Followers

Tuesday, July 07, 2009

MENGENDALIKAN RASA CINTA


"...kalau kemarin posting tulisan ust.hatta yang profokatif sekarang posting tulisan yang bisa jadi antisipatif, semoga bermanfaat ..."
MENGENDALIKAN RASA CINTA

Sobat muda muslim, nggak salah kalo cinta bisa mendera siapa aja. Termasuk para aktivis dakwah. Tapi tetep kita kudu waspada ama VMJ ini. Soalnya orang bisa berubah karena kasmaran. Yang pasti nggak berubah jadi Ksatria Baja Hitam. Tapi perubahan yang lambat laun nampak dalam diri kita. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin menuliskan komentar sejumlah orang tentang pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang.

Di antaranya sebagai berikut: “Cinta itu bisa menyucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, mendorong untuk berpakaian rapi, makan yang baik-baik, memelihara akhlak yang mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi yang ahli ibadah”.

Nah, lho? Ternyata cinta bukan cuma Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki seperti kata Sheila On Tujuh. Tapi juga merupakan ujian sekaligus cobaan buat orang shaleh, ahli ibadah, termasuk aktivis dakwah. Kok bisa? Iya, karena cinta nggak cuma bisa mengubah pe-nampilan aja. Dia juga bisa membelokkan niat yang udah lurus. Komitmen dakwah bisa berubah. Aktivitas dakwah yang awalnya diniatkan untuk mendapat ridho Allah bisa terkontaminasi saat VMJ meradang. Ini yang kudu diwaspadai.

Tentu kita nggak pengen dong, aktivitas dakwah kita yang mulia jadi kacau-beliau gara-gara kita terpana pesona cinta. Makanya kita kudu pandai mengendalikan rasa itu. Seperti kata dokter, mencegah lebih baik daripada mengobati. Untuk urusan cinta juga sama. Lebih baik kita mencegah aktivitas yang bikin VMJ meradang. Ada dua hal yang bisa kita jalanin sebagai langkah pencegahan (kayak 3M DBD aja neh!).

Pertama, dari dalam diri kita. Di sini kita kuatkan benteng pertahanan dari serangan rasa cinta yang membabi buta. Caranya, rajin puasa sunat. Rasulullah menganjurkan pemuda-pemudi untuk berpuasa sebagai satu perisai takwa. Perbanyak membaca al-Qur’an, shalat tahajjud, dan berdzikir kepada Allah saat godaan itu datang. Perbanyak juga doa kita kepada Allah. Minta kepada-Nya biar kita dijauhin dari perbuatan yang haram, minta juga kepada-Nya biar kita dikasih jodoh yang qualified dunia-akhirat. Mau dong?

Kedua, dari luar diri kita. Ini juga nggak kalah pentingnya. Faktor ling-kungan gampang banget meluluhlantakkan pertahanan yang kita bangun. Itu sebabnya, kita kudu bisa menata lingkungan sekitar kita. Misalnya, memini-malisasi pertemuan dan komunikasi dengan lawan jenis. Walau itu untuk konsolidasi dakwah. Sorry, bukannya mo ngerecokin, cuma kita khawatir, jiwa muda kita tak kuasa meredam gejolak rasa cinta itu. Kita juga bisa gaul ama temen-teman yang bisanya nggak cuma manas-manasin doang. Tapi mampu membantu kita menjaga izzah alias harga diri. Sehingga kita bisa belajar menundukkan pandangan. Baik terhadap para ‘macan’ (makhluk cantik) mau pun terhadap media ‘syerem’ yang bisa memacu adrenalin kita.

Kita kudu nyadar kalo seorang aktivis dakwah sering jadi panutan dan teladan bagi orang lain. Nggak cuma Allah yang mengawasi tiap omongan ama tingkah lakunya, tapi juga umat. Gimana jadinya kalo pas ngisi pengajian begitu bersemangat bilang pacaran itu haram. Tapi, pas doi lagi kasmaran, perilakunya nggak beda ama aktivis pacaran. Apalagi pake ngeles dengan istilah ‘pacaran islami’. Idiih…malu ama umat tuh! Firman Allah Swt: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS ash-Shaf [61]: 3)
MENENTUKAN PRIORITAS

Sobat muda muslim, kalo kamu udah bisa atau minimal lagi belajar mengendalikan rasa cinta, sekarang kamu udah pantes buat belajar menentukan prioritas. Karena untuk urusan ekspresi cinta, Islam cuma mengatur dua tahap. Khitbah dan nikah. Nggak ada lagi. Masalahnya, kadang para aktivis dakwah yang mayori-tas pelajar terbentur dengan banyak hal sampe kerepotan memilih satu di antara dua pilihan itu. Kalo pun ada yang berani, lebih didominasi faktor emosi. Bisa jadi was-was sang target ‘disamber’ duluan ama yang laen (Emangnya bis kota maen serobot?)

Kalo mau khitbah dulu, kecil kemungkinan bisa bertahan sampe kamu lulus sekolah atau kuliah terus dapet kerja. Bawaannya pasti pengen segera ijab qabul. Padahal, segala kebutuhan keuangan masih disubsidi penuh ama ortu. Bakal berabe ke depannya. Perhatian kamu bakal terpecah. Antara beresin kuliah atau matengin rencana nikah. Bisa-bisa nggak optimal dua-duanya. Padahal kehidupan rumah tangga bakal menuntut suami untuk mencari nafkah materi. Nggak cuma bermodalkan cinta. Sementara ijazah pendidikan pun adakalanya punya peranan bagi sang suami demi mem-peroleh nafkah.

Nah, kalo udah gini bagusnya kita pusatkan perhatian pada aktivitas tholabul ‘ilmi yang lagi digeluti. Biar masa depan juga terbingkai dengan rapi. Tapi, bukan berarti kita ngelarang kamu mikirin soal nikah lho. Nggak. Silakan aja kalo kamu mau mulai mempelajari soal pernikahan lebih dalam. Karena terpancing ama senior yang bilang nikah itu nikmat, indah dan ibadah, misalnya. Tapi kamu kudu siap hadapi risiko yang bakal menyedot perhatian kamu. Berani ambil risiko? Pikirkan dengan mateng!

Oke deh sobat. Kita percaya kamu-kamu bisa mengambil pilihan dengan bijak. Jangan sampe CBSA bikin aktivitas dakwah kamu kendor. Catet, sekali lagi kita ngingetin, dakwah itu untuk mendapat ridho Ilahi. Bukan karena orang yang dikasihi. Dan jangan takut keduluan, karena jodoh masing-masing nggak akan kelayapan. Oke? Tetap semangat!

Friday, July 03, 2009

TAKAMUL DALAM GERAKAN ISLAM

Imam Syahid Hasan Al banna telah menegaskan tentang keharusan takamul dalam gerakan Islam. Beliau mengatakan:

“Diantara hasil pemahaman terhadap Islam yang bersifat umum dan menyeluruh menurut kami ialah bahwa fikroh kami ini meliputi seluruh aspek ishlah ‘perbaikan’ di tenah umat. Oleh sebab itu, tanpa rasa ragu kami dapat mengatakan bahwa dakwah kami adalah:

1. 1.) Dakwah Salafiyah, sebab dakwah kami mengajak kembali menuju Islam melalui sumbernya yang jernih, yaitu: Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya.
2. 2.) Thariqah Sunniyah, sebab dakwah kami membawa para pengikutnya untuk mengamalkan sunah yang suci di segala bidang aqidah, ibadah, dan semua bidang yan mereka mampu melakukannya.
3. 3.) Hakikat Shufiyah, sebab pengikut dakwah ini menerti bahwa dasar dari kebaikan adalah kesucian jiwa, kebersihan hati, beramal tanpa henti, menjauhkan diri dari kebanyakan manusia, cinta karena Allah, dan menjalin hubungan atas dasar kebaikan.
4. 4.) Hai’ah Siyasiyah ‘Organisasi Politik’, sebab para pengikut dakwah ini menuntut perbaikan undang-undang didalam negeri, melihat kembali hubungan dengna bangsa-bangsa lain di luar negeri serta pembinaan rakyat mengenai kejayaan dan kemuliaan.
5. 5.) Jama’ah Riyadhiyah ‘Perhimpunan Olah raga’, sebab para pengikut dakwah ini memperhatikan tubuh mereka, memahami bahwa mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin yang lemah sesuai dengan sabda Nabi saw. Tugas-tugas dalam Islam tidak mungkin dapat dilaksanakan secara lengkap dan benar kecuali dengna fisik yang kuat.
6. 6.) Rabithah ‘Ilmiyah Tsaqofiyah, sebab menuntut ilmu dalam Islam adalah kewajiban setiap muslim dan muslimah. Disamping itu, semua departemen dalam jama’ah ini pada dasarnya merupakan lembaga ta’lim dan tatsqif ‘pengajaran dan pembekalan wawasan’ serta merupakan institusi untuk tarbiyah jasadiyah ‘fisik’, aqliyah ‘akal’, dan ruhiyah ‘mental’.
7. 7.) Syirkoh Iqtishadiyah ‘Perserikatan Ekonomi’, sebab Islam memberi perhatian pada pengurusan harta dan mengusahakannya melalui cara yang benar.
8. 8.) Fikrah Ijtimaiyah ‘Gagasan Sosial’, sebab para pengikut dakwah ini memberi perhatian kepada berbagai penyakit masyarakat Islam, berusaha untuk menemukan jalan mengobatinya dan menyembuhkan umat darinya.

Demikianlah, kami melihat bahwa makna Islam yang komprehensif telah menjadikan pemikiran kami bersifat menyeluruh terhadap semua aspek perbaikan dan membimbing aktivitas kami pada semua aspek tersebut. Pada saat orang lain memikirkan salah satu aspek saja, kami justru memikirkan semua aspek. Kami memahami bahwa Islam memang meminta kita memperhatikan semuanya.”
Diposkan oleh kakazona di 12:10 AM

Wednesday, July 01, 2009

22th

bismillahirrohmaanirrohiim....

Ya Allah, jarang hamba mensyukuri nikmat usia ini...
betapa banyak waktu yang Engkau beri masih hamba sia-siakan
Ya Allah, jarang hamba meminta untuk Engkau bangunkan di pagi hari...
betapa sering juga hamba lupa bersyukur ketika memulai hari
Ya Allah, hari ini engkau masih berkenan menggenapkan usiaku
Berikanlah bimbingan dan petunjuk kepada hamba untuk memperbaiki diri
Berikanlah hamba kekuatan untuk senantiasa istiqomah di jalanMu
Anugerahi hamba dengan ilmu dan rizki untuk senantiasa memberi kemaanfaatan kepad umat..
Berikanlah kekuatan untuk sabar menghadapi ujian dan cobaan dari Mu
Ya Allah...
dekatkanlah hamba dengan Al Qur'an..
mudahkanlah mata hamba untuk menangis bersimpuh kepada Mu..
eratkan ukhuwah hamba dengan para jundi-jundi dan mujahid Mu..
Ya Allah... berikan petunjuk jalan kepada hamba untuk sampai pada Ridlo dan Maghfirohmu...

Amiin....

Saturday, June 27, 2009

Selamat Tinggal Bujangan

"diambil dari tulisan Ust, Hatta Syamsudin, Lc"

Mohon maaf, sekali lagi memprovokasi dan entah berapa kali lagi saya harus memprovokasi. Semoga cerpen yg saya tulis lima tahun yang lampau di Sudan ini bisa sedikit menggoyahkan pendirian para ikhwan. Agar setengah dien itu cepat terpenuhi, agar segala gundah dalam hari segera sirna. Agar kuat dakwah ini, jika ditopang dengan kader2 yang tangguh luar dalam ... selamat terprovokasi, dan selamat tinggal keraguan.

SELAMAT TINGGAL KERAGUAN


Rini Cahyani, nama yang telah menggetarkan seluruh persendianku. Delapan bulan yang lalu. Tepatnya setelah dua bulan dari kelulusanku dari jurusan Teknik Industri kampus UI Depok.
Nama itu muncul di bagian paling atas dua lembar kertas yang disodorkan Ustad Madani padaku. Sebuah nama yang masih asing bagiku. Namun justru itulah yang membuat jantung ini berdebar lebih cepat. Wajahkupun tak malu mengeluarkan rona merah-birunya. Aku penasaran ? Jelas !
Tetapi untunglah ustad dapat menangkap gelombang penasaran dalam raut mukaku. Setelah sempat terdengar batuk-batuk ringan, beliau mulai mengeluarkan suara khasnya.
" Gimana akhi, sudah antum baca semua biodatanya khan ..?"

Aku tak langsung menjawab. Semua butuh kehati-hatian. Setiap kalimat yang meluncur dari lisanku saat ini, dapat mengubah jalan hidupku di masa mendatang. Tetapi ustad Madani masih terus menebak-nebak alur pikiranku,
"Apakah beliau tidak memenuhi kriteria yang antum tuliskan ? "
" Bukan begitu ustad, tapi… ",. Sekali lagi aku harus berpikir keras.
" Toyyib, antum baca deh terlebih dahulu. Tapi jangan lupa teh dan gorengannya jangan dicuekin ya .. "
" Kalau yang itu… nggak usah ditawarin. Insya Allah kita habiskan Ustad…."

Ustad tersenyum renyah meninggalkan aku dalam bingung. Bukan sekedar bingung. Ada getaran aneh tapi agung dalam kebingunganku. Sementara dua lembar kertas di tanganku malah semakin angkuh. Mencoba menari-nari dalam hatiku.
Masalah tidak memenuhi kriteriaku ? Ah, sebenarnya itupun bukan sesuatu yang kaku bagiku. Namun bagaimanapun aku harus lebih teliti. Kubaca dengan cermat deretan kalimat-kalimat dibawah nama tersebut.

Nama… Rini Cahyani bin Soewandi …..
Soewandi ..? orang Jawa ? atau bahkan keturunan keraton Surakarta ?. Gimana kalo jadi nikah nanti, apa harus pakai adat jawa ? Ditonton ratusan orang di bangsal kencana ?. Memakai blangkon dan keris yang tersembunyi ? Wah ! Apa kata Dunia Islam nantinya ? Seribu satu pertanyaan yang kurang esensial mulai bersliweran mengganggu pikiranku. Aku beristighfar tiga kali. Nampaknya syaitan masih bersemangat untuk menunda-nunda azamku untuk menikah. Bisikannya yang bertabur keraguan itu harus segera kuenyahkan.
Bismillah. Mulai kubaca lagi deretan selanjutnya dengan lebih teliti. Tiap huruf, kata bahkan koma dan titik sangat menentukan !!.Semoga ustad lebih sabar menunggu.

Tempat Tanggal Lahir… Magelang, 23 Juni 1978..
Magelang ? Pasti suku Jawa. Aah.. bukan masalah besar. Toh aku tak pernah mencantumkan jenis suku pada daftar kriteria yang aku serahkan pada ustad. Apalagi orangtuaku paduan dinamis dari suku Melayu dan Bugis. Dan tak pernah kulihat ada pertikaian yang menyangkut SARA di rumahku.
Tapi bagaimana kalau ortunya Kejawen ? Hiii…bagaimana kalau diharuskan mandi kembang tiap malam jumat nanti. Brrr…dingin. Belum lagi nyuci keris dan seperangkat jimat tiap malam purnama ?. Wah, aqidah islamiyah dan dakwah bisa terancam nih. Apa kata Dunia Islam nanti ? Duh, pikiranku mulai ngelantur lagi.

Tapi tahun kelahiran ? 1978 ? Dua tahun lebih muda dariku. Ini berarti ada kesalahan. Apa mungkin ustad salah baca dengan permintaan tertulisku sepekan yang lalu ? atau beliau punya penafsiran lain ?. Kalau tidak salah, yang aku tuliskan dan inginkan adalah minimal seusia dengan ku, atau jika memungkinkan lebih tua sekian tahun dariku.
Ini bukan sok pahlawan sebagaimana sering dituduhkan beberapa ikhwah kepadaku. Ini masalah muyul akhi, begitu aku menjawab tuduhan tersebut. Selama ini aku cenderung mudah berinteraksi dengan orang-orang yang lebih dewasa dariku.

Tapi ini ? dua tahun lebih muda ? Bagaimana kalau masih kekanak-kanakan ? Bagaimana kalau ngajinya belum lurus ? Mengapa ustad memberi pilihan yang ini sih ?. Kembali si syaiton asyik membenamkan pikiranku di lumpur keraguan. Kenapa aku harus terpedaya lagi ? Tsiqoh pada ustad adalah pilihan terbaikku saat ini. Bisa jadi umurnya masih muda, tapi dewasa dalam memaknai hidup. Yah, semoga.
Kulanjutkan mencermati barisan kalimat selanjutnya di secarik kertas HVS tersebut,

Alamat …. Perumahan Perwira TNI AL Blok C 3 – Cilandak, Jakarta Selatan..
TNI AL dan Soewandi ? Putri seorang perwira militer ? Calon mertuaku seorang militer ? Apakah ia juga mendidik putrinya dengan gaya militeristik ?. Bagaimana kalau sang putri ternyata lebih militer dari orangtuanya ? Bagaimana kalau aku harus di uji dulu lewat adu fisik dengan salah seorang anak buahnya ? atau bahkan kakaknya barangkali ? Sebagaimana kisah-kisah pendekar yang pernah aku baca di komik-komik waktu kecil dulu.

Ah, tak perlu ragu. Ini Cuma bisikan setan. Sekarang bukan jaman purba yang mengandalkan otot dan kekerasan. Lagi pula, kalau memang diperlukan, minimal aku masih bisa bertahan dengan sisa-sisa kejayaan latihan thifan-ku di kampus dulu.

Ku menoleh sebentar ke arah ustad Madani yang duduk di depanku. Nampaknya ia cukup paham dengan apa yang ada dipikiranku. Ia hanya tersenyum kecil, mengangguk, sedikit berdehem dan kembali larut dalam konsep khotbah Jum'at yang harus dibawakannya di Masjid UNJ besok siang.
Aku pun kembali asyik menelaah deretan kalimat di secarik kertas, yang menurutku masih menyimpan berjuta misteri.

Pendidikan .. Lulus S 1 Fakultas Sejarah Universitas Gajah Mada tahun 2001..
Nah ! Ini sesuai dengan kriteria, non eksakta. Aku lulusan eksak, teknik Industri dan ia anak sosial, non eksakta, insya Allah matching dan cukup mewakili konsep tawazun, Amiin.

Organisasi …Humas BEM, Keputian LDK, Remas, Pengajar TPA dan bla…bla..bla...
Aktifis kelas berat ? Siapa takut. Bukankah masa lima tahun kuliah telah kuhabiskan di berbagai kegiatan-kegiatan kampus. Baik ekstra maupun intra kampus. Cara kerja, kuliah, belanja, dakwah dan pergaulan ala aktifis semua sudah 'mendarah daging' bagiku. So, kalau ketemu dengan aktifis yang satu ini, insya Allah tidak perlu susah beradaptasi. Semoga saja ya. Teriakku dalam hati.

Pekerjaan .. Guru Tetap di SLTP Islam Terpadu Nurul Fikri Mata Pelajaran Sejarah
Ya Allah .! Aku merasakan detak jantungku berjalan lebih cepat. Keringat dingin nampaknya akan menetes di dahiku. Wajahku tak ketinggalan ikut bereaksi. Tegang. Menambah keterkejutan yang melahirkan kegelisahan baruku.
Tepat pada waktunya ! Ustad Madani menoleh sejenak ke arahku. Dengan mudahnya ia bisa menangkap kegelisahan yang tersirat dari wajahku. Masih dengan tenang. sejuk dan senyuman khasnya, ia menegurku.

" Ada yang mengganjal akhi ?"
" Eeeng… ada.. Ustad, Anu… eee.. benarkah ukhti ini salah seorang pengajar di SLTP IT Nurul Fikri, Depok ? "
Ustad Madani membenarkan letak kacamatanya. Tanda rasa penasarannya mulai tergugah.
" Ya, betul. Ukhti Rini baru dua minggu yang lalu diangkat sebagai pengajar tetap di sana. Sebelumnya, sudah tiga bulan ia mengajar sebagai guru honorer."
" Tapi, ustad …. ", aku terhenti sejenak untuk mencoba lebih tenang.
" Ada yang antum risaukan dengan status gurunya itu ?. Bukankah itu pekerjaan yang sangat mulia akhi Fajar ? ".

Sebuah pertanyaan yang wajar dan benar. Tidak ada yang salah dengan status ukhti Rini sebagai pengajar. Tapi, pengajar di SLTPIT Nurul Fikri ? Mungkinkah ia dan keluarganya akan menerima pinanganku nantinya.

Ustad Madani mulai menyelidiki lebih dalam,
" Atau Akh Fajar masih ragu untuk menikah ? Ingat akhi, usia antum lebih dari cukup lho..!"
" Eh..bukan begitu Ustad. Masalah nikah kan sudah ana azamkan setahun yang lalu. Tapi masalahnya ukhti ini…. "

Ustad Madani tampak tersenyum dan memotong dengan pelan,
" Ukhti Rini insya Allah jauh lebih siap dari antum akhi. Ana tahu persis tetang dia. So, what's the problem ?"
" Ehm.. baiklah. Permasalahannya seperti ini Ustad, mungkin antum belum tahu. Awal bulan yang lalu perusahaan tempat ana bekerja bangkrut dan memecat semua karyawannya termasuk ana…"
Ustad kembali menebak-nebak apa yang ada di benakku,
" Jadi kembali ke masalah ma'isyah dan rizki nih … "
" Bukan itu ustad, untuk pernikahan ini insya Allah ana masih ada simpanan….tapi masalahnya .."
"Iya, Masalahnya ….."
Aku menarik nafas dalam-dalam. Bicara sama ustad Madani harus jelas. Jangan sampai beliau salah tafsir.
" Masalahnya Ustad…. , sudah satu minggu ini ana diterima bekerja di SLTP Nurul Fikri . Tepatnya,…eeng… sebagai petugas kebersihan sekolah …."
Ah.. akhirnya.. keluar juga kelu dalam lisanku.
Muka ustad Madani agak berubah. Kini beliau tahu permasalahanku sebenarnya. Yaitu….keenggananku sebagai seorang tukang sapu sekolah untuk bersanding dengan salah satu dewan gurunya.

***********
Muka pria setengah baya di depanku masih datar. Hanya sesekali asap rokoknya menambah ketegangan dalam jantungku. Kolonel Soewandi namanya. Yah, akhirnya aku datang juga di rumahnya. Berbekal iman dan takwa, begitu kata ustad Madani setengah jam yang lalu. Sebelum melepasku pergi untuk sebuah mission imposible ini. Baru kali ini aku meminang, putri solo, anak perwira militer lagi ! Ya Rabb !
" Jadi, Nak Fajar lulusan Teknik Industri UI tahun kemarin ya….wah.. hebat. Ya…Terus, sekarang kerja di mana …? Perusahaan Asing atau di BUMN semacam Pertamina, Telkom, PJKA… atau malahan di Bulog ? "
Perusahaan Asing ? BUMN ? .Gubraaaak ! Seolah kepalaku tertimpa dua batu bata yang di lempar dari arah berlawanan. Yang satu tepat mengenai wajahku, sementara sisanya tepat mengenai tengkorang belakangku. Uugh !
" Ah.. tidak juga Pak. Sebelumnya saya sempat kerja di perusahaan Farmasi. Tapi sekarang saya satu kantor dengan Rini, putri Bapak .. "
" Oooo….di mana itu… SLTP Nurul Fikri ya….bagus..bagus… cinta lokasi nih ceritanya ? ".
Pak Soewandi sedikit tersenyum menggoda. Bagiku malah tambah menyeramkan. Cinta lokasi ? Memangnya saya aktor. Dan sejak kapan putrinya main film ?. Nah, Pertanyaan selanjutnya bisa di tebak …..Bismillah. Aku akan menjawabnya..meski kemungkinan terburuk aku mungkin akan di usir. Innallaha ma'ana.
" Di sekolah, nak Fajar ngajar mata pelajaran apa ?. Kalau lihat latar belakang akademis, kalau Bapak nggak salah…pasti Matematika atau Fisika ya ..? "
" Eee… tidak juga Pak. Saya belum mengajar. Saya masih ditempatkan di bagian Umum, dibawah koordinasi bidang Tata Usaha……"
" Wah .. Bapak jadi bingung. Maksud nak Fajar jadi dewan Pengawas gitu…konkritnya gimana……. ? "
" Engg…Tepatnya….saya jadi petugas kebersihan sekolah Pak ! "
" Apaaaa ? Petugas kebersihan sekolah !!!!! "
Beberapa detik berlalu dengan cepat. Diam. Tak ada suara dan gerakan sedikitpun keluar dari sosok berwibawa di hadapanku. Hanya bola matanya yang terus menatap tajam ke arahku. Mungkin ada yang janggal di wajahku.

Diam dan bisu. Seolah kami telah bersepakat sebelumnya.
Terlambat, sudah kepalang basah. Sudah terlanjur aku melangkah. Tak mungkin aku melarikan diri saat ini. Bisa-bisa, satpam rumah akan membekukku dengan bangga. Atau kemungkinan lain, bisa jadi Kolonel Soewandi sudah siap dengan pistol Bareta-nya, dan dengan mudah ia akan melumpuhkan kedua kakiku, sebagaimana sering kulihat saat liputan kriminal penangkapan bandar narkoba di televisi.
Ngawur ! Kenapa aku masih suka ngelamun di saat-saat menentukan seperti ini ? Allahu akbar. Aku berseru dalam hati memohon kekuatan.. Apapun yang terjadi setelah ini, aku siap menerima kenyataan.

***************

“ Kaaak Fajaaaaar, hayoooo ngalamun dedee ya ? Kapan kita berangkat ke sekolah nih ? “
Astagfirullah ! Suara manja Rini, istriku, membangunanku dari lamunan yang menegangkan. Sementara tangan kananku masih setia dengan dua lembar kertas sumber lamunanku, beberapa menit yang lalu. Ah, terlambat ! Ketahuan ! Dua mata indah istriku menangkap cepat ke arah dua carik kertas di tangan ku.
“ Eh, lagi baca apaan Kak ? hayooo….biodata dedee pas taaruf yaa ? Ngakuuu ? Pasti tadi lagi ngalamun aku too. .Nggak papa kok, Istrimu ini pantes kok buat bahan ngalamun…”.
“ Adaaaaaw !!! “.
Kali ini aku kalah sigap. Cubitan mesranya tepat menghujam pipi kananku. Istriku terus menggodaku manja, sementara rona merah biru kembali melanda raut mukaku. Enam bulan paska walimah, suasana bulan madu tetap abadi di rumah ini.
“ Dee… kakak mau tanya serius nih, boleh ? “
“ Serius ??? ada apa kak ? boleh nooo… aku kan istrimu… mitsaqon gholidzo…inget lo kak .. “
“ Dee.. kalo boleh tahu, Bapak pernah cerita nggak sama dedee sebab beliau nerima kakak sebagai menantunya yang petugas kebersihan sekolah ? “
“ Ooo… itu too yang dilamunin tadi…? “
“ Dan tahu nggak ? Pas kakak bilang pekerjaan kakak tukang sapu… Bapak tuh sempat diam lamaa gitu… menatap tajam wajah kakak, sebelum akhirnya menyuruh kakak datang seminggu lagi… “
“ Lha iya jelas Kak, lha wong salah satu pertimbangan Bapak nerima kakak kan wajah kakak ? “
Bola mataku melebar. Ingin rasanya saat ini menyambar sebingkai cermin di ruang tengah, sekedar untuk meyakinkan hatiku tentang kebenaran ucapan istriku barusan.
“ Lho Kok ? Maksud dedee pasti Bapak yakin yaa kalo wajah kakak bisa memperbaiki keturunan keluarga Raden Soewandi ? “
“ Yeee…. GR banget nih Kakak ! Bukan itu maksudnya….Sebelum walimah, Bapak dulu pernah cerita ke dedee… Katanya, beliau nerima kakak tuh karena pas merhatiin wajah kakak kok kayaknya persis Letnan Mahmud, komandan peleton Bapak pas operasi integrasi Timor-Timur tahun 1975… Nah ceritanya.. Letnan Mahmud tuh yang nyelamatin Bapak dari berondongan peluru saat terjadi kontak peluru dengan milisi Freetilin yang brutal ! “
Kembali dua bola mataku melebar.
“ Wah…heroik banget ya, jadi ceritanya Bapak mengira saya anak Letnan Mahmud , trus mau balas jasa gitu yaa ? “
“ Bukan, Letnan Mahmud justru meninggal tertembak peluru musuh sesaat setelah menyelamatkan Bapak…. Mungkin Bapak agak tersentuh melihat wajah kakak yang persis Letnan Mahmud, dan ingin terus mengenangnya dengan menjadikan kakak sebagai menantunya .gitchuuu…..”
“ Oooooo… alah alaaaaaah…..Trus sekarang gimana ? “
“ He..he…Sekarang ? Bapak pernah bingung lho, dan bilang sama dedee…sekarang kok suamimu jadi nggak mirip sama Letnan Mahmud yaa ? “

Hem.. Aku tersenyum dalam ketenangan. Tidak salah dan tidak ragu lagi. Ini semua pertolongan Allah. Bahkan bukan saja saat diterimanya pinanganku oleh Kolonel Soewandi. Satu bulan setelah pernikahan, pihak sekolah mengangkatku jadi tenaga pengajar. Dan Alhamdulillah, sepekan yang lalu, aku resmi jadi guru tetap bidang Fisika di SLTPIT Nurul Fikri !.

Subhanallah, Walhamdulillah wa laa ila ha illa Allah !! Aku merenung lebih jauh atas segala yang kulalui saat proses menuju gerbang pernikahan. Jika seseorang telah berazam, dan meninggalkan segala keraguan, Allah pasti akan memudahkan !

Betapa tidak ? Bagaimana mungkin aku yang berambut lurus, berhidung standar pribumi, bisa serupa dengan Letnan Mahmud yang berambut cepak, dan keturunan Pakistan ? Subhanallah !
“ Kaaaak ! berangkat sekarang yuuk, udah jam setengah tujuh loo …”
"Iyyyaaaaa…!!!"

Sejurus kemudian, Istriku sudah sigap menodongkan kunci sepeda motor tepat ke arah keningku
. Dor !
Tiba-tiba wajahku memerah kembali. Ada yang mendarat telak di pipi kananku. Kali ini bukan cubitan.
( selesai)

Tuesday, June 02, 2009

FUTSAL pagi ini




Hari yang indah, setelah sholat subuh minum sedikit untuk kebutuhan ruhiyah jam 6 tepat berangkat ke stadion UNS. Temen2 dah pada nunggu disana untuk maen bola. Luar biasa memang temen2ku, untuk urusan riyadhoh selasa pagi ini memang bener2 tepat waktu, biasanya rapat saja pada ijin telat banyak alasan :D
Dengan komposisi 7 vs 7 ternyata agak kurang seimbang, padahal dikubu lawan ada akh septo & akh joko margono, akh yitno juga disana.... Tapi ternyata tim kita mendatangakan 3 pemain import, 2 dari teknik dan 1 dari FKIP. Eh disana juga ada satu pemain transfer ada akh Ikhsan Cinta-di, he...he..he.. pemain yang nilai diving 9 tapi nilai tekniknya 6 dah bagus lah :D
Sampai akhirnya jam 7, sang "kaka" harus turun lapangan setelah mencetak satu gol dan 2 asis.
Masalahnya jam 7.30 dah harus ganti profesi, paginya atlet siangan dikit harus magang di pabrik roti :(
tapi "no problemo" insyaAllah thats road to success....

Thursday, May 28, 2009

SELAMAT JALAN KAWAN.... LANJUTKAN PERJUANGAN....




Satu tahun amanah di JN UKMI UNS mendampingi ketua Umum (akh Arif), akhirnya tanpa terasa sudah berakhir. Banyak kenangan yang akan tidak mudah terlupakan. Pertama kali pelantikan dengan TIM PHT awal ada akh Adi Wardhana (Allahuyarham) sekarang tinggal sebuah senyum di album kenangan dan semoga saat ini beliau juga sedang tersenyum insyaAllah diantara mujahid-mujahid yang telah gugur dijalan perjuangan.

Perjalanan selama satu tahun, syuro-syuro mabit, syuro-syuro ba'da shubuh, keseriusan yang terkadang reda dengan sedikit canda, perjalanan ke SALAM UI, Up Grading bersama pengurus, Rapat Pimpinan di salah seorang rumah PHT, sampai MUSUM XX yang mengakhiri amanah periode 2008/2009..... semuanya akan menjadi sebuah bingkai album kenangan yang melekat dalam ingatan, memberikan semangat untuk terus berjuang karena sesungguhnya kita tidak sendirian.

Meskipun Allah telah menentukan jalan kita masing-masing, walaupun mungkin kita tidak lagi bersama-sama dalam satu medan perjuangan tapi semoga do'a-do'a kita akan selalu memberikan kekuatan kepada saudara-saudara kita, dan semoga Allah mengijinkan kita untuk bertemu kembali di sebuah tempat paling indah yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya bersama para pejuang-pejuang da'wah lainya........ Jannah-NYA...

Monday, May 25, 2009

Pacaran ala SMS...

Tulisan ini saya dapatkan sekitar 3 tahun yang lalu ketika masih awal berinteraksi dengan aktivitas dakwah. Walaupun sudah tulisan lama tapi sepertinya masih relevan dengan kondisi sekarang,semoga bisa memberi manfaat buat kita semua.

======================================>>

"ass. ukh, bngun, ambl air wdlu y. met shlt lail ukh. wss
met shlt dhuha ukh…
met shoum ukh.. taqabbllh.."

sekarang ni ada-ada aja yach…
kemajuan zaman yang semakin nggak bisa dimengerti. semakin banyak maksiat terselubung rapi dibalik kata “dakwah”.
dalam hal peningkatan kualitas diri antar sesama ikhwah kadang kala ditemukan dilema dalam hal hubungan non mahram. dilingkungan sich emang nggak pernah ketahuan jalan bareng antar non mahram, baik yang ikhwan maupun yang akhwat. tapi, dibalik jenggot dan tertutupnya jilbab lebar mereka, kadang juga terselip hal yang sebenarnya nggak disyariatkan dalam hal menjalin hubungan sesama ikhwah non mahram. berdalih tausyah atau sekedar sms pengganti “weker”, yang maksudnya cuma buat ngingetin biar bangun sholat malem, ato biar nggak lupa sholat dhuha. hehehehe….
hayo…., siapa yang pernah?
ehm, kalo difikir lagi bisa bikin ibadah yang dilakukan menjadi riya’ bukan lillah lagi.
nah lho…
ukhti yang tadinya lier2 masih ngantuk, berhubung yang bangunin seorang akhi, wa….
serasa habis disiram air…
kantuk langsung hilang and pasti langsung menuju kamar mandi, wudhu….!
bagus sich….
tapi yo nggak bagus… ( ??? )
nggak bagusnya yah, hati yang semula putih, terpercik oleh sms “weker“ jadi kotor dech…
jadi terkena virus… , kalo virus flu sich biasa. gampang nyari obatnya. ato kalo virus myheart di kompie sich bisa di scan dengan anti virus…
lha ini, virus merah jambu… alias pacaran..
ngobatinnya susah…
dalam dunia dakwah, sebenarnya kan nggak ada tuh, kamus pacaran? Walaupun pacaran islamy lho….

Emang sih, menjaga hati sulit banget. Malah ada lho, kaum jilbaber yang ternyata masih doyan ngenet. Chatting bo.., sama ikhwan… wah wah….
Tu,… kan….
Hape….hape….
Mending kamu nggak usah ada aja dech….

kembali ingin mencari...

Setelah sekian lama tidak pernah menyentuh BLOG ini, pengen malam ini aku mulai untuk menulis menuangkan harapan, kenangann & perasaan yang terkadang kuat memaksa untuk disampaikan.
Semoga Allah berkehendak memberikan kejernihan hati dan fikiran sehingga setiap tulisan dapat memberi kemanfaatan.
Semoga inilah jawaban dari lamanya pencarian untuk menemukan sesuatu yang hilang..