Followers

Sunday, October 17, 2010

DISKUSI : ERA BARU DAKWAH KAMPUS

Kawan, mari kita berfikir besar. Karena aktivis dakwah teralu besar untuk berfikir hal-hal yang kecil, remeh temeh. Di sekeliling kita sering terdengar berbagai masalah. Yang paling menjamur adalah masalah klasik tetapi dengan modus, taktik, dan intrik yang semakin menarik. Kita semua pasti faham, “koneksi dua medan megnet yang berlawanan”, hubungan antara akhwat dengan ikhwan yang sering diperindah dengan hiasan-hiasan setan. Mari kita lupakan semua itu, biarlah yang ingin mencoba tergilas oleh zaman. Sekarang zaman orang-orang besar, para aktivis dakwah, berfikir hal-hal yang besar. Ide-ide dakwah yang besar untuk negara kita yang besar.

Kita berharap dari diskusi-diskusi akan mengasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk dakwah, terutama dakwah kampus. Dan kita yakin perkembangan dakwah kampus akan berimplikasi positif terhadap perbaikan dan pembangunan bangsa Indonesia tercinta.

Tema-tema tentang pembaharuan dakwah kampus pasti sudah banyak diantara kita yang sudah membaca. Arya Sandiyudha, mantan pentolan dakwah di UI, sudah mengulas panjang lebar dalam bukunya “Renovasi Dakwah Kampus”. Seorang mantan penggedhe di UGM, saya lupa namanya, juga telah membahas hal yang sama di bukunya “Paradigma Baru Dakwah Kampus”. Satu dari serial 100 Buku Pengokohan Tarbiyah berjudul “Menuju Kemenangan Dakwah Kampus” juga sangat kontributif guna merefresh kita tentang pengelolaan dakwah kampus.

Tetapi meskipun tema-tema ini sudah banyak dibahas di buku-buku, ada kekhwatiran wacana-wacana pembaharuan dakwah kampus hanya akan menjadi wacana langitan dan hanya akan tersimpan rapat di dalam benak para pembaca. Kita merasa perlu untuk menjadikan semua tadi bahasan “diskusi-diskusi rakyat di warung kopi” supaya lebih membumi.

Kita berharap siapapun yang membaca tulisan ini berkenan untuk memberikan komentar, menyampaikan ide, menumpahkan keresahan, juga meluapkan wacana-wacana ide untuk perubahan dan perbaikan dakwah kampus. Siapapun, baik kita yang masih bergelut dengan aktivitas dakwah kampus maupun veteran dakwah kampus, yang aktiv di Lambaga Dakwah Kampus maupun yang aktiv di lembaga dakwah akademis, pengamat dakwah kampus, bahkan intelegen dakwah kampus sekalipun. Siapapun yang memiliki harapan besar untuk memperbaiki kondisi bangsa dimulai dengan pembangunan moral dan intelektual para generasi muda.

Wacana pertama yang akan coba kita diskusikan adalah ”Mengkapitalisasi (red-memanfaatkan) Iklim Akademis yang kuat untuk optimalisasi proses kaderisasi serta Mengkapitalisasi Kompetensi mahasiswa untuk memberi kontribusi terhadap Mihwar Dauli”.

Bagi kita yang selalu mengikuti perkembangan dakwah, tentunya faham sudah sampai di mana tahapan dakwah saat ini. Terjawablah salah satu dari tujuan dakwah kampus yang seringkali kita pelajari. Saat dimana iron stock hasil dari produksi dakwah kampus, yaitu orang-orang intelektual yang tercerahkan secara moral dan memiliki pandangan hidup yang lurus, memberikan kontribusi besar dalam rangka pembangunan bangsa dan perbaikan pengelolaan negara untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Satu hal yang ironis adalah saat dimana kepercayaan masyarakat sudah sedemikian besarnya kepada para aktivis dakwah untuk mengelola negara, tetapi hal itu tidak diimbangi dengan kuantitas dan kualitas yang memadai dari para aktivis dakwah untuk pengelolaan negara secara menyeluruh. Karena apabila perbaikan hanya dilakukan secara parsial maka tidak akan berdampak signifikan terhadap perbaikan pengelolaan negara. Yang terjadi kemudian adalah kekecewaan masyarakat. Dan apabila itu sudah terjadi maka cukup sulit untuk mendapatkan kepercayaan kembali karena masyarakat saat ini sepertinya telah berfikir praktis dan pragmatis, “sama saja, kami tidak merasakan perubahan”.

Lantas apa yang perlu dilakukan para aktivis dakwah kampus? Itulah pertanyaan yang seharusnya kita jawab bersama-sama. Mempersiapkan sebanyak-banyaknya aktivis dakwah berprestasi yang kompeten di bidangnya serta memiliki integritas moral dan dasar pemahaman tentang cara pandang terhadap jalan hidup yang benar.

Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah bagaimana itu akan terwujud apabila realita di lapangan justru berkebalikan. Banyak mahasiswa berprestasi yang tidak begitu tertarik untuk terlibat dalam aktivitas dakwah kampus, tetapi sebaliknya banyak aktivis dakwah kampus (afwan) yang tidak begitu berprestasi di bidang akademik bahkan untuk segera lulus saja terkendala sekian banyak masalah yang kadang-kadang justru dakwah dijadikan kambing hitam.

Setelah berdiskusi dan mencari informasi dengan teman-teman yang masih aktif di kampus. Ternyata perekrutan tahun ini tidak terlalu ada peningkatan yang signifikan di bandingkan tahun-tahun sebelumnya, bahkan cenderung stagnan. Barangkali itu terjadi karena memang tidak ada inovasi yang berarti dalam proses perekrutan. Lantas bagaimana? Mari kembali pada wacana yang telah disampaikan diatas, “mengkapitalisasi iklim akademis yang kuat untuk optimalisasi proses kaderisasi”.

Kalau kita perhatikan, saat ini hanya beberapa Lembaga Dakwah Kampus saja yang mungkin sudah bisa mengkapitalisasi iklim akademia tersebut. Seringkali kita justru ketinggalan dan kalah branding dengan lembaga yang lain. Dengan diskusi ini kita berharap bisa saling bertukar pikiran dan pengalaman tentang teknis pelaksanaan hal ini. Saat ini LDK belum banyak atau bahkan mungkin belum ada yang memasukkan materi semisal “kiat-kiat berprestasi di kampus” serta mendesian agenda kaderisasi dengan kegiatan training menjadi mahasiswa berprestasi. Bukan berarti LDK meninggalkan materi-materi pembetukan kepribadian muslim yang baik tetapi bagaimana LDK mampu memadukan dua hal tersebut. Materi pembentukan kepribadian dipadukan dengan materi training menjadi mahasiswa berprestasi. Bukankan berprestasi juga merupakan ciri kepribadian muslim yang baik.

Akan muncul pertanyaan dan pernyaatan yang baru lagi. Bukankah hal seperti itu sudah dikelola melalui lembaga dakwah akademis? Itulah justru permasalahan yang terjadi. Dengan pengelolaan yang seperti itu justru menimbulkan pemahaman yang kadang keliru di antara para aktivis dakwah, apalagi yang belum memahami substansi dakwah kampus yang sebenarnya. Masih banyak yang mendikotomikan antara aktivitas dakwah dengan akademis. Seringkali muncul statement: ”Saya tidak pantas di lembaga dakwah akademis karena prestasi akademis saya tidak terlalu bagus”. Di kalangan mahasiswa baru pun akan mucul pemahaman yang keliru : ”Saya aktif di lembaga akademis saja, tidak perlu ikut LDK, karena saya ingin menjadi mahasiswa berprestasi.” Seolah-olah tidak semua aktivis dakwah memiliki hak untuk berpretasi di bidang akademis. Dan seolah-olah LDK bukan tempat para mahasiswa berprestasi dan bukan wadah bagi para mahasiswa yang ingin berprestasi.

Bukankah akan lebih efektif dan efisien ketika kerja dua ranah tersebut diwadahi dalam satu lambaga, yaitu Lembaga Dakwah Kampus. LDK yang memperhatikan pembentukan kepribadian muslim yang baik serta memperhatikan penunjangan prestasi akademis para anggotanya dan mahasiswa pada umumnya. Dalam hal pemberdayaan SDM, hal tersebut akan lebih efisien. Dengan itu tidak akan terlalu banyak lembaga yang membutuhkan aktivis dakwah untuk mengelola, karena sampai saat ini permasalahan klasik tarik ulur kader masih menjadi perdebatan yang hangat. Selain itu, perpaduan ini juga diharapkan memberikan citra positif bagi lembaga dakwah kampus dan ativis dakwah kampus. Dan tidak sekedar citra saja tapi juga realita bahwa para aktivis dakwah kampus adalah mahasiswa berprestasi yang kompeten di bidangnya serta memiliki integritas moral dan dasar pemahaman tentang cara pandang terhadap jalan hidup yang benar.

Sementara itu dulu ulasan tentang satu wacana perbaikan dakwah kampus. Di antara kita pasti masih banyak yang memiliki ide, konsep dan pendapat yang lain yang lebih hebat dari yang sudah diutarakan diatas. MARI BERDISKUSI...

[ markas, 17 Oktober 2010 ]

Tuesday, October 05, 2010

SALAH FAHAM ATAU TAK MAU FAHAM?

Merasakan atau tidak kawan, hubungan kita dengan orang-orang terdekat kita terkadang aneh. Aneh atau lucu, silakan pilih sendiri kata yang tepatt. Hubungan kita dengan sahabat kita, teman kos, temen ngaji, partner, keluarga, suami, istri, dan lain sebagainya. Kadang kala pagi hari baik-baik saja, tapi sorenya sudah tidak saling sapa. Hari ini ingin selalu berdekatan dengannya tapi esok hari rasanya tak sudi untuk berjumpa.

Banyak faktor yang menyebabkannya. Menurut analisa sederhana saja:

1. Boleh jadi karena salah satunya punya dua muka.

Ketika bersama suka memuji memuja tapi ketika jauh membuka aib saudara. Kalau ketahuan bisa jadi bencana kawan. Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya pasti segera perang dingin bahkan perang terbuka.

2. Boleh jadi karena kondisi kantong kita.

Yang kedua ini pasti ada yang kurang percaya. Coba rasakan sendiri saja. Kata beberapa orang suasana kantong mempengaruhi suasana hati. Kecuali yang kantongnya selalu penuh berisi.

3. Boleh jadi karena cara pandang yang berbeda.

Setiap orang yang tak join kepala, dan memang tak mungkin satu kepala buat bersama kecuali kembar siam, pasti memiliki cara pandang yang berbeda-beda. Meski dua orang kembar sekalipun, saya yakin tidak selalu punya pendapat dan cara berfikir yang sama.

Ada sebuah kisah unik kawan:

Joko dan Budi sama-sama pasien rumah sakit jiwa. Suatu hari ketika mereka sedang jalan bersama di pinggir kolam renang, tiba-tiba Budi melompat ke bagian kolam yang dalam dan tenggelam ke dasar kolam. Tanpa memikirkan keselamatan dirinya, Joko segera menyusul terjun dan menarik Budi ke permukaan. Dia menyelamatkan Budi ke pinggir kolam.

Besoknya adalah hari penilaian tahunan untuk Joko. Dia dibawa ke hadapan dewan pengurus rumah sakit dan sang pimpinan berkata kepadanya,

”Saudara Joko, kami punya berita baik dan berita buruk buatmu. Berita baiknya bahwa mengingat tindakan heroikmu kemarin, kami menganggap kau waras dan kau bisa keluar dari rumah sakit ini untuk kembali ke masyarakat. Berita buruknya adalah, kasihan sekali si Budi, pasien yang kau selamatkan, tidak lama kemudian gantung diri di kamar mandi dengan ikat pinggangnya. Maafkan kami, dia meninggal.”

”Dia tidak gantung diri”, tukas Joko, ”Saya yang menggantungnya disana supaya kering.”

Cukup tersenyum saja kawan, lanjutkan membacanya.

Sulit memang untuk menerima apa yang dilakukan Joko. Tapi akankah anda menyalahkannya? Joko punya cara berfikir sendiri dan anda punya cara berfikir sendiri. Sulit untuk meminta Joko berfikir seperti kita.

4. Boleh jadi karena salah tanda baca.

Yang keempat ini cukup unik kawan. Kemajuan teknologi-lah yang ikut andil didalamnya. Anda yang sedang baca pasti tak ada yang tak punya HP, benar kan? Dan saya yakin 100% pernah kirim sms semua. Teknologi canggih 3 huruf inilah biang keladinya. SMS. Permasalahan muncul ketika sang pengirim kurang seksama menulis karena tergesa-gesa. Atau menulis pakai tangan kiri, karena tangan kanan masih memegang kendali sepeda motornya. Kadang juga menulis sms menggunakan mata hati, pandangan fokus kedepan kelas seolah-olah memperhatikan dosen bicara tapi jari-jari menari membuat kata-kata di bawah meja. Tambah masalah lagi kalau yang menerima kurang jeli membacanya.

Menarik sebenarnya untuk diskusi masalah ini tapi rasanya kran kata sudah tidak mau mengalir lagi. Cukuplah saya sampaikan sebuah kisah, setelah hari ini semoga kita lebih berhati-hati. Berhati-hati menulis sms untuk saudara kita dan berhati-hati membaca sms yang kita terima. Tulislah dengan tanda baca yang tepat dan bacalah dengan intonasi yang tepat.

Seorang dosen bahasa inggris menulis kata-kata berikut di papan tulis:

Woman without her man is nothing.

Kemudan dia meminta para mahasiswa untuk memberikan tanda baca yang tepat.

Para mahasiswa menulis, “Woman, without her man, is nothing.” [Wanita, tanpa pria (pendamping)-nya, tak berarti.]

Para mahasiswi menuilis, “Woman! without her, man is nothing.” [Wanita! tanpa dia, pria tak berarti.]

Apapun sebabnya, kesalahfahaman sering terjadi diantara kita. Pertanyaannya apakah kita mau faham atau tidak dengan kesalahfahaman yang terjadi?



Friday, October 01, 2010

Tunjukkan Kesaktianmu PANCASILA...

[Jum'at, 1 Oktober 2010 - Hari Kesaktian Pancasila]

Sedang menangiskah kau sekarang sang Garuda?

Melihat bangsa tak seperti Pancasila yang kau tempelkan kuat didada

Alangkah mengerikan sekali bangsamu, bangsaku, bangsa kita ini

Konflik antar agama yang katamu BerKetuhanan Yang Esa

Berita pembunuhan, penyiksaan, penculikan, perampokan yang katamu para manusia yang adil dan beradab

Perang antar suku yang katamu bersatu di Indonesia

Suara rakyat tertindas dan terbungkam yang katamu dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

Kesenjangan sosial dirasakan sebagian besar rakyat yang katamu keadilan untuk semua


Tunjukkanlah kesaktianmu Pancasila

Terbanglah tinggi bersama sang garuda

Menembus langit dan menengadah di surga

Sampaikan pada Tuhan Yang Esa

Supaya Dia menyudahi prahara

Memberikan yang terbaik buat bangsa Indonesia kita tercinta

Monday, September 27, 2010

Istriku Sayang

[[Senin pagi-siang, 27 September 2010 @ ruang perenungan]]

[  Kisah ini hanyalah fiksi tapi terinspirasi dari kisah asli. Kalau ada kesamaan nama tokoh, nama tempat, karakter, warna celana, motif baju, merk motor, model HP, dan lain sebagainya mungkin saja di sengaja mungkin saja tidak sengaja. Harap maklum ]
=========================================


Malam itu tak seperti malam-malam biasanya. Perasaan kedua orang itu gembira setengah mati. Aneh sungguh aneh, padahal malam itu alam sedang tidak bersahabat. Hujan turun seperti air terjun tak terbendung, bertepuk dengan atap rumah mereka yang sebagiannya dari seng terdengar bagai berondongan AK-47 milik densus 88 saat menggerebek orang-orang yang kata penyiar berita adalah gerombolan teroris. Ditambah suara gemuruh halilintar sekali dua kali dan berkali-kali menambah suasana desa yang berada ditengah hutan itu semakin terasa mencekam seperti menonton film perang dunia kedua. Suara jangkrik, burung malam, dan serangga-serangga hutan yang menenteramkan kali ini tak terdengar tapi suasana hati Parjo dan Sri lebih dari sekedar tenteram. Ternyata sepasang suami-istri itu baru pulang dari kota tadi siang, memeriksakan kandungan ke bu Dokter seperti saran bu RT beberapa hari yang lalu.

“Kang, semoga benar ya apa yang dikatakan bu dokter tadi siang”

“Harusnya bener lah Sray”, jawab Parjo kepada istrinya. Sray adalah panggilan sayang Parjo kepada Sri, istirnya. Dia hanya ikut-ikutan orang-orang di TV memanggil kekasihnya dengan Say. Tapi nama istrinya adalah Sri, dia sengaja menambahkan huruf ‘r’ ditengah-tengah supaya lebih beda dan terasa lebih unik baginya.

“Bu dokter kan sudah sekolah bertahun-tahun, apalagi dia punya alat yang di tempel-tempelkan di perutmu tadi. Canggihnya itu alat, bayi kita yang masih didalam perutmu saja sampai Bu dokter bisa tahu”, Parjo semakin meyakinkan istrinya.

“Kalau bener anak kita nanti laki-laki, bapak sama bue pasti seneng banget ya Kang”, Sri tersenyum lebar tampak gembira dengan berita dari bu Dokter tadi siang. Meskipun tulang punggungnya serasa mau copot berjam-jam di bonceng motor suaminya. Pagi-pagi sekali berangkat ke kota dan petang baru sampai lagi di desa mereka tercinta. Lewat jalan panjang tengah hutan, kadang hanya batu dan pasir yang di tata seadanya. Kadang lewat jalan seperti kubangan kerbau yang licin tiada duanya. Kalau malam gelap gulita. Jangankan lampu penerangan jalan, bulan saja tidak setiap malam mau membagi cahayanya. Itulah jalan satu-satunya akses ke desa mereka.

****
Setelah sembilan malam berlalu. Malam ini tak seperti malam sepuruh hari yang lalu. Adzan isya’ baru saja selelesi dikumandangkan, tapi serangga-serangga hutan sudah bersahut-sahutan. Burung-burung malam pun tak mau ketinggalan. Mereka memang tak seperti Beo, Bentet, atau Nuri yang dipelihara di perkotaan. Mereka memang tak bisa menirukan suara kendaraan atau menyebut nama majikan. Suara mereka hanya ‘cuit… cit…cuit…' tapi benar-benar menebarkan kedamaian. Kedamaian mereka, kedamaian alam mereka yang masih tenang, dan kedamaian sahabat-sahabat mereka para penduduk desa di tengah hutan.

“Kamu kenapa Sray?”, tanya Parjo kepada istrinya yang nampak aneh tak seperti biasanya.

“perutku tiba-tiba sakit Kang.”
“Apa anak kita nakal lagi?”

“rasanya tidak seperti biasanya Kang. Kali ini rasanya lebih sakit dan berat sekali.”

Parjo terlihat menghitung-hitung jarinya, kemudian bola matanya berputar ke atas sebentar sambil mulutnya komat-kamit. Sesaat kemudian berkata kepada istrinya,

“kalau sesuai dengan yang di katakan bu Dokter, harusnya kan masih sepuluh hari lagi dari sekarang”. Ternyata Parjo barusan sedang menghitung hari tapi tak seperti Krisdayanti.

Sri meminta suaminya untuk mengantarnya ke kamar. Kemudian Sri minta di bantu berbaring di dipan kayu sederhana yang setiap malam mereka tidur dengan nyaman disana. Dia harap ini hanya sakit biasa karena tendangan bayinya seperti kemarin-kemarin, semakin yakin karena hasil hitungan suaminya tadi. Menurut perkiraan dari bu dokter, kalaupun maju atau mundur paling sekitar seminggu atau tujuh hari. Kang Parjo tadi kan bilang masih sepuluh hari lagi dari perkiraan dokter. Harusnya belum hari ini, terlalu cepat pikirnya.
Setelah beberapa saat berbaring, bukannya semakin nyaman malah rasa sakit si Sri semakin menjadi. Mulutnya mulai merintih-rintih kesakitan. Parjo yang menunggu disampingnya terlihat semakin panik dan gelisah. Dia bingung harus melakukan apa karena itu pengalaman pertamanya akan punya anak. Tiba-tiba dia berlari keluar rumah. Dalam waktu yang tidak lama Parjo sudah tiba lagi di samping istrinya dengan bu RT dan beberapa tetangga.

“Kalau seperti ini berarti sudah saatnya Jo. Kenapa belum juga kau bawa istrimu mondok di PUSKESMAS seperti saranku kemarin. Cepat sana kau telpon Bidan kecamatan untuk datang kesini. Nggak mungkin kalau istrimu yang dibawa ke kecamatan dengan kondisi begini apalagi jalan jelek kesana bisa membahayakan istrimu dan bayinya”, perintah bu RT kepada Parjo dengan perasaan jengkel bercampur kasihan juga gelisah.

“Tapi saya tak punya HP bu”, jawab Parjo semakin bingung dan panik.

“Waduh… ya pinjam Pak RT segera sana. Pak RT juga punya nomer telpon PUSKESMAS.”

Tanpa pikir panjang Parjo segera lari secepat atlit lari nasional. Beberapa menit kemudian dia sudah sampai di rumah lagi.

“Gawat bu RT, setelah saya telpon bu Bidannya tidak mau datang kesini. Katanya mobil dinas PUSKESMAS sedang keluar dan dia tidak sanggup kalau kesini naik motor malam-malam. Dia minta istri saya yang dibawa ke PUSKESMAS”, ucap Parjo kepada bu RT dengan nafas tersengal-sengal. Dia lihat kondisi istrinya semakin menyayat hatinya. Tak tega dia melihat istrinya si Sray tercinta merintih kesakitan.

“Dasar bidan muda, tak seperti para pendahulunya. Kalau ketemu biar saya damprat dia. Kalau begitu segera kau jemput mbah Jinem, dia dukun yang biasa membantu persalinan di desa Wonorejo. Semoga saja dia masih bisa membantu istrimu.”, perintah bu RT ke Parjo dengan nada semakin tinggi karena kesal dengan sikap sang Bidan.

Karena jalan yang tidak bersahabat, Parjo baru sampai di rumah mbah Jinem satu jam kemudian. Dia agak ragu melihat mbah Jinem yang sudah sangat berumur. Bicaranya sudah tidak jelas karena gigi hanya beberapa saja tersisa. Tapi mbah Jinemlah harapannya satu-satunya. Sesegera mungkin dia memboncengkan mbah Jinem menuju rumahnya. Lagi-lagi karena jalan, ditambah memboncengkan seorang yang sudah tua, Parjo sampai dirumahnya sedikit lebih lama. Tepat tiga jam setelah sholat isya’ tadi, tepat tiga jam setelah mulai merasakan sakit diperutnya, si Sri baru tersentuh bantuan dari Mbah Jinem.

Satu jam di pandu oleh mbah Jinem, sang bayi tak juga segera kelihatan. Tak tahu kenapa, apakah karena instruksi mbah Jinem kurang jelas di dengar oleh Sri. Sehingga kalimat yang seharusnya “tarik nafas dalam-dalam”, kedengaran seperti “tai ampas ayam-ayam”. Atau mungkin karena tenaga Sri sudah habis karena bantuan datang terlalu lama. Wajah Sri semakin pucat, sekujur tubuhnya basah dipenuhi keringat. Nafasnya tinggal sisa-sisa, tak seperti sebelumnya. Mbah Jinem pun tak bisa berbuat banyak karena peralatannya hanya seadanya. Suara yang diucapkannya pun juga seadanya. Tak lama kemudian, pukul 23.40, nafas Sri sudah tak tersisa. Suaranya, detak nadinya, detak jantungnya, satu persatu mulai pergi entah kemana. Sri telah tiada. Karena peralatan seadanya, sang bayi pun tak bisa diselamatkan dan menyusul ibunya. Sang bayi juga telah tiada sebelum tiba di dunia.

Parjo tak mampu menahan sesak dalam dadanya, di sudut kamar dia terisak lama. Bahagia beberapa hari yang lalu seketika berubah menjadi derita luar biasa yang tak tahu apa sebab semuanya.
Mungkin salah bu Dokter meramal HPL, tak sehebat sang gurita meramal Spanyol lawan Belanda.
Mungkin salah pemerintah yang tak peduli rakyat jelata. Tak mau memperbaiki jalan desanya, sehingga pergi ke pusat kecamatan yang seharusnya bisa di tempuh setengah jam menjadi lebih dari dua jam perjalanan yang mengerikan.
Mungkin salah pemerintah lagi tak mau membangun PUSKESMAS cabang pembantu di desanya.
Mungkin salah para anggota dewan yang tak bisa memperjuangkan pendidikan gratis, sehingga dia hanya bekerja sebagai buruh tani, penghasilan seadanya dan tak mampu menginapkan istrinya di PUSKESMAS jauh-jauh hari sebelumnya. Anggota dewan hanya pusing memikirkan megaproyek pembangunan gedung DPR di Jakarta sana.
Mungkin salah panitia penerimaan CPNS yang tak pecus menyeleksi bidan dan pegawai pemerintah lainnnya. Atau mungkin salah sang bidan muda yang manja tak mau ke desa menolong persalinan istrinya.
Tapi yang jelas, yang terjadi adalah takdir Tuhan supaya semuanya mau mengambil pelajaran berharga

Thursday, September 23, 2010

MASIH INGATKAH KAWAN MAINAN TEMPO DOELOE??

[ Rabu, 22 September 2010 @ kamar rumah, diatas ari-ari di tanam.]

(Terinspirasi dari film pendek berjudul “Hong” garapan sineas muda yang aku tak sempat tahu namanya. Film tersebut menjadi salah satu finalis dalam Eagle Award. “Hong” dalam film tersebut adalah permainan rakyat di masyarakat Sunda yang sering lebih dikenal dengan “Petak Umpet”. Film inspiratif ini bercerita tentang upaya masyarakat Sunda dalam melestarikan bermacam-macam permaianan rakyat yang saat ini mungkin sudah mulai dilupakan oleh kebanyakan orang. Padahal dalam berbagai permainan rakyat itu sebenarnya mengandung bermacam nilai-nilai pendidikan.)

Kawan, masih ingatkah kalian tentang permainan “SUDAMANDA”? Ada juga yang menyebut “ENGKLEK”. Jangan-jangan kalian malah baru mendengar kali ini. Kalau itu tak tahu, coba yang ini : “MEMBELA”? kalian pasti tambah mengerutkan kening mendengarnya? Kalau ditempat kalian mungkin lebih dikenal dengan “petak umpet”. Kalau di kampungku, temen-temenku waktu kecil dulu lebih seneng menyebutnya “membela”. Kalau petak umpet saja belum pernah main, mungkin kalian terlalu kebablasan jaman kawan. Atau boleh lah kalau kalian menganggapku yang terlalu kampungan. Ada juga dulu di kampungku permaianan “BENTENGAN”, belum pernah denger juga kan? Kalau lagi main ini, kejar-kejaran bisa sampai kampung tetangga buat nangkap musuh.

Bagi kalian yang masih belum berhasil menemukan kosakata-kosakata tadi dalam memory masa kanak-kanak, mari saya ajak mencari permainan yang lain. Yah ini dia, “CUBLAK-CUBLAK SUENG”. Lucu kan nama permainannya? lagunya mungkin diantara kalian ada yang masih ingat. Ada lagi nih permainan yang lain, kalau ditempatku dulu sering disebut “UDING”. Makanan apa lagi itu??? Itu lho yang pakai tali terus dilompati. Kalau ditempatku dulu temen-temen seneng merangkai karet gelang sampai panjang untuk dipakai mainan UDING. Kampungan sekali bukan?

Baiklah kalau semua itu terlalu kampungan, coba saya cari yang agak sedikit tidak kampungan. Kalian pernah main “GOBAG SODOR” kawan? Nah tu, mulai senyum dikit kan. Harusnya ada diantara kalian yang pernah main. Atau yang satu ini : “ULAR-ULARAN”. Itu lho yang mainnya baris, yang belakang megang bahu depannya terus paling depan jadi kepala ular berusaha menyentuh ekor paling ujung dari musuh. Kalau biasanya yang terakhir ini di outbond masih sering dipakai.

Kalau dari semua tadi kalian tak ada yang kenal satupun, menurut saya ada dua kemungkinan. Pertama, kalian anak kecil yang belum hidup di awal era 90-an. Atau yang kedua, kalian hidup di kota metropolitan, tinggal di perumahan yang sejak lahir hanya melihat gedung dan rumah berjejalan, mungkin saja juga tidak kenal tetangga kiri kanan.

Terakhir saya mau minta tolong nih sama kawan-kawan. Kalau diantara kalian ada yang sempat melihat permainan kayak gitu, tolong donk di rekam. Saya pengen buat semacam dokumenter. Kalau anak-anak sekarang tidak mau lagi mainan kayak gitu, yah paling tidak mereka tau lah kayak gimana permainan anak-anak tempo doeloe. Maturnuwun…

Thursday, September 02, 2010

SELAMAT WISUDA...

Selamat kapada saudara-saudara semua yang hari ini wisuda
Barangkalai bagi Anda memang hal ini biasa
Sayapun pernah merasa, nyaris tak ada suatu yang istimewa
Tapi, akan menjadi beda bagi orang-orang terdekat Anda
Moment ini menjadi sebentuk kado berisi kebanggaan bagi mereka
Merasa bahagia telah memberi secuil kontribusi mereka
menuju jalan kesuksesan Anda....

SELAMAT KAWAN, SEMOGA MENJADI AWAL KESUKSESAN ANDA

Monday, August 23, 2010

Ikhwan Mencari Cinta (part 3) - cerpen

“Sudah siap Mad?”, tanya ibu sambil memperhatikanku yang sedang sibuk merapikan baju dan menyisir rambut di depan cermin.

“InsyaAllah…, ibu yakin sudah siap menerima Laila menjadi menantu ibu?”, aku balik tanya ke ibu.

“Kalau Laila benar seperti yang kamu ceritakan, ibu akan sangat senang punya menantu seperti dia. Perangainya baik dan halus, faham agama, kulitnya juga putih bersih, meskipun kalau ibu lihat di fotonya tidak secantik Dina putrinya bu Joko yang pernah ibu ceritakan padamu dulu.”

“Kecantikan wajah tidak akan bertahan lama ibu, yang penting kan cantik hatinya. Dina memang cantik, tapi saya sering melihat dia diboncengkan dengan temennya laki-laki. Apa ibu rela kalau punya menantu yang sering di boncengkan sama laki-laki yang bukan mahramnya?” Aku mencoba meyakinkan ibu.

“Kamu kok sepertinya yakin sekali dengan Laila, padahal kamu juga baru saja kenal. Katanya kamu masih khawatir ditolak lagi seperti kemarin waktu kamu dikenalkan dengan Rita”, ibu sempat menyinggung peristiwa sebulan yang lalu. Memang saat itu aku belum sampai melamar Rita. Biodata dan cerita tentangku saja yang sampai ke orangtuanya. Tapi aku sempat minder dan berfikir untuk tidak merencanakan menikah kecuali kalau aku sudah lulus. Untungnya beberapa hari setelah itu, ustadz Sholihin secara rutin memberikan tausyah kepadaku. Kemudian dua pekan setelah kejadian itu, aku diberikan biodata akhwat yang lain oleh ustadz Sholihin. Laila inilah orangnya, yang sebentar lagi aku akan pergi bersama ustadz Sholihin untuk menyampaikan lamaran pada orang tuanya.

“Ahmad kan sudah proses ta’aruf tiga kali bu, selama proses itu kami saling bertanya dan mengenal satu sama lain. Di luar itu Ahmad juga sudah minta mencarikan informasi lewat ustadz Sholihin. Kata ustadz Sholihin, setiap orang yang mengenal Laila mengatakan bahwa dia itu muslimah yang baik. Kalau masalah diterima tidaknya lamaranku, aku sudah berkali-kali diberikan pencerahan oleh ustadz Sholihin. Kita serahkan saja semuanya kepada Allah Yang Maha Kuasa”

“Baiklah kalau begitu, sekarang ini sudah jam setengah empat. Katanya kamu janjian sama ustadz Sholihin jam empat mau berangkat dari rumah beliau.”

“Iya bu, Ahmad pamit dulu ya. Mohon do’anya, semoga orang tua Laila berkenan menerima lamaran Ahmad. Assalamu’alaykum…” aku pamit sambil mencium tangan ibu.

“Wa’alaykumsalam.. hati-hati di jalan ya…”

Ikhwan Mencari Cinta (part 2) - cerpen

Tepat dua pekan sejak aku menerima biodata Rita dari ustadz Sholihin. Sudah berkali-kali aku melakukan sholat istihkoroh untuk minta petunjuk kepada Allah tapi mengapa seperti belum ada kemantapan dalam hatiku untuk melanjutkan proses ta’aruf dengan Rita. Sebenarnya kalau dilihat dari biodata yang aku terima, tidak ada satupun alasan untuk aku tidak menerima Rita. Awalnya ketika ustadz Sholihin memberikan biodata Rita padaku di rumah beliau dulu, aku sempat mengira barangkali ada yang kurang dari Rita sehingga Ustadz Sholihin memberikan nasihat panjang lebar kepadaku supaya aku lebih mempertimbangkan sisi agamanya. Tetapi ternyata setelah aku sampai rumah dan membuka biodata itu, subhanallah, seperti aku katakan tadi tidak ada alasan bagi siapapun laki-laki untuk tidak menerima Rita. Justru bisa jadi sebaliknya, dia yang mungkin tidak akan bersedia menerimaku. Wajahnya cantik, pakaian dan jilbabnya rapi, dia juga sudah bekerja sebagai guru di sekolah ternama di kota ini. Usianya satu tahun lebih muda dariku tapi dia lulus kuliah lebih cepat. Dia lulus tiga setengah tahun dan setelah itu langsung di terima mengajar di SMA almamaternya dulu karena kecerdasannya.
Meskipun belum sepenuhnya mantap, aku paksakan untuk meminta kepada ustadz Sholihin supaya beliau mempertemukanku dengan Rita. Aku merasa sudah terlalu lama tidak segera memberikan kepastian kepada ustadz Sholihin.

*****

Tiga pekan setelah proses ta'aruf, aku di minta untuk kerumah ustadz Sholihin. Beberapa kali bertemu dalam proses ta’aruf, Aku dan Rita merasa sudah bisa saling menerima satu dengan yang lain. Mungkin ada berita terbaru yang akan disampaikan ustadz Sholihin kepadaku

“Sebelumnya maaf Mad, aku harus menyampaikan pesan dari Rita. Bapaknya mensyaratkan supaya laki-laki yang akan menikahi anaknya haruslah seorang yang sudah punya pekerjaan yang mapan.” Ternyata malam ini ustadz Sholihin meminta aku ke rumah beliau karena ingin menyampaikan pesan dari Rita ini.

“Berarti bapaknya Rita tidak menerima lamaranku ya ustadz?” aku ingin coba memastikan apa yang aku dengar.

“Tenang saja, kamu harusnya bersyukur karena belum jadi melamar ke rumahnya. Rita baru menceritakan kepada bapaknya bahwa ada seorang laki-laki yang mau melamarnya. Setelah Rita menceritakan panjang lebar tentangmu, ternyata bapaknya belum bisa menerima karena kamu belum lulus dan belum mempunyai pekerjaan yang benar-benar mapan.” Ustadz Sholihin berhenti sejenak dan memintaku minum teh yang baru saja dihidangkan oleh istri beliau. Meskipun selera makan dan minumku hilang setelah mendengar cerita beliau tadi, tapi aku paksakan minum sedikit teh yang sudah dihadangkan untuk menghormati beliau. Beberapa saat setelah istri ustadz Sholihin masuk, beliau kemudian melanjutkan ceritanya.

“Rita bilang kepadaku kalau dia sudah berusaha untuk meyakinkan bapaknya bahwa sebentar lagi skripsimu akan selesai, dia juga sudah bilang kalau meskipun belum mapan tapi penghasilanmu saat ini sudah cukup untuk sekedar hidup berdua dengannya. Ibunya Rita sebenarnya juga tidak terlalu keberatan kalau kamu menikahi putrinya, tapi bapaknya tetap besikukuh supaya Rita menikah dengan seorang yang sudah mapan. Bapaknya akan lebih senang lagi kalau menantunya adalah seorang pegawai negeri. Wajar sajalah karena bapaknya Rita kan seorang pejabat di kantor pemda.”

“Terus bagaimana ustadz?” aku bingung mau bilang apa, hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulutku.

Ustadz Sholihin tersenyum kecil kemudian berkata lagi kepadaku,
“Ahmad…., Allah Lebih Tahu siapa yang pantas untuk menjadi istrimu dan siapa yang pantas untuk menjadi suami bagi Rita. Mungkin saja Rita memang belum jodohmu, kamu kan sudah sholat istikhoroh minta petunjuk yang terbaik kepada Allah. InsyaAllah ada wanita yang lebih baik yang telah disediakan Allah untukmu.”

“Apa saya menunggu setelah wisuda saja ya ustadz? Saya khawatir akan ditolak untuk kedua kalinya kalau mau melamar akhwat yang lain sebelum lulus.”

“Kamu ini kok malah jadi putus asa begitu. Allah tidak menyukai hamba-hambaNya yang berputus asa dari rahmatNya. Kamu kan bilang kalau kamu sudah siap lahir dan batin, kedua orangtuamu juga sudah mendukungmu. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah tetap ikhtiar dan berdoa kepada Allah supaya Allah mendekatkan jodohmu. Anggaplah semua kejadian yang telah kita alami ini pelajaran hidup yang berharga yang diberikan Allah untuk kita.”, ustadz Sholihin mencoba meyakinkanku.

“Baiklah ustadz, terima kasih atas semua nasihat ustadz. Saya mohon bimbingan terus dari ustadz.”

“InsyaAllah… Kamu sabar ya, semoga tidak lama lagi aku bisa memberikan biodata akhwat yang lain kepadamu.”