga yang diberikan Allah untuk kita.”, ustadz Sholihin mencoba meyakinkanku.
“Baiklah ustadz, terima kasih atas semua nasihat ustadz. Saya mohon bimbingan terus dari ustadz.”
“InsyaAllah… Kamu sabar ya, semoga tidak lama lagi aku bisa memberikan biodata akhwat yang lain kepadamu.”
Meskipun belum sepenuhnya mantap, aku paksakan untuk meminta kepada ustadz Sholihin supaya beliau mempertemukanku dengan Rita. Aku merasa sudah terlalu lama tidak segera memberikan kepastian kepada ustadz Sholihin.
*****
Tiga pekan setelah proses ta'aruf, aku di minta untuk kerumah ustadz Sholihin. Beberapa kali bertemu dalam proses ta’aruf, Aku dan Rita merasa sudah bisa saling menerima satu dengan yang lain. Mungkin ada berita terbaru yang akan disampaikan ustadz Sholihin kepadaku
“Sebelumnya maaf Mad, aku harus menyampaikan pesan dari Rita. Bapaknya mensyaratkan supaya laki-laki yang akan menikahi anaknya haruslah seorang yang sudah punya pekerjaan yang mapan.” Ternyata malam ini ustadz Sholihin meminta aku ke rumah beliau karena ingin menyampaikan pesan dari Rita ini.
“Berarti bapaknya Rita tidak menerima lamaranku ya ustadz?” aku ingin coba memastikan apa yang aku dengar.
“Tenang saja, kamu harusnya bersyukur karena belum jadi melamar ke rumahnya. Rita baru menceritakan kepada bapaknya bahwa ada seorang laki-laki yang mau melamarnya. Setelah Rita menceritakan panjang lebar tentangmu, ternyata bapaknya belum bisa menerima karena kamu belum lulus dan belum mempunyai pekerjaan yang benar-benar mapan.” Ustadz Sholihin berhenti sejenak dan memintaku minum teh yang baru saja dihidangkan oleh istri beliau. Meskipun selera makan dan minumku hilang setelah mendengar cerita beliau tadi, tapi aku paksakan minum sedikit teh yang sudah dihadangkan untuk menghormati beliau. Beberapa saat setelah istri ustadz Sholihin masuk, beliau kemudian melanjutkan ceritanya.
“Rita bilang kepadaku kalau dia sudah berusaha untuk meyakinkan bapaknya bahwa sebentar lagi skripsimu akan selesai, dia juga sudah bilang kalau meskipun belum mapan tapi penghasilanmu saat ini sudah cukup untuk sekedar hidup berdua dengannya. Ibunya Rita sebenarnya juga tidak terlalu keberatan kalau kamu menikahi putrinya, tapi bapaknya tetap besikukuh supaya Rita menikah dengan seorang yang sudah mapan. Bapaknya akan lebih senang lagi kalau menantunya adalah seorang pegawai negeri. Wajar sajalah karena bapaknya Rita kan seorang pejabat di kantor pemda.”
“Terus bagaimana ustadz?” aku bingung mau bilang apa, hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulutku.
Ustadz Sholihin tersenyum kecil kemudian berkata lagi kepadaku,
“Ahmad…., Allah Lebih Tahu siapa yang pantas untuk menjadi istrimu dan siapa yang pantas untuk menjadi suami bagi Rita. Mungkin saja Rita memang belum jodohmu, kamu kan sudah sholat istikhoroh minta petunjuk yang terbaik kepada Allah. InsyaAllah ada wanita yang lebih baik yang telah disediakan Allah untukmu.”
“Apa saya menunggu setelah wisuda saja ya ustadz? Saya khawatir akan ditolak untuk kedua kalinya kalau mau melamar akhwat yang lain sebelum lulus.”
“Kamu ini kok malah jadi putus asa begitu. Allah tidak menyukai hamba-hambaNya yang berputus asa dari rahmatNya. Kamu kan bilang kalau kamu sudah siap lahir dan batin, kedua orangtuamu juga sudah mendukungmu. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah tetap ikhtiar dan berdoa kepada Allah supaya Allah mendekatkan jodohmu. Anggaplah semua kejadian yang telah kita alami ini pelajaran hidup yang berharga yang diberikan Allah untuk kita.”, ustadz Sholihin mencoba meyakinkanku.
“Baiklah ustadz, terima kasih atas semua nasihat ustadz. Saya mohon bimbingan terus dari ustadz.”
“InsyaAllah… Kamu sabar ya, semoga tidak lama lagi aku bisa memberikan biodata akhwat yang lain kepadamu.”
Friday, August 20, 2010
Ikhwan Mencari Cinta (part 1) - cerpen
Malam ini adalah saat yang sudah aku tunggu-tunggu. Aku segera pergi ke rumah Ustadz Sholihin setelah sholat isya’. Ustadz Sholihin berjanji akan memberikan biodata akhwat yang akan diperkenalkan denganku setelah dua pekan yang lalu aku menyerahkan biodataku kepada beliau untuk dicarikan akhwat yang menurut beliau cocok untuk menjadi pendamping hidupku. Sesampai rumah ustadz Sholihin, beliau sendiri yang menjawab salamku kemudian membukakan pintu.
“Oh Ahmad tho, malam ini kelihatan tampan sekali kamu. Mari silahkan duduk, aku sudah menunggumu sejak ba’da isya’ tadi.” Setelah mempersilahkan duduk, beliau ijin masuk kedalam sebentar.
Aku tidak tahu apakah pujian yang disampaikan beliau barusan adalah yang sejujurnya ataukah hanya untuk menyenangkan hatiku. Mungkin saja beliau ingin mendapat pahala dengan menyenangkan hati orang lain. Tapi bagiku itu tidak penting, yang terpenting adalah aku segera mendapat biodata akhwat yang sudah beliau janjikan untukku. Siapa kiranya gerangan akhwat yang telah dijodohkan oleh Allah untuk menjadi pendamping hidupku. Apakah dia akhwat yang sesuai dengan kriteria yang aku harapkan ataukah tidak. Pertanyaan-pertanyaan itu yang melayang dalam benak fikiranku.
Tidak lama kemudian ustadz Sholihin keluar membawa sebuah amplop agak besar. Aku sangat yakin amplop yang dibawa beliau itu berisi biodata akhwat yang telah beliau janjikan. Sepertinya ustadz Sholihin tahu kecemasan dalam fikiranku.
”Ini Mad, biodata akhwat yang telah aku janjikan padamu.”
Beliau menyerahkan amplop itu kepadaku sambil duduk di kursi sebelahku. Beliau memegang pundakku, kemudian berpesan,
“Kamu baca saja biodatanya nanti dirumah. Silakan kamu sholat istikhoroh, minta petunjuk kepada Allah. Seandainya akhwat ini yang telah dipilihkan Allah untuk kebaikan dunia dan akhiratmu, semoga Allah memberikan kemantapan dalam hatimu. Pesanku, janganlah kamu mendahulukan pertimbangan-pertimbangan duniawi karena semua yang ada di dunia ini akan rusak. Wajah yang cantik rupawan, suatu saat juga akan keriput termakan usia. Harta dan pekerjaan, sangat mudah bagi Allah untuk mengambilnya setiap saat. Tidak jarang harta dan pekerjaan justru melalaikan manusia dari beribadah kepada Allah. Adapun nasab keluarga, setiap orang tidak mempunyai kekuasaan untuk memilih lahir dari rahim wanita yang dia kehendaki. Yang terpenting adalah apa yang telah dia perbuat setelah kelahirannya untuk mempersiapkan akhir hidupnya. Rasulullah memang pernah menyampaikan seorang wanita dipilih karena beberapa hal tersebut. Tapi terakhir beliau menyampaikan, pilihlah olehmu seorang wanita karena agamanya. Karena agama yang baik dari seorang istri akan menyelamatkanmu di dunia dan di akhirat.”
“Terima kasih ustadz, insyaAllah akan saya laksanakan nasehat ustadz. Kalau begitu saya mohon pamit dulu ustadz.”
“Baiklah, hati-hati dijalan ya. Titip salam buat ibu dan bapak di rumah.”
“InsyaAllah ustadz, Assalamu’alaykum…”
“Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarokatuh..”
“Oh Ahmad tho, malam ini kelihatan tampan sekali kamu. Mari silahkan duduk, aku sudah menunggumu sejak ba’da isya’ tadi.” Setelah mempersilahkan duduk, beliau ijin masuk kedalam sebentar.
Aku tidak tahu apakah pujian yang disampaikan beliau barusan adalah yang sejujurnya ataukah hanya untuk menyenangkan hatiku. Mungkin saja beliau ingin mendapat pahala dengan menyenangkan hati orang lain. Tapi bagiku itu tidak penting, yang terpenting adalah aku segera mendapat biodata akhwat yang sudah beliau janjikan untukku. Siapa kiranya gerangan akhwat yang telah dijodohkan oleh Allah untuk menjadi pendamping hidupku. Apakah dia akhwat yang sesuai dengan kriteria yang aku harapkan ataukah tidak. Pertanyaan-pertanyaan itu yang melayang dalam benak fikiranku.
Tidak lama kemudian ustadz Sholihin keluar membawa sebuah amplop agak besar. Aku sangat yakin amplop yang dibawa beliau itu berisi biodata akhwat yang telah beliau janjikan. Sepertinya ustadz Sholihin tahu kecemasan dalam fikiranku.
”Ini Mad, biodata akhwat yang telah aku janjikan padamu.”
Beliau menyerahkan amplop itu kepadaku sambil duduk di kursi sebelahku. Beliau memegang pundakku, kemudian berpesan,
“Kamu baca saja biodatanya nanti dirumah. Silakan kamu sholat istikhoroh, minta petunjuk kepada Allah. Seandainya akhwat ini yang telah dipilihkan Allah untuk kebaikan dunia dan akhiratmu, semoga Allah memberikan kemantapan dalam hatimu. Pesanku, janganlah kamu mendahulukan pertimbangan-pertimbangan duniawi karena semua yang ada di dunia ini akan rusak. Wajah yang cantik rupawan, suatu saat juga akan keriput termakan usia. Harta dan pekerjaan, sangat mudah bagi Allah untuk mengambilnya setiap saat. Tidak jarang harta dan pekerjaan justru melalaikan manusia dari beribadah kepada Allah. Adapun nasab keluarga, setiap orang tidak mempunyai kekuasaan untuk memilih lahir dari rahim wanita yang dia kehendaki. Yang terpenting adalah apa yang telah dia perbuat setelah kelahirannya untuk mempersiapkan akhir hidupnya. Rasulullah memang pernah menyampaikan seorang wanita dipilih karena beberapa hal tersebut. Tapi terakhir beliau menyampaikan, pilihlah olehmu seorang wanita karena agamanya. Karena agama yang baik dari seorang istri akan menyelamatkanmu di dunia dan di akhirat.”
“Terima kasih ustadz, insyaAllah akan saya laksanakan nasehat ustadz. Kalau begitu saya mohon pamit dulu ustadz.”
“Baiklah, hati-hati dijalan ya. Titip salam buat ibu dan bapak di rumah.”
“InsyaAllah ustadz, Assalamu’alaykum…”
“Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarokatuh..”
Tuesday, July 06, 2010
KAMI TUNGGU ANDA MENOLONG ISLAM
Sekarang, kami tunggu aktivis Islam, terutama generasi muda, menolong Islam dan umatnya. Kami tungu peran mereka seperti peran Abu Bakar saat memerangi orang-orang murtad, peran Khalid bin Walid di perang Yarmuk, peran Sa’ad bin Abu Waqash di perang Al qadisiyah, peran Shalahuddin Al Ayyubi di perng Hiththin, pern Qataz di perang Ain Jalut, peran Muhammad Al Fatih di Konstantinopel, dan peran Sulaiman Al-Halbi saat menyerang Cliber.
Kami ingin bahagia, kendati sejenak sebelum meninggal dunia, melihat Khilafah Islamiyah dan menyaksikan benderanya berkibar di timur dan barat. Juga memandang naungannya yang rimbun menyebarkan keadilan, kebenaran, sinar, dan petunjuk, ke dunia. Kami tunggu hari itu, dimana khalifah kaum Muslimin memandang awan, lalu berkata kepadanya, ”Wahai awan, pergilah ke timur dan barat, niscaya pajaknya akan sampai ke tangan saya.” Khalifah berkata benar dan dulu wilayah Islam memang membentang ke timur dan barat, hingga mencapai wilayah paling barat dan timur, serta kekuasaan khalifah mencakupsemua wilayah, lalu daerah-daerah tersebut mendapatkan kebaikan, petunjuk, dan sinar.
Kita amat rindu datangnya hari Allah Ta’ala menaklukkan Roma, sentral kristen di dunia, yang dulu diprediksikan Rasulullah SAW akan ditaklukkan setelah Konstantinopel(diriwayatkan Ahmad). Konstatinopl ”Istambul” sudah ditaklukkan Allah Ta’ala, melalui sultan agung Muhammad Al-Fatih, yang dipuji hadits,
”Konstantinopel akan ditaklukkan. Komandan perang paling baik adalah komandan perang konstantinopel dan pasukan terbaik ialah pasukannya.” (diriwayatkan Ahmad)
Ketika itu Muhammad Al-Fatih sudah mempersiapkan diri untuk menaklukkan Romawi, setelah sukses menaklukkan Konstantinopel. Hal iitu membuat pasukan Romawi cemas dan ketakutan. Muhammad Al-Fatih tidak puas sebelum merealisasikan preoyek besar ini. Bukti ketakutan Eropa dan kecemasan mereka ialah gereja-gereja Eropa secara umum dan roma secara khusus tidak henti-hentinya membunyikan lonceng selama tiga hari berturut-turut, sebagai bentuk ungkapan rsas suka cita mereka atas meninggalnya Muhammad Al-Fatih. Kita tunggu hari seperti itu, kendati lebih panas dari bara api. Kemenangan Islam itu puncak harapan seseorang di dunia. Sekarang, kita merasakan kebaian dunia yang disebutkan di ayat,
”Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat." (Al-Baqarah:201).
Itu bukan istri shalihah, namun menolong Islam, seperti dikatakan sebagian ulama. Sungguh mulia kebaikan itu! Kebaikan seperti itu menghilangkan kegalauan dan kesedihan, kendati seseorang harus kehilangan keluarga, anak, harta, dan jabatan, demi merealisasikannya. Kita lebih rindu hari Allah Ta’ala menolong agama-Nya, lalu Dia memuliakan wali-wali-Nya, daripada kerinduan kita kepada istri, anak, ayah, dan ibu, yang kita tinggalkan bertahun-tahun.
Kita merindukan hari seperti hari Uqbah bin Nafi’ mencebur ke Samudera Atlantik, dengn kaki kudanya, lalu berkata, ”Demi Allah, andai aku tahu di seberang sana ada negeri, aku pasti menyerbunya di jalan Allah.”
Uqbah bin Nafi’ berkata saat memandang langit, ”Tuhanku, kalaulah tidak terhalang lautan ini, aku pasti berjalan di banyak negeri, guna berjihad di jalan-Mu.”
Kita tunggu hari-hari seperti di atas dari Anda, wahai aktivis Islam. Apakah Anda siap merespon harapan ini? Apakah Anda menjawab serun ini? Penyair berkata,
Dukaku dan duka setiap orang merdeka
Ialah pertanyaan zaman,’Dimana gerangan kaum Muslimin berada?’
Akankah masa lalu itu kembali lagi?
Sungguh, aku merindukan masa lalu itu
Bebaskan aku dari angan-angan itu tak lebih dari ilusi semata
Berikan iman sebagai cahaya bagiku
Dan kuatkn keyakinan pada diriku
Aku sodorkan tanganku dan mencabut gunung
Serta membangun kejayaan, dengan harmonis dan kuat.
Kami ingin bahagia, kendati sejenak sebelum meninggal dunia, melihat Khilafah Islamiyah dan menyaksikan benderanya berkibar di timur dan barat. Juga memandang naungannya yang rimbun menyebarkan keadilan, kebenaran, sinar, dan petunjuk, ke dunia. Kami tunggu hari itu, dimana khalifah kaum Muslimin memandang awan, lalu berkata kepadanya, ”Wahai awan, pergilah ke timur dan barat, niscaya pajaknya akan sampai ke tangan saya.” Khalifah berkata benar dan dulu wilayah Islam memang membentang ke timur dan barat, hingga mencapai wilayah paling barat dan timur, serta kekuasaan khalifah mencakupsemua wilayah, lalu daerah-daerah tersebut mendapatkan kebaikan, petunjuk, dan sinar.
Kita amat rindu datangnya hari Allah Ta’ala menaklukkan Roma, sentral kristen di dunia, yang dulu diprediksikan Rasulullah SAW akan ditaklukkan setelah Konstantinopel(diriwayatkan Ahmad). Konstatinopl ”Istambul” sudah ditaklukkan Allah Ta’ala, melalui sultan agung Muhammad Al-Fatih, yang dipuji hadits,
”Konstantinopel akan ditaklukkan. Komandan perang paling baik adalah komandan perang konstantinopel dan pasukan terbaik ialah pasukannya.” (diriwayatkan Ahmad)
Ketika itu Muhammad Al-Fatih sudah mempersiapkan diri untuk menaklukkan Romawi, setelah sukses menaklukkan Konstantinopel. Hal iitu membuat pasukan Romawi cemas dan ketakutan. Muhammad Al-Fatih tidak puas sebelum merealisasikan preoyek besar ini. Bukti ketakutan Eropa dan kecemasan mereka ialah gereja-gereja Eropa secara umum dan roma secara khusus tidak henti-hentinya membunyikan lonceng selama tiga hari berturut-turut, sebagai bentuk ungkapan rsas suka cita mereka atas meninggalnya Muhammad Al-Fatih. Kita tunggu hari seperti itu, kendati lebih panas dari bara api. Kemenangan Islam itu puncak harapan seseorang di dunia. Sekarang, kita merasakan kebaian dunia yang disebutkan di ayat,
”Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat." (Al-Baqarah:201).
Itu bukan istri shalihah, namun menolong Islam, seperti dikatakan sebagian ulama. Sungguh mulia kebaikan itu! Kebaikan seperti itu menghilangkan kegalauan dan kesedihan, kendati seseorang harus kehilangan keluarga, anak, harta, dan jabatan, demi merealisasikannya. Kita lebih rindu hari Allah Ta’ala menolong agama-Nya, lalu Dia memuliakan wali-wali-Nya, daripada kerinduan kita kepada istri, anak, ayah, dan ibu, yang kita tinggalkan bertahun-tahun.
Kita merindukan hari seperti hari Uqbah bin Nafi’ mencebur ke Samudera Atlantik, dengn kaki kudanya, lalu berkata, ”Demi Allah, andai aku tahu di seberang sana ada negeri, aku pasti menyerbunya di jalan Allah.”
Uqbah bin Nafi’ berkata saat memandang langit, ”Tuhanku, kalaulah tidak terhalang lautan ini, aku pasti berjalan di banyak negeri, guna berjihad di jalan-Mu.”
Kita tunggu hari-hari seperti di atas dari Anda, wahai aktivis Islam. Apakah Anda siap merespon harapan ini? Apakah Anda menjawab serun ini? Penyair berkata,
Dukaku dan duka setiap orang merdeka
Ialah pertanyaan zaman,’Dimana gerangan kaum Muslimin berada?’
Akankah masa lalu itu kembali lagi?
Sungguh, aku merindukan masa lalu itu
Bebaskan aku dari angan-angan itu tak lebih dari ilusi semata
Berikan iman sebagai cahaya bagiku
Dan kuatkn keyakinan pada diriku
Aku sodorkan tanganku dan mencabut gunung
Serta membangun kejayaan, dengan harmonis dan kuat.
Sunday, July 04, 2010
AKTIVITAS ISLAM, BUKAN AKTIVITAS TEMPORER!!!
Akhi, aktivis Islam, aktivitas Islam itu bukan aktivitas yang bisa Anda kerjakan di sebagian waktu, lalu boleh Anda tinggalkan pada waktu lain. Sama sekali tidak. Aktivitas islam dan masuknya Anda ke dalam Islam ini lebih dari itu. Islam bukan sembarang aktivitas, seperti misalnya aktivitas budaya, atau aktivitas olahraga, atau kepanduan, yang biasa Anda geluti saat kuliah, lalu Anda tinggalkan setelah lulus. Atau aktivitas yang anda jalani ketika Anda membujang, lalu Anda tinggalkan setelah menikah. Atau aktivitas yang Anda beri waktu sebelum Anda menduduki jabatan tertentu, lalu Anda beri waktu sebelum Anda menduduki jabatan tertentu, lalu Anda tinggalkan jika Anda punya jabatan tertentu, atau sukses membuka klinik, atau apotek, atau kantor konsultan, atau sibuk studi S1 atau S2. tidak! Aktivitas Islam sama sekali tidak seperti itu.
Aktivitas Islam dan masuknya Anda ke dalamnya adalah penyembahan Anda kepada Allah Ta’ala. Dan, orang Muslim tidak berhenti dari aktivitas Islam, karena merupakan tuntutan penyembahannya kepada Allah Ta’ala, hingga detik akhir kehidupannya. Akhi, apakah Anda tidak membaca firman Allah Ta’ala,
”Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini.”(Q.S.Al-Hijr:11)
Maksudnya, sembahlah Allah Ta’ala hingga kematian datang kepadamu. Al-Qur’an tidak mengatakan, ”Sembahlah Allah hingga anda lulus dari universitas, atau hingga Anda punya jabatan tertentu, atau hingga Anda menikah, atau hingga Anda sukses membuka bisnis.”
Generasi salafush shalih memahami dengan baik ayat di atas. Kita lihat Ammar bin Yasir ra masih ikut berperang di jalan Allah Ta’ala, saat berusia sembilan puluh tahun. Saya katakan berperang bukan sekedar berdakwah, atau mengajar, atau mengerjakan amar ma’ruf nahi munkar. Disamping mengerjakan aktivitas itu semua, Ammar bin Yasir berperang di jalan Allah Ta’ala, saat ia berada di usia, dimana tulang-tulang sudah lemah, tubuh loyo, rambut beruban, dan kekuatan menurun.
Abu Sufyan bin Harb ra memotivasi tentara untu berperang, padahal ia berusia tujuh puluh tahun. Begitu juga Al Yaman dan Tsabit bin Waqsy, keduanya berperang di perang Uhud, kendati berusia lanjut dan diberi dispensasi oleh Rasulullah SAW. Beliau menempatkan keduanya di barisan belakang bersama kaum wanita. Kenapa kita pergi terlalu jauh? Raulullah SAW malakoni tujuh puluh perang setelah lebih dari lima puluh empat tahun. Bahkan, beliau berumur enam puluh tahun saat hadir di perang Tabuk, yang merupakan perang paling sulit bagi kaum Muslimin, dan memimpin kaum Muslimin di dalamnya.
Kenapa sekarang kita lihat banyak aktivis Islam tidak lagi menjadi aktivis Islam setelah lulus kuliah, atau menikah, atau sibuk bisnis, atau punya jabatan?
Mereka harus tahu bahwa permasalahan agama tidak main-main dan bisa disepelkan seperti itu. Allah Ta’ala berfirma,
”Dan kalian menganggapnya ringan saja. Padahal, dia pada sisi Allah itu besar.” (An-Nuus:15)
Mana baiat (ikrar), yang dulu Anda berikan didepan Allah Ta’ala, bukan hanya didepan manusia? Allah Ta’ala berfirman,
“Dan perjanjian dengan Alah itu diminta pertanggungjawabannya.” (Al Ahzab: 15)
Mana slogan, yang dulu sering Anda gembor-gemborkan,
Kami bangkit di jalan Allah
Kami ingin meninggikan panji
Kami beramal bukan untuk partai
Tapi, kami siap menjadi tumbal bagi agama ini
Silakan kejayaan agama muncul kembali lagi
Atau darah kami tumpah karenanya
Akibat melanggar janji itu amat berat. Terutama, bagi orang yang tadinya tahu kebenaran, lalu berpaling darinya dan orang yang telah merasakan manisnya iman lalu terjerumus dalam kebatilan. Melanggar janji dengan Allah Ta’ala itu dosa paling besar kepadaNya dan kaum mukminin. Allah Ta’ala berfirman,
”Maka barang siapa melanggar janjinya, niscaya akibat ia melanggar janji itu menimpa dirinya sendiri.” (Al-Fath: 10).
Orang yang dirayu jiwanya yang menyuruh kepada keburukan dan digoda setan untuk ingkar janji harus merenungkan firman Allah Ta’ala,
”Dan di antara mereka ada orang yang berikrar kepada Allah, ’Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, kami pasti terasuk orang-orang shalih.’ Maka setelah Allah memberi mereka sebagian karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia iu dan berpaling, dan mereka orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (At-Taubah:75-76)
Ia juga harus merenungkan dengan baik hukuman adil, seperti disebutkan di ayat berikut,
”Maka Allah menimbulkan kemunafikan di hati mereka sampai waktu mereka menemui Allah, karena mereka memungkiri terhada Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.” (Q.S. At Taubah:77).
Aktivitas Islam itu agenda utama. Tragisnya, sebagian orang berhati sakit yang bergabung dengan ikhwah aktivis Islam di aktivitas Islam, di kampus, itu memandang aktivitas Islam seperti proyek bisnis. Karenanya, proyek bisnis tersebut berakhir secara otomatis, bersamaan denga selesainya waktu kuliah. Atau aktivitas Islam dianggap sebatas persahabatan di kampus, lalu bubar dengan berakhirnya masa studi.
Orang-orang seperti itu saya katakan orang-orang berhati sakit. Sebab, biasanya, penyakit muncul dari orang yang imannya lemah, hatinya sakit, tekadnya pas-pasan, dan makna iman tidak menancap kuat di hati. Umumnya, aib itu ada di hati, bukan di akal. Aib terjadi sebab iman tidak beres, bukan karena minimnya ilmu. Juga karena pengaruh syahwat, bukan karena ketidakjelasan. Juga karena cinta dunia, bukan karena minimnya kesadaran. Siapa ingin melakukan terapi, ia harus pergi kepada orang-orang yang berhati bersih, guna menghilangkan kotorannya dan mengobati penyakitnya. Sayangnya, dokter itu tidak banya pada zaman sekarang. Yang saya maksud dengan dokter di sini ialah dokter hati. Sedang dokter tubuh, banyaknya segudang.
Sungguh, orang yang keluar dari kebenaran setelah mengetahuinya itu lebih mementingkan kesenangan sementara dan syahwat terbatas, mencari kesenangan sesaat dengan mengorbankan kesedihan sepanjang tahun, menceburkan diri ke maksiat dan berpaling dari tujuan besar menuju tujuan picisan. Akibatnya, ia hidup di penjara setan, terombang ambing di lembah kebingungan, dan terbelenggu di penjara hawa nafsu. Seorang penyair berkata,
’Ia menjadi burung elang yang bulunya tercerabut
Ia merasa rugi setiap melihat burung lain terbang’.
===================================================
Artikel dari ”TAUSYAH UNTUK AKTIVIS ISLAM” , Dr. Najih Ibrahim.
===================================================
Aktivitas Islam dan masuknya Anda ke dalamnya adalah penyembahan Anda kepada Allah Ta’ala. Dan, orang Muslim tidak berhenti dari aktivitas Islam, karena merupakan tuntutan penyembahannya kepada Allah Ta’ala, hingga detik akhir kehidupannya. Akhi, apakah Anda tidak membaca firman Allah Ta’ala,
”Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini.”(Q.S.Al-Hijr:11)
Maksudnya, sembahlah Allah Ta’ala hingga kematian datang kepadamu. Al-Qur’an tidak mengatakan, ”Sembahlah Allah hingga anda lulus dari universitas, atau hingga Anda punya jabatan tertentu, atau hingga Anda menikah, atau hingga Anda sukses membuka bisnis.”
Generasi salafush shalih memahami dengan baik ayat di atas. Kita lihat Ammar bin Yasir ra masih ikut berperang di jalan Allah Ta’ala, saat berusia sembilan puluh tahun. Saya katakan berperang bukan sekedar berdakwah, atau mengajar, atau mengerjakan amar ma’ruf nahi munkar. Disamping mengerjakan aktivitas itu semua, Ammar bin Yasir berperang di jalan Allah Ta’ala, saat ia berada di usia, dimana tulang-tulang sudah lemah, tubuh loyo, rambut beruban, dan kekuatan menurun.
Abu Sufyan bin Harb ra memotivasi tentara untu berperang, padahal ia berusia tujuh puluh tahun. Begitu juga Al Yaman dan Tsabit bin Waqsy, keduanya berperang di perang Uhud, kendati berusia lanjut dan diberi dispensasi oleh Rasulullah SAW. Beliau menempatkan keduanya di barisan belakang bersama kaum wanita. Kenapa kita pergi terlalu jauh? Raulullah SAW malakoni tujuh puluh perang setelah lebih dari lima puluh empat tahun. Bahkan, beliau berumur enam puluh tahun saat hadir di perang Tabuk, yang merupakan perang paling sulit bagi kaum Muslimin, dan memimpin kaum Muslimin di dalamnya.
Kenapa sekarang kita lihat banyak aktivis Islam tidak lagi menjadi aktivis Islam setelah lulus kuliah, atau menikah, atau sibuk bisnis, atau punya jabatan?
Mereka harus tahu bahwa permasalahan agama tidak main-main dan bisa disepelkan seperti itu. Allah Ta’ala berfirma,
”Dan kalian menganggapnya ringan saja. Padahal, dia pada sisi Allah itu besar.” (An-Nuus:15)
Mana baiat (ikrar), yang dulu Anda berikan didepan Allah Ta’ala, bukan hanya didepan manusia? Allah Ta’ala berfirman,
“Dan perjanjian dengan Alah itu diminta pertanggungjawabannya.” (Al Ahzab: 15)
Mana slogan, yang dulu sering Anda gembor-gemborkan,
Kami bangkit di jalan Allah
Kami ingin meninggikan panji
Kami beramal bukan untuk partai
Tapi, kami siap menjadi tumbal bagi agama ini
Silakan kejayaan agama muncul kembali lagi
Atau darah kami tumpah karenanya
Akibat melanggar janji itu amat berat. Terutama, bagi orang yang tadinya tahu kebenaran, lalu berpaling darinya dan orang yang telah merasakan manisnya iman lalu terjerumus dalam kebatilan. Melanggar janji dengan Allah Ta’ala itu dosa paling besar kepadaNya dan kaum mukminin. Allah Ta’ala berfirman,
”Maka barang siapa melanggar janjinya, niscaya akibat ia melanggar janji itu menimpa dirinya sendiri.” (Al-Fath: 10).
Orang yang dirayu jiwanya yang menyuruh kepada keburukan dan digoda setan untuk ingkar janji harus merenungkan firman Allah Ta’ala,
”Dan di antara mereka ada orang yang berikrar kepada Allah, ’Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, kami pasti terasuk orang-orang shalih.’ Maka setelah Allah memberi mereka sebagian karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia iu dan berpaling, dan mereka orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (At-Taubah:75-76)
Ia juga harus merenungkan dengan baik hukuman adil, seperti disebutkan di ayat berikut,
”Maka Allah menimbulkan kemunafikan di hati mereka sampai waktu mereka menemui Allah, karena mereka memungkiri terhada Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.” (Q.S. At Taubah:77).
Aktivitas Islam itu agenda utama. Tragisnya, sebagian orang berhati sakit yang bergabung dengan ikhwah aktivis Islam di aktivitas Islam, di kampus, itu memandang aktivitas Islam seperti proyek bisnis. Karenanya, proyek bisnis tersebut berakhir secara otomatis, bersamaan denga selesainya waktu kuliah. Atau aktivitas Islam dianggap sebatas persahabatan di kampus, lalu bubar dengan berakhirnya masa studi.
Orang-orang seperti itu saya katakan orang-orang berhati sakit. Sebab, biasanya, penyakit muncul dari orang yang imannya lemah, hatinya sakit, tekadnya pas-pasan, dan makna iman tidak menancap kuat di hati. Umumnya, aib itu ada di hati, bukan di akal. Aib terjadi sebab iman tidak beres, bukan karena minimnya ilmu. Juga karena pengaruh syahwat, bukan karena ketidakjelasan. Juga karena cinta dunia, bukan karena minimnya kesadaran. Siapa ingin melakukan terapi, ia harus pergi kepada orang-orang yang berhati bersih, guna menghilangkan kotorannya dan mengobati penyakitnya. Sayangnya, dokter itu tidak banya pada zaman sekarang. Yang saya maksud dengan dokter di sini ialah dokter hati. Sedang dokter tubuh, banyaknya segudang.
Sungguh, orang yang keluar dari kebenaran setelah mengetahuinya itu lebih mementingkan kesenangan sementara dan syahwat terbatas, mencari kesenangan sesaat dengan mengorbankan kesedihan sepanjang tahun, menceburkan diri ke maksiat dan berpaling dari tujuan besar menuju tujuan picisan. Akibatnya, ia hidup di penjara setan, terombang ambing di lembah kebingungan, dan terbelenggu di penjara hawa nafsu. Seorang penyair berkata,
’Ia menjadi burung elang yang bulunya tercerabut
Ia merasa rugi setiap melihat burung lain terbang’.
===================================================
Artikel dari ”TAUSYAH UNTUK AKTIVIS ISLAM” , Dr. Najih Ibrahim.
===================================================
Subscribe to:
Posts (Atom)
