Followers

Saturday, June 27, 2009

Selamat Tinggal Bujangan

"diambil dari tulisan Ust, Hatta Syamsudin, Lc"

Mohon maaf, sekali lagi memprovokasi dan entah berapa kali lagi saya harus memprovokasi. Semoga cerpen yg saya tulis lima tahun yang lampau di Sudan ini bisa sedikit menggoyahkan pendirian para ikhwan. Agar setengah dien itu cepat terpenuhi, agar segala gundah dalam hari segera sirna. Agar kuat dakwah ini, jika ditopang dengan kader2 yang tangguh luar dalam ... selamat terprovokasi, dan selamat tinggal keraguan.

SELAMAT TINGGAL KERAGUAN


Rini Cahyani, nama yang telah menggetarkan seluruh persendianku. Delapan bulan yang lalu. Tepatnya setelah dua bulan dari kelulusanku dari jurusan Teknik Industri kampus UI Depok.
Nama itu muncul di bagian paling atas dua lembar kertas yang disodorkan Ustad Madani padaku. Sebuah nama yang masih asing bagiku. Namun justru itulah yang membuat jantung ini berdebar lebih cepat. Wajahkupun tak malu mengeluarkan rona merah-birunya. Aku penasaran ? Jelas !
Tetapi untunglah ustad dapat menangkap gelombang penasaran dalam raut mukaku. Setelah sempat terdengar batuk-batuk ringan, beliau mulai mengeluarkan suara khasnya.
" Gimana akhi, sudah antum baca semua biodatanya khan ..?"

Aku tak langsung menjawab. Semua butuh kehati-hatian. Setiap kalimat yang meluncur dari lisanku saat ini, dapat mengubah jalan hidupku di masa mendatang. Tetapi ustad Madani masih terus menebak-nebak alur pikiranku,
"Apakah beliau tidak memenuhi kriteria yang antum tuliskan ? "
" Bukan begitu ustad, tapi… ",. Sekali lagi aku harus berpikir keras.
" Toyyib, antum baca deh terlebih dahulu. Tapi jangan lupa teh dan gorengannya jangan dicuekin ya .. "
" Kalau yang itu… nggak usah ditawarin. Insya Allah kita habiskan Ustad…."

Ustad tersenyum renyah meninggalkan aku dalam bingung. Bukan sekedar bingung. Ada getaran aneh tapi agung dalam kebingunganku. Sementara dua lembar kertas di tanganku malah semakin angkuh. Mencoba menari-nari dalam hatiku.
Masalah tidak memenuhi kriteriaku ? Ah, sebenarnya itupun bukan sesuatu yang kaku bagiku. Namun bagaimanapun aku harus lebih teliti. Kubaca dengan cermat deretan kalimat-kalimat dibawah nama tersebut.

Nama… Rini Cahyani bin Soewandi …..
Soewandi ..? orang Jawa ? atau bahkan keturunan keraton Surakarta ?. Gimana kalo jadi nikah nanti, apa harus pakai adat jawa ? Ditonton ratusan orang di bangsal kencana ?. Memakai blangkon dan keris yang tersembunyi ? Wah ! Apa kata Dunia Islam nantinya ? Seribu satu pertanyaan yang kurang esensial mulai bersliweran mengganggu pikiranku. Aku beristighfar tiga kali. Nampaknya syaitan masih bersemangat untuk menunda-nunda azamku untuk menikah. Bisikannya yang bertabur keraguan itu harus segera kuenyahkan.
Bismillah. Mulai kubaca lagi deretan selanjutnya dengan lebih teliti. Tiap huruf, kata bahkan koma dan titik sangat menentukan !!.Semoga ustad lebih sabar menunggu.

Tempat Tanggal Lahir… Magelang, 23 Juni 1978..
Magelang ? Pasti suku Jawa. Aah.. bukan masalah besar. Toh aku tak pernah mencantumkan jenis suku pada daftar kriteria yang aku serahkan pada ustad. Apalagi orangtuaku paduan dinamis dari suku Melayu dan Bugis. Dan tak pernah kulihat ada pertikaian yang menyangkut SARA di rumahku.
Tapi bagaimana kalau ortunya Kejawen ? Hiii…bagaimana kalau diharuskan mandi kembang tiap malam jumat nanti. Brrr…dingin. Belum lagi nyuci keris dan seperangkat jimat tiap malam purnama ?. Wah, aqidah islamiyah dan dakwah bisa terancam nih. Apa kata Dunia Islam nanti ? Duh, pikiranku mulai ngelantur lagi.

Tapi tahun kelahiran ? 1978 ? Dua tahun lebih muda dariku. Ini berarti ada kesalahan. Apa mungkin ustad salah baca dengan permintaan tertulisku sepekan yang lalu ? atau beliau punya penafsiran lain ?. Kalau tidak salah, yang aku tuliskan dan inginkan adalah minimal seusia dengan ku, atau jika memungkinkan lebih tua sekian tahun dariku.
Ini bukan sok pahlawan sebagaimana sering dituduhkan beberapa ikhwah kepadaku. Ini masalah muyul akhi, begitu aku menjawab tuduhan tersebut. Selama ini aku cenderung mudah berinteraksi dengan orang-orang yang lebih dewasa dariku.

Tapi ini ? dua tahun lebih muda ? Bagaimana kalau masih kekanak-kanakan ? Bagaimana kalau ngajinya belum lurus ? Mengapa ustad memberi pilihan yang ini sih ?. Kembali si syaiton asyik membenamkan pikiranku di lumpur keraguan. Kenapa aku harus terpedaya lagi ? Tsiqoh pada ustad adalah pilihan terbaikku saat ini. Bisa jadi umurnya masih muda, tapi dewasa dalam memaknai hidup. Yah, semoga.
Kulanjutkan mencermati barisan kalimat selanjutnya di secarik kertas HVS tersebut,

Alamat …. Perumahan Perwira TNI AL Blok C 3 – Cilandak, Jakarta Selatan..
TNI AL dan Soewandi ? Putri seorang perwira militer ? Calon mertuaku seorang militer ? Apakah ia juga mendidik putrinya dengan gaya militeristik ?. Bagaimana kalau sang putri ternyata lebih militer dari orangtuanya ? Bagaimana kalau aku harus di uji dulu lewat adu fisik dengan salah seorang anak buahnya ? atau bahkan kakaknya barangkali ? Sebagaimana kisah-kisah pendekar yang pernah aku baca di komik-komik waktu kecil dulu.

Ah, tak perlu ragu. Ini Cuma bisikan setan. Sekarang bukan jaman purba yang mengandalkan otot dan kekerasan. Lagi pula, kalau memang diperlukan, minimal aku masih bisa bertahan dengan sisa-sisa kejayaan latihan thifan-ku di kampus dulu.

Ku menoleh sebentar ke arah ustad Madani yang duduk di depanku. Nampaknya ia cukup paham dengan apa yang ada dipikiranku. Ia hanya tersenyum kecil, mengangguk, sedikit berdehem dan kembali larut dalam konsep khotbah Jum'at yang harus dibawakannya di Masjid UNJ besok siang.
Aku pun kembali asyik menelaah deretan kalimat di secarik kertas, yang menurutku masih menyimpan berjuta misteri.

Pendidikan .. Lulus S 1 Fakultas Sejarah Universitas Gajah Mada tahun 2001..
Nah ! Ini sesuai dengan kriteria, non eksakta. Aku lulusan eksak, teknik Industri dan ia anak sosial, non eksakta, insya Allah matching dan cukup mewakili konsep tawazun, Amiin.

Organisasi …Humas BEM, Keputian LDK, Remas, Pengajar TPA dan bla…bla..bla...
Aktifis kelas berat ? Siapa takut. Bukankah masa lima tahun kuliah telah kuhabiskan di berbagai kegiatan-kegiatan kampus. Baik ekstra maupun intra kampus. Cara kerja, kuliah, belanja, dakwah dan pergaulan ala aktifis semua sudah 'mendarah daging' bagiku. So, kalau ketemu dengan aktifis yang satu ini, insya Allah tidak perlu susah beradaptasi. Semoga saja ya. Teriakku dalam hati.

Pekerjaan .. Guru Tetap di SLTP Islam Terpadu Nurul Fikri Mata Pelajaran Sejarah
Ya Allah .! Aku merasakan detak jantungku berjalan lebih cepat. Keringat dingin nampaknya akan menetes di dahiku. Wajahku tak ketinggalan ikut bereaksi. Tegang. Menambah keterkejutan yang melahirkan kegelisahan baruku.
Tepat pada waktunya ! Ustad Madani menoleh sejenak ke arahku. Dengan mudahnya ia bisa menangkap kegelisahan yang tersirat dari wajahku. Masih dengan tenang. sejuk dan senyuman khasnya, ia menegurku.

" Ada yang mengganjal akhi ?"
" Eeeng… ada.. Ustad, Anu… eee.. benarkah ukhti ini salah seorang pengajar di SLTP IT Nurul Fikri, Depok ? "
Ustad Madani membenarkan letak kacamatanya. Tanda rasa penasarannya mulai tergugah.
" Ya, betul. Ukhti Rini baru dua minggu yang lalu diangkat sebagai pengajar tetap di sana. Sebelumnya, sudah tiga bulan ia mengajar sebagai guru honorer."
" Tapi, ustad …. ", aku terhenti sejenak untuk mencoba lebih tenang.
" Ada yang antum risaukan dengan status gurunya itu ?. Bukankah itu pekerjaan yang sangat mulia akhi Fajar ? ".

Sebuah pertanyaan yang wajar dan benar. Tidak ada yang salah dengan status ukhti Rini sebagai pengajar. Tapi, pengajar di SLTPIT Nurul Fikri ? Mungkinkah ia dan keluarganya akan menerima pinanganku nantinya.

Ustad Madani mulai menyelidiki lebih dalam,
" Atau Akh Fajar masih ragu untuk menikah ? Ingat akhi, usia antum lebih dari cukup lho..!"
" Eh..bukan begitu Ustad. Masalah nikah kan sudah ana azamkan setahun yang lalu. Tapi masalahnya ukhti ini…. "

Ustad Madani tampak tersenyum dan memotong dengan pelan,
" Ukhti Rini insya Allah jauh lebih siap dari antum akhi. Ana tahu persis tetang dia. So, what's the problem ?"
" Ehm.. baiklah. Permasalahannya seperti ini Ustad, mungkin antum belum tahu. Awal bulan yang lalu perusahaan tempat ana bekerja bangkrut dan memecat semua karyawannya termasuk ana…"
Ustad kembali menebak-nebak apa yang ada di benakku,
" Jadi kembali ke masalah ma'isyah dan rizki nih … "
" Bukan itu ustad, untuk pernikahan ini insya Allah ana masih ada simpanan….tapi masalahnya .."
"Iya, Masalahnya ….."
Aku menarik nafas dalam-dalam. Bicara sama ustad Madani harus jelas. Jangan sampai beliau salah tafsir.
" Masalahnya Ustad…. , sudah satu minggu ini ana diterima bekerja di SLTP Nurul Fikri . Tepatnya,…eeng… sebagai petugas kebersihan sekolah …."
Ah.. akhirnya.. keluar juga kelu dalam lisanku.
Muka ustad Madani agak berubah. Kini beliau tahu permasalahanku sebenarnya. Yaitu….keenggananku sebagai seorang tukang sapu sekolah untuk bersanding dengan salah satu dewan gurunya.

***********
Muka pria setengah baya di depanku masih datar. Hanya sesekali asap rokoknya menambah ketegangan dalam jantungku. Kolonel Soewandi namanya. Yah, akhirnya aku datang juga di rumahnya. Berbekal iman dan takwa, begitu kata ustad Madani setengah jam yang lalu. Sebelum melepasku pergi untuk sebuah mission imposible ini. Baru kali ini aku meminang, putri solo, anak perwira militer lagi ! Ya Rabb !
" Jadi, Nak Fajar lulusan Teknik Industri UI tahun kemarin ya….wah.. hebat. Ya…Terus, sekarang kerja di mana …? Perusahaan Asing atau di BUMN semacam Pertamina, Telkom, PJKA… atau malahan di Bulog ? "
Perusahaan Asing ? BUMN ? .Gubraaaak ! Seolah kepalaku tertimpa dua batu bata yang di lempar dari arah berlawanan. Yang satu tepat mengenai wajahku, sementara sisanya tepat mengenai tengkorang belakangku. Uugh !
" Ah.. tidak juga Pak. Sebelumnya saya sempat kerja di perusahaan Farmasi. Tapi sekarang saya satu kantor dengan Rini, putri Bapak .. "
" Oooo….di mana itu… SLTP Nurul Fikri ya….bagus..bagus… cinta lokasi nih ceritanya ? ".
Pak Soewandi sedikit tersenyum menggoda. Bagiku malah tambah menyeramkan. Cinta lokasi ? Memangnya saya aktor. Dan sejak kapan putrinya main film ?. Nah, Pertanyaan selanjutnya bisa di tebak …..Bismillah. Aku akan menjawabnya..meski kemungkinan terburuk aku mungkin akan di usir. Innallaha ma'ana.
" Di sekolah, nak Fajar ngajar mata pelajaran apa ?. Kalau lihat latar belakang akademis, kalau Bapak nggak salah…pasti Matematika atau Fisika ya ..? "
" Eee… tidak juga Pak. Saya belum mengajar. Saya masih ditempatkan di bagian Umum, dibawah koordinasi bidang Tata Usaha……"
" Wah .. Bapak jadi bingung. Maksud nak Fajar jadi dewan Pengawas gitu…konkritnya gimana……. ? "
" Engg…Tepatnya….saya jadi petugas kebersihan sekolah Pak ! "
" Apaaaa ? Petugas kebersihan sekolah !!!!! "
Beberapa detik berlalu dengan cepat. Diam. Tak ada suara dan gerakan sedikitpun keluar dari sosok berwibawa di hadapanku. Hanya bola matanya yang terus menatap tajam ke arahku. Mungkin ada yang janggal di wajahku.

Diam dan bisu. Seolah kami telah bersepakat sebelumnya.
Terlambat, sudah kepalang basah. Sudah terlanjur aku melangkah. Tak mungkin aku melarikan diri saat ini. Bisa-bisa, satpam rumah akan membekukku dengan bangga. Atau kemungkinan lain, bisa jadi Kolonel Soewandi sudah siap dengan pistol Bareta-nya, dan dengan mudah ia akan melumpuhkan kedua kakiku, sebagaimana sering kulihat saat liputan kriminal penangkapan bandar narkoba di televisi.
Ngawur ! Kenapa aku masih suka ngelamun di saat-saat menentukan seperti ini ? Allahu akbar. Aku berseru dalam hati memohon kekuatan.. Apapun yang terjadi setelah ini, aku siap menerima kenyataan.

***************

“ Kaaak Fajaaaaar, hayoooo ngalamun dedee ya ? Kapan kita berangkat ke sekolah nih ? “
Astagfirullah ! Suara manja Rini, istriku, membangunanku dari lamunan yang menegangkan. Sementara tangan kananku masih setia dengan dua lembar kertas sumber lamunanku, beberapa menit yang lalu. Ah, terlambat ! Ketahuan ! Dua mata indah istriku menangkap cepat ke arah dua carik kertas di tangan ku.
“ Eh, lagi baca apaan Kak ? hayooo….biodata dedee pas taaruf yaa ? Ngakuuu ? Pasti tadi lagi ngalamun aku too. .Nggak papa kok, Istrimu ini pantes kok buat bahan ngalamun…”.
“ Adaaaaaw !!! “.
Kali ini aku kalah sigap. Cubitan mesranya tepat menghujam pipi kananku. Istriku terus menggodaku manja, sementara rona merah biru kembali melanda raut mukaku. Enam bulan paska walimah, suasana bulan madu tetap abadi di rumah ini.
“ Dee… kakak mau tanya serius nih, boleh ? “
“ Serius ??? ada apa kak ? boleh nooo… aku kan istrimu… mitsaqon gholidzo…inget lo kak .. “
“ Dee.. kalo boleh tahu, Bapak pernah cerita nggak sama dedee sebab beliau nerima kakak sebagai menantunya yang petugas kebersihan sekolah ? “
“ Ooo… itu too yang dilamunin tadi…? “
“ Dan tahu nggak ? Pas kakak bilang pekerjaan kakak tukang sapu… Bapak tuh sempat diam lamaa gitu… menatap tajam wajah kakak, sebelum akhirnya menyuruh kakak datang seminggu lagi… “
“ Lha iya jelas Kak, lha wong salah satu pertimbangan Bapak nerima kakak kan wajah kakak ? “
Bola mataku melebar. Ingin rasanya saat ini menyambar sebingkai cermin di ruang tengah, sekedar untuk meyakinkan hatiku tentang kebenaran ucapan istriku barusan.
“ Lho Kok ? Maksud dedee pasti Bapak yakin yaa kalo wajah kakak bisa memperbaiki keturunan keluarga Raden Soewandi ? “
“ Yeee…. GR banget nih Kakak ! Bukan itu maksudnya….Sebelum walimah, Bapak dulu pernah cerita ke dedee… Katanya, beliau nerima kakak tuh karena pas merhatiin wajah kakak kok kayaknya persis Letnan Mahmud, komandan peleton Bapak pas operasi integrasi Timor-Timur tahun 1975… Nah ceritanya.. Letnan Mahmud tuh yang nyelamatin Bapak dari berondongan peluru saat terjadi kontak peluru dengan milisi Freetilin yang brutal ! “
Kembali dua bola mataku melebar.
“ Wah…heroik banget ya, jadi ceritanya Bapak mengira saya anak Letnan Mahmud , trus mau balas jasa gitu yaa ? “
“ Bukan, Letnan Mahmud justru meninggal tertembak peluru musuh sesaat setelah menyelamatkan Bapak…. Mungkin Bapak agak tersentuh melihat wajah kakak yang persis Letnan Mahmud, dan ingin terus mengenangnya dengan menjadikan kakak sebagai menantunya .gitchuuu…..”
“ Oooooo… alah alaaaaaah…..Trus sekarang gimana ? “
“ He..he…Sekarang ? Bapak pernah bingung lho, dan bilang sama dedee…sekarang kok suamimu jadi nggak mirip sama Letnan Mahmud yaa ? “

Hem.. Aku tersenyum dalam ketenangan. Tidak salah dan tidak ragu lagi. Ini semua pertolongan Allah. Bahkan bukan saja saat diterimanya pinanganku oleh Kolonel Soewandi. Satu bulan setelah pernikahan, pihak sekolah mengangkatku jadi tenaga pengajar. Dan Alhamdulillah, sepekan yang lalu, aku resmi jadi guru tetap bidang Fisika di SLTPIT Nurul Fikri !.

Subhanallah, Walhamdulillah wa laa ila ha illa Allah !! Aku merenung lebih jauh atas segala yang kulalui saat proses menuju gerbang pernikahan. Jika seseorang telah berazam, dan meninggalkan segala keraguan, Allah pasti akan memudahkan !

Betapa tidak ? Bagaimana mungkin aku yang berambut lurus, berhidung standar pribumi, bisa serupa dengan Letnan Mahmud yang berambut cepak, dan keturunan Pakistan ? Subhanallah !
“ Kaaaak ! berangkat sekarang yuuk, udah jam setengah tujuh loo …”
"Iyyyaaaaa…!!!"

Sejurus kemudian, Istriku sudah sigap menodongkan kunci sepeda motor tepat ke arah keningku
. Dor !
Tiba-tiba wajahku memerah kembali. Ada yang mendarat telak di pipi kananku. Kali ini bukan cubitan.
( selesai)

Tuesday, June 02, 2009

FUTSAL pagi ini




Hari yang indah, setelah sholat subuh minum sedikit untuk kebutuhan ruhiyah jam 6 tepat berangkat ke stadion UNS. Temen2 dah pada nunggu disana untuk maen bola. Luar biasa memang temen2ku, untuk urusan riyadhoh selasa pagi ini memang bener2 tepat waktu, biasanya rapat saja pada ijin telat banyak alasan :D
Dengan komposisi 7 vs 7 ternyata agak kurang seimbang, padahal dikubu lawan ada akh septo & akh joko margono, akh yitno juga disana.... Tapi ternyata tim kita mendatangakan 3 pemain import, 2 dari teknik dan 1 dari FKIP. Eh disana juga ada satu pemain transfer ada akh Ikhsan Cinta-di, he...he..he.. pemain yang nilai diving 9 tapi nilai tekniknya 6 dah bagus lah :D
Sampai akhirnya jam 7, sang "kaka" harus turun lapangan setelah mencetak satu gol dan 2 asis.
Masalahnya jam 7.30 dah harus ganti profesi, paginya atlet siangan dikit harus magang di pabrik roti :(
tapi "no problemo" insyaAllah thats road to success....

Thursday, May 28, 2009

SELAMAT JALAN KAWAN.... LANJUTKAN PERJUANGAN....




Satu tahun amanah di JN UKMI UNS mendampingi ketua Umum (akh Arif), akhirnya tanpa terasa sudah berakhir. Banyak kenangan yang akan tidak mudah terlupakan. Pertama kali pelantikan dengan TIM PHT awal ada akh Adi Wardhana (Allahuyarham) sekarang tinggal sebuah senyum di album kenangan dan semoga saat ini beliau juga sedang tersenyum insyaAllah diantara mujahid-mujahid yang telah gugur dijalan perjuangan.

Perjalanan selama satu tahun, syuro-syuro mabit, syuro-syuro ba'da shubuh, keseriusan yang terkadang reda dengan sedikit canda, perjalanan ke SALAM UI, Up Grading bersama pengurus, Rapat Pimpinan di salah seorang rumah PHT, sampai MUSUM XX yang mengakhiri amanah periode 2008/2009..... semuanya akan menjadi sebuah bingkai album kenangan yang melekat dalam ingatan, memberikan semangat untuk terus berjuang karena sesungguhnya kita tidak sendirian.

Meskipun Allah telah menentukan jalan kita masing-masing, walaupun mungkin kita tidak lagi bersama-sama dalam satu medan perjuangan tapi semoga do'a-do'a kita akan selalu memberikan kekuatan kepada saudara-saudara kita, dan semoga Allah mengijinkan kita untuk bertemu kembali di sebuah tempat paling indah yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya bersama para pejuang-pejuang da'wah lainya........ Jannah-NYA...

Monday, May 25, 2009

Pacaran ala SMS...

Tulisan ini saya dapatkan sekitar 3 tahun yang lalu ketika masih awal berinteraksi dengan aktivitas dakwah. Walaupun sudah tulisan lama tapi sepertinya masih relevan dengan kondisi sekarang,semoga bisa memberi manfaat buat kita semua.

======================================>>

"ass. ukh, bngun, ambl air wdlu y. met shlt lail ukh. wss
met shlt dhuha ukh…
met shoum ukh.. taqabbllh.."

sekarang ni ada-ada aja yach…
kemajuan zaman yang semakin nggak bisa dimengerti. semakin banyak maksiat terselubung rapi dibalik kata “dakwah”.
dalam hal peningkatan kualitas diri antar sesama ikhwah kadang kala ditemukan dilema dalam hal hubungan non mahram. dilingkungan sich emang nggak pernah ketahuan jalan bareng antar non mahram, baik yang ikhwan maupun yang akhwat. tapi, dibalik jenggot dan tertutupnya jilbab lebar mereka, kadang juga terselip hal yang sebenarnya nggak disyariatkan dalam hal menjalin hubungan sesama ikhwah non mahram. berdalih tausyah atau sekedar sms pengganti “weker”, yang maksudnya cuma buat ngingetin biar bangun sholat malem, ato biar nggak lupa sholat dhuha. hehehehe….
hayo…., siapa yang pernah?
ehm, kalo difikir lagi bisa bikin ibadah yang dilakukan menjadi riya’ bukan lillah lagi.
nah lho…
ukhti yang tadinya lier2 masih ngantuk, berhubung yang bangunin seorang akhi, wa….
serasa habis disiram air…
kantuk langsung hilang and pasti langsung menuju kamar mandi, wudhu….!
bagus sich….
tapi yo nggak bagus… ( ??? )
nggak bagusnya yah, hati yang semula putih, terpercik oleh sms “weker“ jadi kotor dech…
jadi terkena virus… , kalo virus flu sich biasa. gampang nyari obatnya. ato kalo virus myheart di kompie sich bisa di scan dengan anti virus…
lha ini, virus merah jambu… alias pacaran..
ngobatinnya susah…
dalam dunia dakwah, sebenarnya kan nggak ada tuh, kamus pacaran? Walaupun pacaran islamy lho….

Emang sih, menjaga hati sulit banget. Malah ada lho, kaum jilbaber yang ternyata masih doyan ngenet. Chatting bo.., sama ikhwan… wah wah….
Tu,… kan….
Hape….hape….
Mending kamu nggak usah ada aja dech….

kembali ingin mencari...

Setelah sekian lama tidak pernah menyentuh BLOG ini, pengen malam ini aku mulai untuk menulis menuangkan harapan, kenangann & perasaan yang terkadang kuat memaksa untuk disampaikan.
Semoga Allah berkehendak memberikan kejernihan hati dan fikiran sehingga setiap tulisan dapat memberi kemanfaatan.
Semoga inilah jawaban dari lamanya pencarian untuk menemukan sesuatu yang hilang..

Thursday, December 18, 2008

Dokumen BIN tentang PKS, asli apa palsu ??

PENGENDALIAN STABILITAS PARPOL MENJELANG PEMILU 2009

As’ad Ali Said
Wakil Ketua Badan Inteligen Negara

Reformasi yang kini telah berjalan lebih dari 10 tahun dalam perjalanannya harus dikendalikan. Data terakhir semua partai peserta pemilu tahun 2009 umumnya telah mengalami gambaran yang kurang baik di mata konstituennya. Hal ini merupakan hasil kerja cukup efektif sebagaimana tergambarkan dalam media cetak yang pada akhirnya kredibilitas DPR menjadi semakin terpuruk. Namun apapun yang terjadi pada prinsipnya sepanjang masih dalam koridor NKRI hal itu merupakan proses perbaikan bagi bangsa Indonesia.

Dalam kegiatan ini menjadi kurang terlihat maksimal dikarenakan kondisi DPR masih belum bulat masih ada beberapa fraksi yang sangat sulit untuk dikendalikan. Berbagai kegiatan dan program yang dilaksanakan diharapkan dapat menjaring anggota legislative dari partai partai tersebut namun yang selalu lolos adalah anggota dari Partai Keadilan Sejahtera. Hal ini dibuktikan dengan belum adanya anggota yang dapat dijadikan terdakwa baik melalui KPK ataupun kejagung.

Keberadaan PKS harus menjadi perhatian bersama mengingat apabila partai ini membesar pada akhirnya akan sulit dilakukan pengendalian. Dan kemungkinan akan terjadi kasus ‘potong satu generasi’ sebagaimana yang selalu dilontarkan oleh jaringan merah. Laporan khususnya terkait dengan perkembangan partai Islam yang ada. Posisi PKS menjadi diuntungkan mendapat simpati masyarakat pemilih. Karena umumnya mesin politik yang sudah berada di kelurahan ataupun kecamatan dapat segera digerakkan dengan keberadaan jaringan kendali yang sudah terbentuk.

Partai Golkar merupakan partai besar dan masih belum dapat melakukan recovery secara maksimal terlebih sudah cukup banyak kadernya yang menjadi terdakwa dalam kasus korupsi yang ditangani KPK, sedemikian juga dengan PDIP yang mengalami nasib yang sama. Sedangkan untuk partai – partai Islam lain seperti PAN, PKB, PPP sudah dianggap melemah sebagaimana yang disampaikan oleh saudara Agung Laksono. Sedangkan PBR relative sudah dikuasai oleh kalangan muda kiri.

Partai democrat merupakan partai yang dianggap menjadi kuda hitam dikarenakan saat ini RI 1 kecil sekali meninggalkannya dan mencari dukungan dari partai lain. Terlebih saat ini sudah bermunculan adanya persaingan Calon Presiden dgn beberapa tokoh internal baik partai maupun calon independen. Kekuasaan partai Demokrat sedemikian kuat dalam hal kekeluargaan sebagaimana kita ketahui masih banyak proposal yang masuk lewat pintu belakang sehingga terjadi situasi mengarah ke sebagaimana yang terjadi pada orde baru.

Dalam membawa peningkatan suhu politik saat ini yang dapat dimanfaatkan adalah kondisi partai partai besar yang sedang berusaha melakukan perbaikan image/pencitraan dimata konstituennya berupa memberikan gambaran calon calon presiden yang akan diusungnya pada pilpres 2009 termasuk bermain main dengan perang urat syaraf terkait dengan koalisi yang kenyataannya merupakan hanya permainan dan isu belaka dalam rangka perbaikan image. Karena kekuatan yang riil yang di hitung adalah hasil pemilu legislatif.

Badan Inteligen Negara matanya Indonesia, mata yang tidak boleh berkedip. Kasus pembunuhan Munir terus kami dorong dan di lanjutkan dan di blow up sehingga fokus dan image masyarakat bahwa Badan Inteligen Negara (BIN) sudah melemah tetapi sebenarnya menjadi lebih kuat karena tidak adanya imunitas kelompok masyarakat atau parpol sehingga lebih mudah dalam mengatur ritme dan suasana kenegaraan yang terkendali, agar lebih optimal saudara Muchdipun dimunculkan termasuk dibuat adanya kaitan dengan kasus pembunuhan kalaupun diputuskan sidang nanti beliau bebas karena tidak terbukti. Hal ini dirasakan penting sebagai bentuk pengalihan perhatian masyarakat atas isu isu yang tidak menguntungkan.

Bagi Golkar dan PDIP akan selalu dikondisikan saling menyerang termasuk dengan isi kampanye yang secara jelas berseberangan, hal ini nampak jelas sebagaimana dalam kejadian Agus Condro yang berakibat di PAW nya Max Moein ataupun inisiatif dari Effendi Simbolan selaku ketua pansus orang hilang yang akan memanggil jenderal jenderal purnawirawan yang dikaitkan dengan kekerasan militer.

Sebagaimana diketahui PKS sebagai partai transnasional menyimpan agenda agenda Ikhwanul Muslimin yang mengarah kepada Syariat Islam dan Khilafah Islamiyah. Maka peningkatan intensitas pengendalian perlu dilakukan terhadap PKS, karena isu atau skema yang dimunculkan saat pilkada di daerah daerah relative tidak laku sebagaimana yang terjadi pada Pilgub Jawa Barat. Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Barat. Sebagaimana terlihat juga dalam Pilgub DKI Jakarta atau Pilgub Jawa Barat semua jurus dan cara cara konvensional sudah dikeluarkan sehingga harus dipersiapkan pengganti kegiatan tersebut.

Data data yang didapat diseluruh daerah. PKS adalah partai yang terus tumbuh dan selalu bergulir aktivitasnya sehingga perlu dikendalikan dan disiapkan simpul – simpul yang suatu saat dapat direkayasa dengan mudah dan diaktifkan sehingga dapat memperlambat atau memperkecil perolehan suara mereka pada Pemilu 2009. Secara natural partai ini adalah partai kader sehingga diperlukan effort yang sangat besar bila dilakukan serangan secara frontal. Secara de facto PKS adalah partai yang belum terpecah sehingga dianggap sebagai partai yang solid. Sehingga saat ini yang harus dilakukan adalah proses penggembosan da’I dalam PKS sendiri.

Mekanisme penggembosan bagi PKS yang digunakan mekanisme standar sebagaimana yang dilakukan juga pada partai partai lainnya seperti PPP dan PKB atau partai lainnya, yaitu dibuat/direkayasa adanya ketidakpuasan dari kalangan kader dibawahnya atas kebijakan pemimpinnya. Dengan kata lain dibuat rekayasa mekanisme system komunikasi yang tidak mengacu pada aturan AD/ART yang ada di PKS sebagai cara dalam menyampaikan ketidakpuasan. Cara ini sangat efektif karena semua ketidakpuasan yang kita rekayasa atau yang berasal dari ketidaktahuan atau ketidakmengertian kader, dapat terbentuk.

Dan terjadi ketidakpuasan tanpa adanya kesempatan klarifikasi dari stakeholder atas kejadian sehingga suasana terus memanas. Situasi ini perlu terus diarahkan dengan adanya safety relief valve berupa adanya organisasi/kelompok baru yang dapat menampung aspirasi kader kader tersebut namun dalam pelaksanaannya perlu dilihat dan dipelajari secara presisi ketepatan personil yang ditokohkan ataupun permasalahan permasalahan yang harus dimunculkan dan dilontarkan dalam timing yang tepat. Apabila suasana sudah tepat maka groups massa media cetak atau televise akan mengeksposenya sehingga dapat dikatakan tujuang akhir yaitu PKS pecah.

Karakter dan pola pembinaan memiliki kelemahan khususnya dalam hal perekrutan serta jarring informasi yang sangat lemah diantara mereka. Kelemahan ini berakibat menjadikan adanya kualitas kader yang berbeda beda yang pada gilirannya mereka akan pecah dan melemah dengan sendirinya serta kemampuan selektifitas informasi yang sangat lemah.

Hasil pendalaman dikalangan internal PKS diketahui bahwa secara umum saat ini masih banyak kader senior mereka yang tidak duduk dalam structur kepengurusan partai, bukan anggota legislatif, pengusaha lemah, ataupun orang – orang yang mempunyai ambisius untuk tampil dalam struktur partai. Situasi ini dapat dimanfaatkan sehingga potensi pengkhianatan dari dalam dapat tumbuh dengan jalan berkoalisi dengan partai – partai islam lainnya. Dikondisikan bahwa pengurus DPP PKS dapat berkoalisi dengan partai partai besar sedang pada anggota senior yang tidak puas dapat berkoalisi dengan partai partai kecil.

Secara naluriah PKS menciptakan kader kader yang memiliki karakter positif dan mudah percaya, sehingga dengan percepatan berita berita yang negative tentang struktur ataupun personil DPP melalui media cetak/website dan elektronik kita kendalikan untuk dapat mempercepat terjadinya ketidakpercayaan dengan struktur partainya.

Kita juga dapat memanfaatkan akses yang dimiliki untuk dapat selalu merawat hubungan dengan kader yang tidak puas atau tidak memiliki kefahaman sebagaimana kebijakan DPP sehingga selalu timbul ketidakpercayaan seluruh kalangan kader. Secara umum karakter yang dapat dikembangkan adalah selalu adanya romantisme pergerakan mereka di orde baru, sehingga menimbulkan persepsi bahwa kebijakan DPP saat ini mengkhianati garis perjuangan sebenarnya / keasliannya.

UU mendukung dan melindungi aktifitas PKSnamun harus tetap dijaga bahwa mereka tetap dapat tumbuh tetapi tidak membesar. Laporan dari unit-unit kecil dilapangan menunjukkan bahwa umumnya kader PKS masih berfikir konservatif/ sederhana atas aktifitas mereka sehingga mereka belum memahami situasi dan kerja dalam aktifitas partai politik namun loyalitasnya sangat tinggi, hal ini dapat dengan mudah kita kendalikan sepanjang dapat dimunculkan isu-isu atau diskusi –diskusi yang dapat memperlemah loyalitas, semangatjuang dan akhirnya PKS sebagai mesin politik tidak bergerak.

Pola operasi yang telah dilakukan adalah membentuk group-group atau unit-unit kerja yang secara halus dan rutin mendorong terjadinya kegiatan yang menimbulkan terjadinya kebencian dan kebingungan dikalangan kadernya satu sama lain.

Isu penggembosan yang sangat efektif bagi pemilih pemula dan pendukung PKS baru adalah isu keterkaitan sejarah, tokoh –tokoh NII dulu malah jadi qiyadah di PKS dul. Jamaah ikhwan didirikan oleh 4 orang : hilmi aminuddin( ketua ), salim segaf, ust. Baharmus, ust. Syakur (alm). Sebelum dibaiat menjadi anggota IM, mereka terlebih dahulu dibaiat menjadi anggota NII oleh HA. Jadi HA menciptakan IM ala Indonesia, bukan yang sesuai dengan IM mesir.

Tokoh sentral yang diusung adalah syamsul balda sebagai tokoh senior ex anggota DPR 1999-2004 dan wakilpresiden partai saat masih bernama partai keadilan yang sampai saat ini masih aktif.walau sudah dikeluarkan dari struktur / keanggotaan partai dan bergerak bukan dengan bendera PKS, masih banyak anggota / kader PKS yang menganggap syamssul balda sebagai ustad sehingga secara effektif dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda atas atas maksud dan kebijakan para pemimpin PKS, termasuk beberapa mantan anggota DPR Partai Keadilan seperti Mashadi, Zyrli Rosa Jamil serta Drg Jufri Jama’an yang dikenal dekat Darmasetiawan Bachir (Keluarga Sutrisno Bahir) sebagai komisaris utama di PT Binatama Ardhikaya dan Drg Jufri Jama’an sebagai presiden direkturnya yang menggandeng Ibsul Holdings Sdn Bhd. Drg ini juga terkenal senior dalam aktivitas keislaman sebagai tercatat dalam beberapa file dekat dengan tokoh tokoh senior Dewan Dakwah Islam Indonesia sejak masih aktif mahasiswa dn termasuk tokoh dibelakang lahirnya partai Keadilan. Begitu dekatnya tokoh ini dengan Darmasetiawan Bachir sehingga bersama – sama dalam organisasi Real Estate Indonesia sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Bid. Organisasi Hubungan Luar Negeri dan Sekretariat dengan PT Bangun Segara dan Darmasetiawan sebagai sekretaris Jenderal dengan PT Binatama Ardhikarya.

Tokoh tokoh ini sudah dapat dimanfaatkan untuk menggarap beberapa kelompok dalam internal PKS seperti Syamsul Balda yang menggarapa KAMMI sehingga dapat menjadi mandul serta menjadikan Vijaya Fitriyasa (Sekjen KAMMI Pusat 2000 – 2001) yang memilih bergabung ke PAN. Syamsul Balda juga sebagai ketua organisasi APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia) yang sekarang digunakan Prabowo Subianto sebagai salah satu kendaraan ormasnya dalam memberikan dukungan ke Partai GERINDRA. Serta sangat aktif dibelakang layar sebagai membina Dodi Suhendra (DOS) dalam pengelolaan PKSWATCH Blogspot dan Rakyat Pupu Blogspot yang disetting sebagai sumber informasi yang kita simpangkan dan diarahkan menjadi rujukan bagi para kader PKS yang sudah dapat dipengaruhi keberpihakannya.

Beberapa nama anggota DPR dari tokoh muda PKS yang masih aktif namun sudah diarahkan untuk melakukan perlawanan terhadap kebijakan DPP PKS seperti Mustapa Kamal, Mutamimul Ulla, Irwan Prayitno, Fahri Hamzah, Andi Rahmat dll.

Di kubu pengurus DPP PKS pun saat ini sedang di garap agar mereka terpancing dan membuat kebijakan yang pada akhirnya dapat dibuat keputusan keputusan yang dapat memecat atau mengeluarkan tokoh – tokoh senior yang di setting untuk selalu mengkritisi kebijakan DPP terkait bahwa dengan isu – isu bahwa PKS adalah partai Dakwah sedang kebijakan partai dan sikap sikap pengurus yang tidak sejalan dengan prinsip prinsip Perjuangan Partai khususnya para pengurus yang tidak sejalan dengan prinsip prinsip Perjuangan Partai khususnya para pengurus DPP, DPW, DPD, DPC serta DPRa sebagai unit terkecil ditingkat kelurahan. Dengan begitu hal ini secara otomatis juga akan melemahkan kerja kerja politik struktural PKS.

Untuk menimbulkan efek bola salju telah dimanfaatkan dua lembaga yang dipilih karena memiliki kader – kader senior yang sesukses kader lainnya dalam menjalankan roda organisasi yaitu pengurus masjid Al Hikmah Bangka Jakarta Selatan yang dianggap cikal bakal keberadaan PKS dari kelompok Al Hikmah yang pro aktif di motori oleh Habibullah Komarudin Lc, Alumnus LIPIA. Kegiatannya akan diarahkan untuk melakukan penyebaran penyebaran kejelekan DPP PKS berdasarkan nilai – nilai Al Quran dan Hadis dalam bentuk ceramah – ceramah yang ujungnya adalah mengajak Golput para kader PKS pada pemilu 2009. Untuk aspek ekonominya kesehariannya ditopang dengan kegiatan penjualan baju – baju muslim dipasar tanah abang dan sudah di set mendapat bantuan kredit dari city bank.

Sedangkan KORPS MUBALIGH KHAIRU UMMAH dipilih sebagai lembaga terlama di kalangan PKS yang dapat dimanfaatkan mengingat dari data yang ada terdiri dari tokoh – tokoh senior seperti :

Drs. H. Mukhlis Abdi : Tidak Puas Dengan DPP
H. Rosihan Anwar : Tidak Puas Dengan DPP
H.M Ihsan Tanjung : Tidak setuju dengan adanya Partai
KH. Rahmat Abdullah (Almarhum) : Mendukung sebagai MPP
KH. Ahmad Madani (Almarhum) : Mendukung dan aktif di DPP
KH. Abdi Hasib Hasan Lc : Tidak Puas dengan DPR
KH. Natsir Zein MA : Tidak puas dengan DPP
Drs. Abdi Sumaiti (Abu Ridha) : Tidak puas dengan DPP sebagai DPR
KH. Jazuli Juwaini : Mendukung sebagai anggota DPR
M.Ag H.Bali Pranawo : Tidak puas dan cukup aktif
Drs. H. Sa’aduddin : Pernah tidak puas & sebagai Bupati Bekasi
KH. Amang Syafrudin. Lc : Tidak puas dengan DPP
H. Sunmanjaya Rukmandis. SH : Tidak puas namun pasif. Mantan DPR
DR. Daud Rasyid. MA : Tidak puas dan konfrontatif terhadap DPR
KH. Ruslan Efendi dsb : Tidak puas dan konfrontatif

Meskipun sebagian dari yang tersebut diatas masih aktif sebagai anggota korps mubaligh Khairu Ummah. Masih ada lagi sejumlah muballigh yang kini aktif sebagai korps mubaligh khairu ummah. Antara lain : Drs. H. Ahmad Yani, H. Sukeri Abdillah, MBA. H Subki Al Buguri. S. Sos, Ir. H. Tiffatul Sembiring, H. Ferry Nur S.Si, H. Muhsin Sholeh. S.Sos, Muhendi Mukhtar, Birk(Hons). Drs. H. Agus Wahid Rahman, H. Muhammad Ridwan. Drs. H. Masdan Sutan Panis. Muhammad Haikal.S.Ag, H. Fathuddin Ja’far, MA, Ismeidas Makfiansyah. H Ahmad Rusli. Drs. Muhammad Nurman Khairudin. H. Muhammad Ihsan. dll.

Untuk daerah penyangga ibukota khususnya kabupaten bogor kegiatan kontra produktif yang diarahkan oleh Didin Hafiduddin sebagai mantan capres Partai Keadilan terlihat cukup berhasil sesuai target kita. hal ini dibuktikan dengan hasil suara yang dicapai hanya 10% bagi pasangan yang di usung PKS.

Kendaraan organisasi islam yang Non Partisan yang digunakan sebagai alternative pemilih atau bagi konstituen PKS yang masih memilih nilai – nilai Islam yang konservatif adalah HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Hal ini sangat efektif dan dapat jadi berkembang karena kita gunakan isu Khilafah Islamiyah Internasional berdiri di Indonesia khususnya di kampus – kampus. Walaupun isu ini sangat tidak mungkin dilakukan di era demokrasi bagi konstituen PKS tradisional dioptimalkan perekrutan dengan gerakan salafy yang terkesan lebih Islami dan tegas dalam melaksanakan ajaran Islam.

Link up yang kita gunakan adalah FUI ( Forum Umat Islam) yang sekarang kita jadikan dan ditokohkan serta dibangun opini sebagai kelompok terdepan dalam membela kepentingan umat Islam. Forum Umat Islam ini akan selalu dimunculkan dalam kegiatan kegiatan atau pernyataan sikap atas kejadian kejadian yang di buat menjadi headline di media masa.

Dikalangan akar rumput terlihat pertumbuhan yang sangat signifikan dalam tubuh HTI dan Salafy. Hal ini dapat diukur dengan kemampuan melakukan demonstrasi demonstrasi skala nasional serta tumbuhnya pengajian – pengajian di masjid – masjid sebagai upaya memotong akses PKS kepada masyarakat umum.

Dari kegiatan yang telah dirancang dan dilaksanakan sesuai jadwal yang disusun hasil evaluasi menunjukkan hasil yang cukup positif hal ini terlihat dari meningkatnya kekecewaan – kekecewaan di kalangan kader PKS ataupun berita simpatisan karena mereka tidak sempat melakukan klarifikasi atas berita berita yang dimunculkan.

Sedangkan dikalangan para senior yang bersebrangan dengan para pengurus DPP sudah menunjukkan intensitas dan rutinitas pertemuan serta ditargetkan mereka dapat segera di dorong sebagai motor – motor dalam terbentuknya perpecahan secara resmi dikepengurusan partai dalam bentuk PKS yang konservatif (garis keras) dan PKS moderat (kompromise).

Paralel program yang sedang berjalan kegiatan tim coklat densus 88 terus diaktifkan agar apabila target yang diharapkan gagal maka dapat link up dimunculkan keterlibatan Islam garis keras yang nota bene kalangan konservatif PKS dapat dijadikan target karena dibuatkan hubungan yang dekat dengan para tersangka lain baik yang sudah tertangkap ataupun mau DPO.

Saya selaku wakil ketua BIN yang salah satu….(maaf teks disini tidak bisa terbaca ketika file ini diketik ulang)membawahi kalangan partai – partai Islam berkewajiban melakukan ……(teks tidak terbaca) terhadap ancaman transnasional yang mengganggu NKRI. Harapan kami semoga hasil – hasil yang dicapai serta progress proyek yang dilakukan dapat didukung dan dibantu dalam tatanan operasionalnya sehingga target – target percapaian suara Partai Matahari Bangsa dapat tercapai. Materi ini juga disampaikan saat dilakukan peningkatan kemampuan kader muda Partai Damai Sejahtera.

nb : yang ngetik ulang http://thufailalghifari.multiply.com
Partai Keadilan VS Partai Keadilan Sejahtera
(di ambil dari : http://mdianapriyanto.wordpress.com/)

Teng, tong, teng, tong.. “Diberitahukan kepada penumpang kereta Argo Bromo jurusan Surabaya, agar menuju ke peron 3 karena kereta sebentar lagi akan memasuki stasiun”, suara pengumuman yang cukup keras itu membuyarkan lamunan saya. Saya sendiri bukan mau naik kereta itu tapi sedang menunggu kereta lain jurusan.

* * *

Saya kemarin mendapat imel dari seseorang yang mana dia mengirimkan kepada saya tentang 8 alasan mengapa memilih PKS. Mengapa delapan? Yah, mungkin terkait dengan nomor urut PKS yang memang bernomor 8.

Awalnya saya menganggap bahwa ini iklan politik. Saya coba baca isinya dan saya membenarkan isi dari imel itu. Memang 8 (walau terkesan dipaksakan) alasan itu menampilkan sisi-sisi kebaikan PKS, yang mana saat deklarasi pendiriannya dulu (saat itu masih bernama PK) di masjid Al-Azhar, saya berdua dengan kawan yang mensyut acara itu, lalu mengedit filmnya, saya tambahkan opening title di awalnya.

Saya ingat betul video itu diedit ‘masih kasar’ karena belum ada program editing yang mudah digunakan dan komputer juga belum sebagus sekarang. Jadi cara mengedit dengan menggunakan tape to tape, cara analog. Wah, pokoknya ribet asli deh.

Lagu pembukanya menggunakan soundtrack dari film Batman Returns (hehehe.. lagi-lagi Batman, yah) dan film itu diberikan narasi juga oleh kawan saya. Pun dalam video itu dibuat cerita bahwa, ‘bermula dari kesuksesan partai Refah di Turki, bla bla bla’ dan voila, jadilah sebuah video promosi. Video itu kemudian dikopi dan disebarkan ke seluruh Indonesia (kalau tidak salah begitu deh ya). Nah, itulah video pertama yang kami berdua kerjakan.

* * *

Kembali ke bumi setelah mengawang-awang bernostalgia.

Saya membayangkan diri saya sekarang ini sedang menunggu sebuah partai yang dulu pernah menjadi kereta dengan gerbong eksklusif (bukan eksekutif), dimana kereta itu bagus tampaknya dari luar dan nyaman saat di dalamnya.

Saya bayangkan juga sebuah kereta ekonomi, dimana semua orang bahkan kambing sekalipun duduk bareng bersama dalam satu gerbong. Para pedagang bersliweran menjajakan entah itu makanan, sampai kipas mini bertenaga batere. Maklum, hawanya lebih panas karena semuanya masuk berjubel.

Beda dengan kereta yang di awal, dimana isi penumpangnya sedikit dan kereta jauh lebih nyaman karena tidak ada pedagang yang masuk, kambing tidak ikut naik dan berpendingin udara, sehingga lebih sejuk.

Saya membandingkan antara PK dan PKS, maka saya mendapatkan kenyataan yang seperti itu. PK dulu adalah partai yang ‘eksklusif’ karena hanya orang-orang yang ikut ‘pengajian’, ikut tarbiyah, ikut halaqoh dan sebagainya yang lantas mereka menjadi pondasi massa, yang menjadi grass root bagi partai yang mulai saat dideklarasikan sampai sekarang ini masih tetap fenomenal dan kadang kontroversial.
Saat masih eksklusif

Saat itu sepertinya masa keemasan dan masa kejayaan bagi PK, karena pada waktu itu semuanya baik. Semua bahu membahu berjuang agar PK bisa menjadi partai yang ‘lain daripada yang lain’, dimana yang tampil adalah wajah-wajah muda nan segar yang menjadi pemimpin serta anggotanya.

Tampil orang-orang muda terpelajar yang cerdas, bersih, jujur, bisa dipercaya dan juga enak saat diajak bicara, karena bahasan mereka lugas dan mendalam. Tidak terkesan sebagai partai cemen yang berisi orang-orang cuma iseng bikin partai, karena kesempatan mendirikan partai saat itu dibuka lebar-lebar oleh pemerintah.

Tokoh-tokoh muda yang tampil selama ini memang sudah dikenal di kalangan mereka sebagai orang yang berpengetahuan luas, seorang ustadz yang biasa bicara masalah agama dan lancar bicara masalah politik. Bukan sekedar ustadz karbitan dan politikus oportunis, yang menggunakan pesona dan kharisma untuk menjaring massa. Bahkan kebanyakan dari mereka malah tidak dikenal oleh banyak orang dan hanya ‘untuk kalangan sendiri’.

PK pada saat itu tampil seolah ‘melawan arus’, melawan kebiasaan. Entah itu memang sekedar manuver politik, atau memang mereka menciptakan brand image tersendiri, menciptakan trendsetter yang lain daripada yang lain.

Hal itu seolah menjadi pedang bermata dua. Di sisi lain orang memuji ‘gerakan moral’ yang dilakukan oleh PK sementara di sisi lain tindakan ‘di luar manuver politik’ dimana PK dikenal sebagai ‘partainya anak muda militan’, yang suka membid’ahkan ‘ritual-ritual keagamaan’ seperti tahlilan, yasinan dan sebagainya. Cap miring pengikut ‘wahabi’, bukan Islam, bukan NU, bukan Muhammadiyah, pokoknya yang bukan-bukan, menjadikan PK bukan sebagai partai pilihan dan idaman.

Tapi, bukannya PK ditinggalkan, malah makin bertambah penggemarnya. Rupanya gerakan moral seperti para politisi PK tidak ada yang terlibat korupsi, perilaku kehidupan mereka yang jauh dari kesan glamour dan seperti mau menghabiskan uang rakyat. Bahkan dalam banyak kasus, kesan sederhana yang selalu ditonjolkan oleh beberapa orang teman saya yang sempat mengenyam bangku wakil rakyat, itu memang menjadi promosi efektif dalam membangun kepercayaan orang kepada mereka dan kepada partai.

Segala kesantunan para politisi PK yang selama ini tidak pernah tampil dari partai lain, seolah menjadi sebuah ukuran bahwa, ‘politik itu kotor, tapi bukan berarti politisi harus ikut menjadi kotor’. Mereka membawakan politik, partai, politisi seolah seperti saat mereka sedang berceramah, seperti mereka sedang mengkaji sebuah topik dalam pengajian. Dan itu semua menjadi daya tarik yang cukup besar bagi rakyat yang sudah muak dengan segala janji penuh tipu daya dan rayuan maut dari partai dan politisi yang mengatasnamakan rakyat tapi hidup makmur dari uang rakyat.
Menurunkan harga untuk menjaring penumpang

Setelah berjalan sekian lama, keadaan kehidupan perpartaian yang berfilosofi ‘tidak ada musuh abadi, tidak ada teman abadi, yang ada kepentingan pribadi’ mulai tampak ke permukaan dari PK yang telah berganti nama menjadi PKS.

Oh iya, mengapa diubah dari PK menjadi PKS? Karena sesuai peraturan yang waktu itu berlaku, PK tidak mencapai electoral threshold atau batas minimal partai bisa ikut pemilu (lagi). Karena terpaksa harus dibubarkan, maka sengaja PK dibubarkan dan kemudian para pengurusnya membuat lagi partai dengan nama yang sama dan ditambahkan kata ‘Sejahtera’ supaya tidak sama.

Logo pun diganti dengan yang lebih ‘manis’, lebih ‘manusiawi’ atau sesuai dengan kata ‘Sejahtera’, sehingga logo yang awalnya pedang membelah bulan (artinya harus adil dalam membagi) diganti menjadi ada simbol kesejahteraan, yaitu gambar padi di tengah-tengahnya. Jadi arti lambang itu ialah harus adil dalam membagi-bagi kesejahteraan.

Oke, lalu maksudnya dengan menurunkan harga itu apa? Ya, PKS mulai menjadi partai yang ‘tidak kaku’, lebih fleksibel, bisa menerima keberagaman, tidak cuma dari kalangan ikhwah, kalangan tarbiyah juga bukan cuma menerima koalisi dari partai ’seiman’ atau partai yang visi misinya melulu ‘Islam’.

PKS pelan-pelan mulai membangun kekuatan dengan menjalin koalisi dengan banyak partai lain, walau bukan sembarang partai dan tidak asal partai gurem. PKS mulai menampilkan citra yang lebih lunak, lebih membumi, lebih bergaul dan juga ‘bisa diterima oleh semua kalangan’.

Kompensasi yang harus diterima ialah, bahwa PKS yang dulu berasal dari sebuah partai eksklusif PK, dimana ibarat gerbong kereta eksklusif, maka isi penumpang cuma sedikit karena peminatnya dari kalangan terbatas. Gerbong itu sejuk dan bersih, karena isinya ‘orang’ semua. Semua itu membutuhkan biaya perawatan yang mahal dan karena penumpangnya sedikit, harganya menjadi mahal dan itu berakibat sulit terjangkau bagi orang-orang biasa.

PKS sekarang seperti menawarkan sebuah gerbong ekonomi. Dan karena harga yang murah, menyebabkan siapa saja pun bahkan kambing sekalipun boleh naik ke dalam gerbong. Belum lagi para pedagang yang berseliweran. Tapi apa yang didapat dengan ‘menurunkan harga’ seperti itu? Penumpangnya malah berjubel.

Apa artinya perumpamaan ini? Karena PKS kini menjadi partai yang terbuka, tidak eksklusif lagi, siapapun bisa naik ke dalam PKS bahkan seekor kambing pun..! Para oportunis yang ibarat pedagang yang mencoba mencari-cari peluang yang siapa tahu mereka bisa mendapatkan keuntungan dari ‘para penumpang’.
Apakah itu salah?

Nah, ini pertanyaan yang sulit dijawab sekaligus mudah dijawab.

Sulit, bila kita mengedepankan emosi dan rasa sentimen. Mudah, bila kita memang memahami hakikat suatu partai yang sejatinya partai itu harusnya bisa menampung segala aspirasi, segala lapisan, segala bentuk manusia, segala bentuk kehendak serta partai itu memang semestinya tidak menjadi milik satu golongan atau satu orang saja.

Yang namanya partai, dimana jumlah suara pemilih terbanyaklah yang menentukan partai itu menang apa tidak. Hal itulah yang sering menjadikan sebuah partai yang awalnya dibangun dengan idealis sekalipun, pada akhirnya harus tunduk pada kenyataan pasar. Ada permintaan maka ada penyediaan.

Memandang bahwa pemilih potensial hanyalah mereka yang berjenggot, yang ikhwah, yang ikut tarbiyah, maka itu adalah sebuah jalan pemikiran yang naif, menurut saya lho.

Memang, demi menjaring pemilih dari kalangan manapun, golongan manapun, maka mau tidak mau PKS harus menjadi partai terbuka seperti itu. Dan tindakan itu bagi saya masih sangat bisa dibenarkan. Asalkan tetap ada kendali, tetap ada pengarahan, ada rambu-rambu dan ‘para pengawas serta satpam’ juga tetap dengan tidak lelah-lelahnya untuk selalu mengarahkan PKS ini ‘ke jalan yang lurus’.

Siapa lagi mereka itu, kalau bukan para kader yang dengan senang hati, sukarela bukan paksarela, mau mengorbankan diri dan hartanya demi kelangsungan hidup partai yang sangat mereka dambakan dan banggakan.

Saya mengacungkan jempol, eh dua jempol, kepada mereka yang tetap dengan setia terus mengusung partai yang saya merasa ‘ikut-ikutan mendeklarasikannya’.
Lalu soal kelakuan para politisinya?

Marilah kita pisahkan antara partai dan politisi. Saya tahu bahwa seorang Anis Matta itu memang ’sudah kaya’ sebelum dia menjadi seseorang di PKS. Dari hasil dia bekerja, wajar saja bagi saya bila dia punya mobil mewah. Saya dengar bahwa beliau menyumbangkan mobil Avanza miliknya demi kepentingan dakwah Al-Manar. Bukankah itu sudah mencukupi dan kita anggap itu buah rasa syukur dia?

Eh.. eh.. kok saya jadi seperti membelanya ya? Apa ada ‘main-main’? Sumpah demi Allah, tidak ada. Kenal secara pribadi juga tidak. Saya tahu siapa dia, tapi dia tidak pernah kenal saya.

Ahmad Heryawan, yang dulu saya tahu bagaimana saat masih ikut liqo datang dengan segala kesederhanaannya, tapi sekarang coba lihat? Sudah jadi gubernur dia. Sudah biasa naik turun mobil. Sudah lupa sama teman satu liqo nih? Nggak..

Tapi, apa salah Anis Matta, kalau dia menjadi kaya? Apa salah Ahmad Heryawan menjadi seorang yang kaya? Apa harus selamanya sederhana seperti saat dia dulu masih liqo sama kita-kita? Hmm.. tidak juga menurut saya.

Saya sih belum pernah mendapat cerita bahwa kedua orang itu menjadi petantang petenteng mentang-mentang sudah jadi orang kaya, sudah jadi anggota legislatif, sudah punya kedudukan dan sebagainya.

Walaupun cerita miring tentang perilaku mereka yang ’sok kaya’ itu yang banyak terdengar, tapi itu bukan berarti mereka sejelek itu. Memang sih, mereka sudah jadi orang penting, tapi tidak pernah sedikitpun saya mendengar mereka korupsi, misalnya. Saya tidak pernah mendengar mereka menyalahgunakan jabatan mereka untuk ‘kegiatan memperkaya diri mereka’.
Penutup

Maaf, tulisan ini saya tutup sampai di sini. Maaf, bila saya sengaja mengesankan saya membela mereka. Maaf, bila ada yang merasa bahwa kini PKS sudah tidak ’seindah yang dulu’. Maaf bila maaf saya tidak berkenan bagi semua orang.

Saya hanya ingin menggugah semua orang yang membaca tulisan saya, bahwa memang PKS telah berubah menjadi partai yang sesuai dengan habitatnya sebagai sebuah partai.

Saya mendengar banyak sekali keluhan mereka yang tidak puas, yang kecewa, yang menghujat, yang ingin agar PKS kembali seperti dulu, partai yang berjalan sesuai dengan marhalah dakwah.

Untuk hal itu, saya cuma bisa bilang begini : kenapa tidak kita bikin satu jama’ah yang rapih? Yang bisa selalu tampil untuk menyerukan kebenaran dan meluruskan setiap penyimpangan?

PKS kini telah berubah menjadi majmu’ah (kumpulan orang) yang masing-masing berada dalam satu gerbong yang sudah tidak seeksklusif dulu.. Dan untuk hal itu saudaraku.. terimalah.. Dan tetaplah untuk menjadi petugas pengawas jalur agar PKS terus tetap berada ‘di jalur yang lurus’.

Insya Allah.. Aamiin.. Wallahu a’lam..

credit :

dari judul gerbong ekslusif PKS yang ditulis oleh H.N. Dewantara dari warnaislam.com

Friday, April 06, 2007

PILAR-PILAR DA'WAH

Da’wah sebuah keharusan yang harus dilaksanakan oleh setiap orang yang mengaku Islam. Tanpa da’wah, dipastikan Islam akan segera lenyap dari permukaan bumi ini Katakanlah (wahai Muhammad!):” Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mrngikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashiroh (hujjah/ ilmu)yang nyata. MahasuciAllah dan aku tidak termasuk orang-orang yang musryik”.(QS. Yusuf / 12:108)

Da’wah merupakan sebuah keharusan dan keniscayaan yang harus dilaksanakan oleh setiap orang yang mengaku beragama Islam. Tanpa da’wah dapat dipastikan bahwa Islam akan segera lenyap dari permukaan bumi ini. Sebab, hanya da’wah lah yang mampu mempertahankan eksistensi Islam hingga saat ini. Dalam mana kita dapat membayangkan, apa jadinya jika dunia sepi dari kegiatan da’wah? Sepi dari kegiatan transfer ilmu agama?, Pasti akan muncul sebuah generasi yang tidak mengenal aturan hidup (syari’at). Pada akhirnya akan muncul suatu kehidupan yang berantakan (chaose). Oleh karena itu, tidak berlebihan kiranya jika al-Qur’an menyebutkan bahwa da’wah merupakan jalan para Rosul Allah. Sejak Rosul pertama, Nuh ‘alaihis salam, sampai dengan rosul terakhir, Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Secara etimologi, da’wah berasal dari akar kata da’aa-yad’ua, yang mengandung arti mengajak, menyeru dan mengundang. Adapun secara terminologi, merupakan segala aktivitas yang dilakukan secara terorganisir, untuk mengajak seseorang atau lebih kepada jalan yang lurus (ash-shiroth al-mustaqim), mengeluarkan sesorang dari kesesatan menuju hidayah dan dari kegelapan menuju cahaya Islam, dengan menggunakan metode yang sistematis berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.
Dalam berda’wah, setidaknya ada sepiluh pilar yang harus diperhatikan oleh para da’i. Dalam mana sepuluh pilar ini merupakan hasil ijtihad seorang ulama dan mujahid Islam yang sangat populer, yaitu Hassan al-Banna. Selanjutnya, sepuluh pilar itu sudah banyak dijelaskan oleh banyak ulama dan cendekiawan muslim, seperti Sa’id Hawa dalam “Afaaq Risalah at-Ta’lim”, Dr. Abdullah al-Khatib dan Dr. Abdu Halim dalam “Nazharat fi Risalah Ta’lim” , Dr. Yusuf al-Qordowi dalam “Aulawiyat al-harokah al-Islamiyah” dan yang terakhir Rahmad Abdullah dalam bukunya “untukmu kader da’wah”. Adapun herarkis sepuluh pilar itu adalah.

Pertama, al-Fahmu. Yang dalam bahasa Indonesia berarti pemahaman. Artinya setiap da’I harus mampu memberikan pemahan yang benar kepada obyek da’wahnya tentang apa yang ia da’wahkan, dalam hal ini adalah Islam.

Kedua, al-ikhlas. Artinya seorang da’i harus melandasi seluruh aktivitas da’wahnya dengan totalitas keikhlasan kepada Allah SWT. Da’i tidak boleh mengharapkan dari aktivitas da’wahnya itu melainkan keridho’an Allah SWT, bukan yang lain. Sehingga orang-orang yang diajak pun mampu merasakan pancaran kesucian jiwanya. Dalam pada itu, mereka pun akhirnya akan percaya bahwa yang disampaikan oleh da’i itu merupakan kebenaran dari Allah SWT, sebelum pada akhirnya mereka pun akan mengikuti arahan dan pesan da’wah dari da’i tersebut. Bahkan tidak mustahil kelak mereka pun akan menjadi da’i-da’i baru yang akan meneruskan agenda da’wah muka bumi ini.

Ketiga, al-’Amal. Sangat ironis sekali jika seorang da’i mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu, namun ia sendiri tidak melakukan apa yang diucapkan. Disamping mendapat murka dari Allah SWT, orang lain pun akan meremehkannya dan tidak akan menggubris apa yang dikatakannya. Dalam pada itu, sangat besar kemungkinannya agenda da’wah akan terhambat. Dikarenakan ulah sebagian da’i yang tidak mampu memberi contoh yang baik (qudwah hasanah) bagi obyek da’wahnya.

Keempat, al-Jihad. Di dalam da’wah amal saja tidak cukup, melainkan diperlukan pula adanya kesungguhan dan usaha keras dari para da’i tersebut. Sehingga da’wah itu dapat berjalan secara efektif dan mampu mengajak lebih banyak objek da’wah. Tanpa kesungguhan, da’wah akan berjalan ala kadarnya, bahkan sangat dimungkinkan akan terjadi futur (patah semangat) dalam diri da’i itu. Mengingat da’wah bukanlah pekerjaan yang ringan. Sehingga kesungguhan merukapakan hal yang harus dimiliki oleh setiap da’i.

Kelima, at-Tadhiyah. Disamping kesungguhan, diperlukan pula adanya pengorbanan dari da’i, baik pengorbanan material maupun mental. Merupakan kebohongan besar, jika ada yang ingin mengambil jalan da’wah tanpa mau berkorban. Mengingat orientasi da’wah tidak lah sama dengan perdagangan, yang nota bene berorientasi pada keuntungan material. Maka dari itu, pengorbanan merupakan suatu keniscayaan bagi para da’i.

Keenam, ath-Tho’ah. Dalam berda’wah seorang da’i tidak boleh berjalan secera sendiri-sendiri. Melainkan harus secara berjama’ah. Oleh karena itu, mutlak diperlukan adanya kepatuhan dari setiap da’i terhadap keputusan jama’ah itu. Jika tidak, maka hampir dapat dipastikan bahwa da’wah tersebut akan kandas di tengah jalan, bahkan bisa jadi para da’I itu akan mengalami kesulitan dan rintangan dari musuh-musuh da’wah.

Ketujuh, ats-Tsabat. Disamping memiliki kepatuhan, seorang da’i dituntut untuk memiliki keteguhan hati. Sehingga sanggup melawan segala rintangan dan kesulitan yang ditemuinya dalam menjalankan tugas dan amanahnya dari da’wah tersebut.

Kedelapan, at-Tajarrud. Agar dapat menyampaikan da’wahnya dengan benar, maka seorang da’i juga harus memiliki paradigma berfikir yang benar dan terbebas dari pengaruh pemikiran-pemikiran non-islami. Dalam pada itu, ketika seorang da’i sudah tercemari paradigma berfikirnya, maka ada kemungkinan da’i, yang sedianya ingin menyelamatkan orang, malah menyesatkannya. Inilah makna dari At-Tajarrud itu.

Kesembilan, al-Uhkuwah. Ketika berda’wah,hampir dapat dipastikan bahwa da’i akan menemui pelbagai rintangan, sehingga bantuan dari da’i lain sangat diperlukan dalam rangka menyukseskan agenda da’wah. Dari itu, rasa persaudaraan, baik sesama da’i, maupun antara da’i dengan obyek da’wahnya, merupakan hal yang sangat krusial dalam da’wah. Sehingga ketika memerlukan bantuan ia dapat memanggil saudaranya.

Kesepuluh, ats-Tsiqoh (kepercayaan). Mustahil rasanya, seseorang mau mengikuti perkataan orang lain tanpa adanya kepercayaan orang tersebut kepadanya. Dari itu, kepercayaan merupakan hal yang harus dibangun oleh para da’i di hadapan para obyek da’wahnya. Dalam mana, ketika kepercayaan sudah ada maka para da’I, dapat dengan mudah mengarahkan obyek da’wahnya untuk mengikuti arahan dan pesan da’wah yang ia berikan padanya. Sebelum pada akhirnya, da’i tersebut juga dapat mempercayakan suatu perkara kepada kader da’wah yang muncul dari mereka, untuk meneruskan da’wahnya. Maka rasa saling mempercayai dari kedua belah pihak merupakan sebuah keniscayaan.

Itulah sepuluh pilar dalam da’wah. Dalam mana harus dipegang teguh oleh setiap da’i dan dilaksanakan menurut herarkinya. Dan mudah-mudahan, dengan melaksanakan itu semua, Allah SWT berkenan untuk menjadikan kita para da’i yang berkompeten dan meraih kesuksesan dalam berda’wah. Semoga.